EL & KEN

EL & KEN
190



Setiap hari ada saja ulah Attisya yang membuat Elvina jengah. Masa dia tidak boleh dekat-dekat dengan suaminya sendiri. Istri Adnan itu bisa mengamuk kalau melihat Elvina manja pada Ken.


"Aku gak jadi makan!" Ujar Elvina kesal, lalu beranjak dari kursi. Attisya tersenyum manis, seperti tanpa dosa melihat Elvina merajuk.


"Sayang!" Ken menyusul istrinya, "kita cari sarapan nasi kuning, mau?"


"Iya," jawab Elvina diikuti anggukan.


"Mas, aku mau makan nasi kuning juga." Ucap Attisya manja, Adnan menghela napas lelah. Baru saja membuat keributan di meja makan, sekarang bikin ulah lagi.


"Ayo kita berangkat," ajak Adnan.


"Aku mau sama Ken." Rengeknya manja dengan mata berkaca-kaca.


Nazar dan Ulfa hanya bisa mengelus dada. Ken terpaksa mengurungkan niatnya berangkat berdua dengan Elvina.


"Aku gak mau Nana ikut," lanjut Attisya.


Elvina mengambil piring sarapan lalu membawa ke kamar. Terserah sajalah, dia lelah menghadapi istri Adnan itu. Mulai sekarang dia akan diam di kamar lagi, biar tidak ada keributan di rumah.


Lagi-lagi Ken terpaksa membiarkan istrinya sendirian. Dia menemani Attisya dan Adnan membeli nasi kuning. Nafsu makannya mendadak hilang.


Ulfa mendatangi menantunya ke kamar dengan membawakan segelas cokelat.


"Maafin Kak Sya ya Sayang. Ibu hamil memang suka aneh." Perempuan paruh baya itu mengusap kepala menantunya yang sedang sarapan sendirian. Dia khawatir dengan kesehatan Elvina.


"Iya," sahut Elvina. Sudah muak mendengar alasan itu. Karena Attisya sedang hamil jadi dia yang harus selalu mengalah. Istri Ken itu menikmati sarapan dengan tenang tanpa mengajak mertuanya bicara.


Ulfa hanya ingin melihat menantunya baik-baik saja. Dia takut terjadi sesuatu kalau ditinggalkan sendirian saat sedang kesal seperti ini.


"Mau makan lagi, Sayang." Ken mendatangi Elvina di kamar, Ulfa baru saja keluar dari kamarnya.


"Sudah kenyang," Elvina menyibukkan diri bermain iPad sambil rebahan di sofa.


"Aku capek, Bang." Keluh Elvina, Ken menegakkan tubuh istrinya lalu memeluk dari belakang.


"Bulan depan kita pergi ya, Sayang. Lusa kita urus paspor kamu." Putus Ken, lama dalam situasi seperti ini bisa mengganggu pikiran Elvina yang masih dalam tahap penyembuhan. Dia harus menjauhkan istrinya dari Attisya.


Elvina meletakkan iPad lalu membalas pelukan Ken. Ken tau dari dulu Elvina tidak pernah dijadikan nomor dua. Selalu dia yang dimenangkan. Keadaan sekarang pasti membuat istrinya ini sangat kesal.


"Kita berjemur sebentar, Sayang." Ajak Ken.


"Di taman aja, Abang jalan keluar duluan. Nanti Kak Sya pengen ikut juga kalau lihat aku jalan sama kamu." Usul Elvina, dia malu sama abi dan ummi kalau ribut dengan kakak iparnya setiap hari.


Ken mengangguk setuju kemudian beranjak lebih dulu menuju parkiran. Selang beberapa menit Elvina menyusul.


"Mau kemana?" Tanya Attisya jutek pada Elvina.


"Berjemur," sahut Elvina dingin.


"Ken mana?" Tanya Attisya lagi, Elvina mengendikkan bahu acuh lalu melanjutkan langkahnya.


"Sya, kamu kenapa suka ganggu Nana?" Tegur Adnan.


"Mas belain Nana?" Tanya Attisya sinis.


"Bukan Sayang, Mas gak mau kamu ganggu Nana. Biarin aja mereka mau kemana."


"Kenapa sih kalian semua selalu belain Nana?" Ujar Attisya kesal, yang masih bisa di dengar Elvina. Istri Ken itu menghela napas panjang sampai di parkiran.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Ken, langsung melajukan mobilnya setelah Elvina masuk. Dia tidak bisa membuang-buang waktu. Sebelum kakak iparnya melihat dan merengek minta ikut.


"Kak Sya ngambek kali sama Kak Adnan." Ujar Elvina tersenyum geli, dia tidak cemburu dengan kakak iparnya itu. Hanya kesal saja setiap hari harus dia yang mengalah. Padahal bukan dia yang cari masalah.


"Mau gimana lagi, mau gak mau kita dihadapi." Ujar Ken yang ikut menghela napas lelah. Elvina mengangguk, mau bagaimana lagi kalau ibu hamil itu sangat menyebalkan. Dia harus bersabar menghadapinya.