
Raga izin masuk ke kamar Ken sekaligus membawakan segelas cokelat yang belum sempat Elvina minum. Ken menyelimuti istrinya ketika lelaki itu masuk.
"Minum dulu cokelatnya, Sayang." Ujar Ken setelah menerima segelas cokelat dari Raga. Elvina bangun meminumnya sedikit, lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
"Obatnya rutin diminum?" Tanya Raga, Elvina sudah lebih tenang sekarang. Istri Ken itu hanya menganggukkan kepala.
"Kamu mirip boneka dashboard deh cuma bisa mengangguk." Canda Raga, perempuan itu hanya memanyunkan bibir cemberut.
Perlahan Elvina mau bicara lagi pada Raga, walau masih sering hanya menjawab dengan anggukan. Ken dengan sabar menemani istrinya tersayang.
Setiap akhir pekan Raga datang mengunjungi Elvina. Dokter itu hanya bisa mendampingi Elvina saat weekend. Karena senin sampai jum'at sibuk praktek di kliniknya.
"Masih suka taman ini, Sayang?"
Setelah mengantar Raga ke bandara, Ken mengajak Elvina jalan-jalan ke taman.
Istri Ken itu menghirup udara pagi dengan tenang lalu mengangguk sambil tersenyum. Ken mengelus sayang belakang kepala Elvina. "Kita bisa datang ke sini setiap hari kalau kamu mau?"
"Gak setiap hari juga kali Bang, kayak gak ada kerjaan aja." Elvina menyandarkan kepala di bahu Ken dengan nyaman.
"Abang sudah jadi pengangguran nih El, jadi gak ada kerjaan selain ngerjain kamu." ujar Ken sambil tertawa kecil.
Elvina mendelik. "Enak ya yang jadi pengangguran, uang sudah datang sendiri." Sindirnya diikuti kekehan.
"Kamu mau aku melihara tuyul, gak perlu kerja selamanya."
"Iya, biar kita bisa beli mall sekalian dan kamu gak ninggalin aku sendirian saat kerja." Ken menoleh pada istrinya lalu bertanya, "kamu kesepian aku tinggal kerja?"
Elvina cepat mengangguk, "banget."
"Kalau Abang gak kerja, kita mau makan apa?" Ken melingkarkan tangannya di pinggang Elvina. Selama dua bulan setelah menikah memang istrinya ini membantu Erina di butik jadi tidak kesepian kalau dia bekerja. Tapi sekarang harus duduk manis menunggunya pulang.
"Tetap makan nasi Abang, masa berubah makan rumput. Ntar jadi mbek."
"Nanti dikira gila kalo kebanyakan ketawa." Ujar Elvina seraya menggembungkan pipi.
"Ketawanya di depan aku aja, Zeeyeng."
"Geli ih dipanggil gitu. Zeeyeng." Perempuan itu menirukan ucapan Ken sambil mencebikkan bibir. Sang suami malah terkekeh geli melihat ekspresi Elvina.
"Maunya dipanggil apa? Papa mama atau ayah bunda," ujar Ken menggoda.
"Iih, tambah pengen muntah dengernya kayak anak SD yang baru pacaran aja panggilannya mamah papah."
"Kalau gini pengen muntah gak, Sayang?" Ken mendusel-dusel leher Elvina sampai si empunya bergidik karena geli.
"Kita dilihatin orang, Abang. Kalo dikira mesum gimana?"
"Emang ada yang larang suami istri ciuman."
"Ya gak ada sih, siapa juga yang ngelarang suami istri ciuman. Cuman tau diri sedikit ini tempat umum. Sayooong." Ujar Elvina gemas, mencubit kedua pipi Ken.
"Biarin aja, Zeeyeng." Ken balas mencubit hidung Elvina, setelahnya mereka tertawa bersama.
"Aku cinta kamu," ujar Ken di tengah tawanya. "Cintaa banget," lanjutnya serius.
"Kenapa jadi bucin sih, malu ih kalo ada yang lihat." Ujar Elvina pada sang suami yang tidak mau berhenti menciumi pipinya.
"Bodo amat, anggap aja taman ini milik kita berdua." Jawab Ken asal.
"Ini nih bucin lupa umur," Elvina berdecak kesal. Untung bukan hari libur jadi taman sepi. Lagian Ken gak kasian apa sama nasib pipinya yang pasti sudah memerah karena diunyel-unyel.
"Emang bilang cinta ada usia maksimalnya, Zeeyeng." Sekali lagi Ken mengecup basah pipi Elvina sampai si empunya mendengus kesal.
"Iya, nanti aku suruh presiden bikin peraturannya." Sahut Elvina ngawur, Ken tidak berhenti tersenyum melihat perubahan Elvina yang sudah lebih terbuka lagi.