EL & KEN

EL & KEN
135



Ken mengantar Elvina sampai bertemu dengan Erina. Dia tidak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan istrinya.


"Kak Erin bisa bicara berdua?" Pinta Ken pada kakak iparnya. Erina mengernyit heran, hal serius apa yang ingin suami adiknya itu bicarakan.


"Boleh, ayo ikut aku keruangan."


"Sayang, Abang tinggal sebentar dulu ya mau diskusi sama Kak Erin." Izin Ken, setelah istrinya menyetujui suami Elvina itu mengikuti keruangan Erina.


"Ada hal serius apa sampai kamu mau bicara berdua denganku Ken?" Ujar Erina setelah mengajak Ken duduk di sofa.


"Aku ingin memastikan keselamatan istriku selama dia berada di butik ini, Kak. Atau aku bisa membuatnya tidak datang lagi ke sini."


Erina mengangkat kedua alisnya, menatap Ken serius. "Apa yang membuatmu sampai khawatir?"


"Kemaren El diikuti sejak pulang dari butik ini. Deo juga sudah berani terang-terangan ingin membuat El berpaling dariku."


"Kamu takut Nana berpaling darimu?" Erina terkekeh kecil.


"Bukan itu yang aku takutkan Kak, aku percaya di hatinya hanya ada aku. Aku hanya khawatir Deo bertindak di luar batas untuk merebut El-ku. Kalau kakak tidak bisa memastikan Deo tidak datang lagi ke sini, aku akan membawanya pulang." Ucap Ken tegas, tidak ada raut bercanda di sana.


"Kakak tidak berani kan? Aku akan membawanya pulang." Ken beranjak dari ruangan Erina setelah mengucapkan itu.


Erina bergeming di tempat, bagaimana dia bisa melarang Deo untuk datang ke butik ini.


Sembari menunggu suaminya Elvina menggoreskan styllus pen di layar iPad. Hanya corat-coret yang berhasil membuat satu desain. Dia mulai menyesuaikan gambar itu seperti pelajaran yang di dapatnya dari Erina. Agar memiliki ciri khas dari sebuah desain.


"Siapa lagi yang kamu bawa hari ini, aku pikir kamu benar-benar perempuan yang setia." Deo tersenyum smirk lalu duduk berdempetan dengan Elvina.


"Jangan bicara apapun kalau tidak tau apa-apa!" Tegas Elvina, dia paham yang Deo maksud. Pasti lelaki itu melihat Erfan menjemputnya kemaren dan sekarang Ken yang mengantarnya.


"Kenapa kamu sok jual mahal padaku, padahal aku bisa membayarmu lebih mahal dari mereka. Apa suamimu tidak tau?" Deo tersenyum mengejek.


"Lepaskan!" Teriak Elvina nyaring, Deo memeluk pinggangnya. Suasana butik itu masih sepi, hanya ada satu karyawan yang berjaga di luar. Itu pun tak berani berbuat apa-apa.


"Jangan munafik Sayang, aroma tubuhmu sangat wangi." Ucap Deo sambil menyeringai lebar.


Ken berjalan cepat saat mendengar suara teriakan istrinya. "Lepaskan istriku, bangs*t!" Ken menarik Elvina lalu melepaskan tinjuan di wajah Deo.


Erina berlari keluar dari ruangannya ketika mendengan suara teriakan.


"Apa yang kamu lalukan dengan adikku, dasar bajing*n!" Perempuan itu menghantamkan tasnya ke wajah Deo berkali-kali.


"Kamu yakin dia setia denganmu?" Deo tersenyum licik, "tadi saja dia sangat menikmati waktu aku sentuh."


"Jaga mulutmu Deo, semua tempat ini ada cctv. Kamu akan berurusan dengan papa. Akan aku pastikan itu." Geram Erina, Elvina sudah menangis ketakutan dipelukan Ken.


"Kalau tidak tau apapun jangan bicara sembarangan. Jadi benar kamu yang sudah mengikuti istriku kemaren." Ken tersenyum mengejek, "jangan harap kamu bisa mendapatkannya."


"Ken, bawa Nana istirahat di ruanganku dulu. Biar aku mengurus manusia kurang ajar ini." Ken mengangguk menuntun Elvina ke ruangan Erina.


"Aku pikir kamu terhormat Deo, ternyata bisa berbuat semenjijikkan ini. Dimana akal sehatmu." Desis Erina marah, dia sudah menghubungi papa dan orang tua Deo untuk datang.


"Perempuan sombong itu sudah berani menolakku!" Geram Deo tak terima.


"Dia sudah bersuami, bodoh. Tidak akan pernah tergoda denganmu."


"Kalau aku bisa membuatnya tergoda denganku bagaimana?" Deo tersenyum licik.


"Jangan harap kamu bisa menyentuh keponakanku, Deo!" Teriak Erland garang.