
Pagi-pagi setelah sholat subuh Elvina langsung beranjak ke dapur membantu Ulfa menyiapkan sarapan. Meninggalkan suaminya yang kembali tarik selimut, dari pada habis-habisan digoda Ken mending dia kabur.
Elvina membantu Ulfa mengupas bawang, tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang. Melepaskan pisau di tangannya, kemudian menarik tubuhnya mundur.
"Abang, aku lagi bantuin Ummi, jangan diganggu!" Pekik Elvina sambil memukul tangan Ken.
"Ummi udah ada yang bantuin, lagian ada Kak Sya juga. Jadi kamu gak perlu ada di sini, aku yang lebih perlu kamu di kamar."
"Ummi, tolongin Nana." Teriak Elvina, Ulfa terkekeh dengan kelakuan putranya, tangannya menjewer telinga Ken. "Kamu ya suka banget gangguin menantu Ummi."
"Aduuh, sakit Ummi. Lepasin nanti telingaku putus gak ganteng lagi." Ken mengusap-usap telinganya yang terasa pedas setelah dijewer Ulfa. Satu tangannya masih memeluk Elvina.
"Abang, lepasin! Bantuin aku ngupasin bawang kek, jangan usil gini."
"Ogah, nanti bau." Ken menggendong Elvina ke kamar secara paksa. Membuat tangannya memerah karena mendapat cubitan bertubi-tubi dari sang istri tersayang.
Ken menghempaskan tubuh Elvina pelan ke tempat tidur sambil tertawa jahat.
"Abang, jangan nakal. Aku males mandi lagi." Ujar Elvina cemberut masam.
"Abang gak nakal, Cinta. Cuma mau ditemani di sini." Ken membaringkan tubuh di samping sang istri. Elvina bisa bernapas lega melihat suaminya tidak berulah.
"Paspor kamu sudah jadi, hari ini kita minta izin sama mama dan Om Er ya. Kalau dibolehin bisa cepat berangkat."
Ada nada kekhawatiran dari ucapan itu. Elvina memiringkan badan, menatap dalam netra Ken.
"Pasti boleh Abang, jangan khawatir. Apapun yang diputuskan Om Er nanti, itu tidak akan membuatku untuk berhenti berada di sisi kamu." Tangan Elvina terulur untuk mengusap pipi Ken.
"Makasih cintakuh. Aku gak mau pisah dari kamu. Satu tahun itu lama banget, mending berhenti kuliah dari pada harus ninggalin kamu."
"Aku serius, El." Tegas Ken seraya menarik Elvina dalam pelukan. Dia serius tidak bisa jauh-jauh dari kesayangannya ini.
"Siapa juga yang mau pisah, Abang. Aku mau ikut kemanapun kamu pergi," ujar Elvina serius.
"Masa sih, Abang mau ke kamar mandi. El ikut ya." Ken menyeringai jahil menggoda Elvina.
"Ih, kalau itu sih ogah. Aku mau ke dapur lagi bantuin Ummi." Elvina bergegas bangkit dari tempat tidur.
"Eiitzz, tidak bisa! Katanya mau punya baby, tapi kabur-kaburan terus." Ken menarik sang istri sampai terjatuh di atas tubuhnya. Alisnya naik turun menggoda Elvina.
"Gak tiga kali sehari juga, kayak minum obat." Elvina mendengus kesal, membuang wajahnya. Ken mengecup pipi itu berkali-kali sampai puas.
"Kalau gak senyum, aku gak berhenti cium nih."
"Abang, katanya tadi gak nakal."
"Abang gak nakal, Sayang." Ken berhenti mengusili istrinya, mengelus pipi yang memerah karena ulahnya itu dengan lembut. Dia tidak dapat menggambarkan perasaan bahagia saat ini bagaimana. Hanya Elvina yang bisa membuatnya sebahagia ini.
"Abang sayang El, sayang bangeet." Ken membenamkan wajahnya di ceruk leher Elvina. "El jangan tinggalin Abang ya, Cinta."
"Aku gak kemana-mana, Abang. Aku akan selalu ada di sini." Elvina meletakan telapak tangannya di dada Ken.
"Aku takut kamu pergi, aku takut kamu ninggalin aku. Aku takut saat bangun, kamu sudah gak ada di sampingku lagi." Lirih Ken dengan suara pelan.
"Aku masih di sini, Sayang. El-mu masih ada di sini," Elvina mengeratkan pelukannya.