EL & KEN

EL & KEN
22



"Alhamdulillah, semua beres tepat waktu Bil. Besok kita bisa pulang." Ucap Elvina senang, cukup sudah penderitaannya selama tiga bulan di sini. Setelah pertengkaran dengan Ken, dia lebih memilih menghindari lelaki itu.


"Alhamdulillah, tugas kita sudah selesai Na."


"Bil, setelah ini selesai aku ke kamar duluan ya sekalian beres-beres."


"Apa yang aku bilang benarkan Ken, selama ini kamu yang mengganggu dia bekerja sehingga membuatnya selalu susah."


Adnan dan Ken terus mengawasi Elvina yang membereskan berkas-berkas di meja.


"Iya, caraku salah Kak." Jawab Ken dengan lemas.


"Kalau salah minta maaf langsung ke orangnya." Sindir Adnan.


"Gak sekarang Kak, nanti saja setelah kita pulang."


"Sudah salah masih saja gengsi. Jangan menyesal kalau nanti dia dinikahi orang," ucap Adnan dengan tegas.


"Kak, jangan bicara seperti itu. Aku tidak akan sanggup kehilangannya."


Bagaimana Ken bisa kehilangan Elvina, kalau gadis itu seperti energi yang selalu mengisi semangatnya.


...*** ...


"Selamat ya atas kerja keras kalian." Puji Nazar pada meeting pagi ini.


"Alhamdulillah, itu semua berkat kerja keras Nana dan Sabil, Pak." Ujar Adnan


"Apakah Ken di sana membantumu atau malah menyusahkanmu Na?" Goda Nazar, semua orang juga tau kalau mereka berdua tidak pernah akur.


Elvina tak bergeming, ingin sekali dia mengatakan kalau Ken hanya menyusahkannya saja, tidak pernah membuat pekerjaannya semakin mudah.


"Meeting hari ini kita tutup sampai di sini." Nazar mengakhiri meeting kemudian meninggalkan ruangan.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, masuk Na." Ujar Nazar setelah mendengar suara perempuan mengetuk pintu. Elvina duduk di depan lelaki paruh baya itu, memberikan surat pengunduran diri yang sudah pernah ditolak Ken.


"Paman, tolong kali ini terima surat resignku ya." Bujuk Elvina, berharap pamannya bisa mengerti. Dia sudah mengubah panggilan itu artinya Elvina sedang memohon.


"Nana, maaf Paman tidak bisa. Ini permintaan Papamu, agar kamu tetap bekerja di sini kecuali nanti kamu sudah menikah baru bisa berhenti."


Ken yang mau masuk ke ruangan Nazar berhenti di depan pintu mendengar suara Elvina ada di dalam.


"Aku sudah tidak bisa bekerja di sini Paman. Tolong kali ini saja mengerti denganku, aku tidak mungkin menunggu menikah baru bisa berhenti dari sini."


"Apa semua karena Ken?"


"Paman aku tidak bisa bekerja dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain. Paman tidak mungkin memecatnya 'kan jadi biarkan aku yang berhenti."


"Maaf Na, Paman tidak bisa Sayang. Paman tidak bisa melepaskan kalian berdua dari perusahaan ini." Jelas Nazar lembut.


"Nana Sayang Papa, Paman. Semua ini aku lakukan buatnya. Tapi aku tidak bisa terus di sini. Lelaki itu sangat kejam selalu menyakitiku dengan perkataannya."


Ken merasakan dadanya menjadi sesak setelah mendengarkan pembicaraan Elvina dengan sang ayah.


Karena tidak tahan mendengar ucapan Elvina yang mengadu pada abi, akhirnya Ken mendorong pintu dan masuk.


"Elvina, apa maksudmu, aku menyakiti perasaanmu dengan ucapanku?"


Elvina tidak mempedulikan ucapan lelaki yang sekarang berdiri di sampingnya. Hanya cari muka saja didepan pamannya.


Nazar beranjak untuk mengunci pintu agar tidak ada yang mendengar keribuatan yang terjadi. Kemudian kembali ke kursi, putra bungsunya ini sangat suka ribut dengan Elvina.