EL & KEN

EL & KEN
88



"Om, aku mau pindah ke kost dekat kantor aja ya. Biar belajar mandiri." Alasan Elvina agar diberikan izin, dia tidak nyaman merepotkan keluarga Dela yang terlalu baik. Satu lagi dia tidak enak dengan dokternya yang selalu memberikan kode itu.


"Yakin mau pindah Na. Om sih terserah kamu, tapi lebih senang kalau kamu tinggal di sini nemani Dela."


"Tinggal di sini aja, lo itu kenapa sih Na. Gak betah banget ya tinggal di rumah ini." Ketus Dela, dia tidak suka temannya itu selalu ngomongin mau pindah, pindah dan pindah.


Raga mencuri pandang sekilas ke arah gadis itu. "Oh ya Pah, Mah, aku malam ini tidur di rumah ya. Udah lama gak ditiduri, kasian gulingnya kangen sama yang punya." Ujarnya sambil terkekeh kecil. Mungkin Elvina tidak nyaman kalau ada dia di rumah ini.


"Abang juga kenapa ih, ngeselin banget." Dela memarahi abangnya yang mau ikut-ikutan pindah.


"Kenapa sih cemberut, mau tinggal sama Abang, hm." Raga merangkul adiknya yang cemberut masam.


"Sana pergi, jangan pulang lagi. Jangan dekat-dekat lagi." Usirnya, Raga menghela napas panjang. Adiknya ini gak tau, atau pura-pura gak tau sih kalau temannya itu tidak nyaman ada di rumah ini.


Elvina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa Raga mau keluar rumah biar dia tetap tinggal di sini.


"Ikut Abang sebentar." Raga menggendong adiknya seperti memikul sekarung beras.


"Abaaang, turunin Adel, ih." Teriak Dela memukul-mukul punggung sang abang. Tiga orang yang menyaksikan dari ruang tengah tertawa geli.


"Telinga Abang sakit kalau kamu teriak kayak pake toa gitu." Raga mendudukkan adiknya di sofa.


"Aku gak suka Abang ninggalin aku." Rengeknya manja, "aku gak punya teman berantem di rumah sepi."


"Manja begini gimana mau jadi istri orang, hm." Raga mengacak gemas rambut adiknya. "Kalo Abang gak di rumah, temanmu tetap tinggal di sini. Mungkin Nana gak enak ada Abang di rumah." Bicara dengan Dela itu harus pelan. Biar otak anak itu tidak merespon pura-pura oon karena malas menanggapi.


"Susah bicara sama anak kecil." Raga menghela napas panjang. "Abang mau pulang."


"Pulang kemana? Ini rumah Abang." Dela berdecak kesal.


"Pulang ke rumah istri." Jawab Raga sekenanya, berdebat dengan Dela hanya membuang waktu. Setelah mengambil kunci mobil, lelaki itu meninggalkan adiknya yang mengamuk di kamar.


"Mah, Pah, Adel ngamuk di kamar." Lapornya sambil tertawa geli, "aku pulang berangkat dulu, sekalian ada janji sama teman."


"Kamu itu kebiasaan, habis bikin adikmu ngamuk langsung kabur." Omel Galuh yang ditanggapi cengiran oleh si empunya.


"Ingat, pulang bawa istri," goda Lingga.


"Siyap delapan enam, Bos." Ucapnya sambil mengangkat tangan hormat. "Aku tinggal dulu, Na. Bye." Raga melambaikan tangannya pada Elvina, gadis itu menanggapi dengan anggukan dan tersenyum sekilas.


Cukup begitu sudah bisa membuat jantung Raga berdebar-debar. Efek kelamaan sendiri.


Lelaki itu tersenyum sambil mengemudikan mobilnya. Dia akan tetap membantu Elvina pulih, kecuali gadis itu sendiri yang memilih mencari psikiater yang lain.


Baru seminggu saja, hatinya sudah dibuat meronta-ronta oleh gadis yang baru dikenal itu. Sedikit tidak masuk akal memang, tapi nyata.


Raga memarkirkan mobilnya di sebuah hunian yang dia bangun tiga tahun yang lalu. Rumah yang jarang dia tinggali, hanya dijaga asisten rumah tangga. Banyak kenangan yang tersimpan dibalik rumah ini, lelaki itu tersenyum getir.