EL & KEN

EL & KEN
140



Sampai rumah Elvina masih merengut masam, menghempaskan diri di sofa ruang tengah.


"Itu wajah kenapa ditekuk sampai kumel, kucel begitu." Tegur Adnan, mereka sampai di rumah hampir jam enam sore. Ken mengusap lengan Elvina yang masih marah padanya. Padahal bukan dia yang berbuat salah.


"Gara-gara penjaga toko minta abangnya. Jadi ngambek begini deh. Sayang jugakan sama si Abang." Jelas Ken sambil menggoda, Adnan terkekeh geli.


"Jadi cemburu, abangnya mau diambil orang? Tuker sama abang siomay aja gih sana suaminya, biar gak ada yang ngelirik." Ejek Adnan, bukannya menenangkan malah memancing emosi Elvina.


"Ogah, abang siomay tua!" Katanya judes.


"Kalau Abang Ken?" Adnan menaik turunkan alisnya menunggu jawaban.


"Nyebelin, aku milihin jam tangan gak mau. Giliran perempuan itu diambil, dasar genit." Omelnya lalu beranjak dari duduk masuk ke kamar sambil mencak-mencak.


"Eh, jadi salah aku!" Ken menunjuk dirinya sendiri tak percaya lalu menyusul sang istri. Adnan puas mentertawakan pasangan itu.


"Kenapa lo?" Tanya Erfan yang baru muncul, seharian sibuk di kantor sang papi. Dia lebih nyaman ada di keluarga ini daripada keluarganya sendiri.


"Kesayangan lo lagi ngambek sama suaminya." Jelas Adnan masih dengan tawanya.


"Ngambek sama Ken? Tumben."


"Entahlah," Adnan mengendikkan bahu. Dia bersyukur Ken sudah tidak dingin lagi pada Elvina.


Dalam kamarnya Elvina baru keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu. Pantas saja suasana hatinya sangat buruk hari ini sedang haid rupanya. Untung Ken tidak dalam mode galak juga, jadi mereka tidak sampai perang. Perempuan itu membaringkan tubuh di atas kasur.


"Kenapa El, ini mau maghrib jangan tiduran, Sayang. Kamu sakit?" Tanya Ken khawatir, membangunkan Elvina untuk duduk dan menyandarkan di kepala ranjang.


"Lagi gak mood," katanya seraya menyandarkan kepala di bahu Ken.


"Siap-siap sholat dulu, Sayang. Abang mau mandi sebentar. Nanti aja manja-manjanya ya." Ken mengusap rambut Elvina dengan sayang.


"Gak bisa sholat," lirih Elvina malas. Berbicara pun dia sedang malas. Bisakah dia berbicara dengan kata hati saja pada Ken.


"El tunggu di sini ya, nih peluk beruangnya buat menemani. Abang mandi dan sholat dulu." Ken memberikan beruang besar kepelukan istrinya. Setelah Elvina anteng baru dia beranjak ke kamar mandi.


Usai mandi Ken langsung bersiap ke mesjid bersama Abi dan Adnan. Setelah sholat isya mereka baru pulang.


Elvina membanting ponsel setelah menjawab telepon, bertepatan Ken masuk kamar.


"Sayang, hp-nya salah apa?" Ken mengambil ponsel yang di lempar Elvina, untung melemparnya pakai perasaan jadi ponselnya tidak retak, batin Ken. Istrinya benar-benar dalam mode senggol bacok.


"Ada orang gila nelpon," kesal Elvina dengan napas yang memburu, lalu menghambur kepelukan Ken.


"Siapa?" Tanya Ken penasaran sambil menenangkan istrinya.


"Deo," lirihnya.


Mau apa sebenarnya lelaki itu, tiba-tiba emosinya terpancing. Mendengar nama itu membuatnya ingin mengamuk. Ken menarik napas panjang agar tetap tenang. Dia tidak boleh melampiaskan amarahnya pada Elvina.


"Abang bikinkan cokelat ya." Ken melepaskan pelukan lalu mengacak rambut Elvina sebelum beranjak keluar kamar.


Huuhh, Ken menghembuskan napas dengan kasar. Membenamkan kepala di meja makan untuk meredakan emosi yang tiba-tiba datang.


"Kak Sya," panggil Ken dari dapur pada kakak iparnya.


"Kenapa Ken?" Attisya mendekati adik iparnya yang sedang terlihat kacau. "Bantu buatkan cokelat untuk El ya, aku istirahat sebentar di kamar tamu. Jangan biarkan El nyusul." Pesannya kemudian berlalu ke kamar tamu setelah istri Adnan itu menyetujui.


"Adikmu kenapa?" Tanya Nazar saat melihat Ken mengarah ke kamar tamu.


"Kumat lagi kayaknya Bi, biarin dia sendiri dulu. Beberapa hari ini Ken sudah lebih baik mengendalikan emosi."


"Coba lihat Nana di kamar Mi." Pinta Nazar pada istrinya, Ulfa mengangguk kemudian beranjak sesuai perintah sang suami. Dia juga khawatir dengan keadaan menantunya itu.