EL & KEN

EL & KEN
108



"Kenapa suka sekali bikin orang khawatir, hm? Emang tangannya jadi lebih keren kalau dibikin tato dari darah gitu."


Gadis itu terlihat tidak terpengaruh, masih sibuk menelan nasi yang disuapkan Raga. Setelahnya dia tertawa cekikikan. "Kamu kalau marah-marah gitu tambah genteng."


"Aku emang udah ganteng biar gak kamu puji." Ucap lelaki itu gemas. "Ken ngapain kamu lagi?" tanyanya lembut.


"Nggak ngapa-ngapain," bohong Elvina.


Erfan menghela napas panjang, tanpa diceritakan pun dia akan tau penyebab Elvina ingin bunuh diri. "Boneka baru?" Tanyanya mengalihkan pembahasan.


"Iya, beruang aku diambil Ken." Adunya sendu, nah tuhkan, apa Erfan bilang. Gadisnya itu pasti terluka karena barang kesayangannya diambil paksa. "Kalungku juga."


Bukan masalah kalungnya, Erfan bisa memberikan kalung yang lebih mahal dari itu. Bukan nilai uangnya yang membuat spesial. Tapi si pemberi yang sangat spesial di hati gadis itu.


"Nanti aku bujuk Ken ngembaliin barang-barang itu ya. Lanjut makannya dulu."


"Dia bilang, aku gak boleh nyimpan barang-barangnya lagi." Erfan menarik lembut kepala gadis itu dalam pelukannya.


Secinta itu Elvina pada Ken, tapi takdir selalu mengajak mereka main-main. "Kamu kuat ya, aku temenin kamu berjuang di sini. Jangan berpikir untuk bunuh diri lagi. Aku sakit liat kamu kayak gini, Na."


"Kenapa kamu gak bilang kalau Fany adikmu, kenapa kamu gak ngasih tau aku kalau dia gak suka kamu dekat denganku. Apa aku semurahan itu merebut kalian dari orang-orang yang kalian sayangi. Kak Sya, Fany, Aish. Aku gak pernah berpikir merebut kalian dari mereka. Kenapa sih kalian harus mencintai aku. Aku gak sebodoh itu, aku tau kalau kalian mencintaiku. Kenapa harus aku dari sekian banyak perempuan di bumi ini. Kenapa kalian membuat aku terjebak seperti ini."


"Maaf kalau cinta kami menyakitimu Na." Erfan menangkup kedua pipi Elvina lalu menatapnya lekat, suara kesakitan itu sangat menusuk telinga Erfan.


"Maaf kalau keegoisan kami yang ingin melihatmu bahagia ini malah membuatmu teluka. Maaf karena aku, kamu harus kehilangan mahkota yang sangat berharga itu. Maafin aku." Ucap Erfan dengan mata berkaca-kaca. "Maaf karena cinta ini hampir membunuhmu."


"Sarapannya belum selesai." Erfan menyeka air mata di pipi gadisnya itu. "Lanjut makan gih, biar cepat sehat." Gadis itu mengangguk.


"Capekkan belum selesai makan sudah nangis lagi." Raga bersabar menyuapi gadis itu, juga menahan napas saat drama beberapa menit yang lalu. Dia tidak tau persis apa yang mereka bicarakan, susunan puzzlenya berantakan. Semua terdengar begitu rumit.


"Assalamualaikum, eh ada anak-anak ganteng." Sapa Inara, perempuan paruh baya itu mendekati keponakannya. Tiga orang yang ada di sana menjawab salam bersamaan. "Om sama mama kamu mana, Na?"


"Mama tadi pulang sebentar Tante, kalau Om gak tau kemana, mungkin ngopi di kantin."


"Sarapannya enak?" Dengan cepat Elvina menggeleng, sontak Inara terkekeh.


"Tante bawain kamu sarapan, kalian juga sarapan. Biar gantian saya yang nyuapin Nana." Inara mengambil alih tugas Raga, dua orang lelaki itu hanya bisa menurut membawa makanan ke sofa.


"Dari dua itu yang mana nih, yang bikin kamu deg-deg ser?" Tanya Inara dengan menggoda sembari menyuapi keponakannya. Gadis itu makan sangat pelan.


"Gak ada dua-duanya." Jawab Elvina santai ditambah cengiran.


"Duh sayang banget dong, ganteng-ganteng dianggurin gitu."


"Yah mau gimana lagi, kalau gak bisa bikin hati berdebar-debar, Tante."


"Tante jadi penasaran sama pangeran tampan yang bisa bikin kamu berdebar-debar, gimana sih bentukannya."


"Udah gak ada kok Tante, dia gak ingat sama aku. Lebih tepatnya menolak untuk ingat." Jawabnya sambil tersenyum, sakit sih sakit. Tapi ya mau gimana, Elvina harus kuat menerima kenyataan ini.


"Terimakasih sudah menjadi gadis yang kuat ya Sayang. Maaf kalau kami kurang perhatiin kamu." Inara mengusap lembut kepala Elvina dengan penuh kasih sayang. Sungguh gadis di depannya ini sangat kuat, walau hatinya mungkin sudah hancur berkeping-keping tapi tetap tersenyum.


"Ini kalau bukan perhatian, apa namanya?" Godanya pada Inara, dia tidak tau kenapa setiap orang yang datang suka sekali membuatnya terharu. Padahal Elvina sudah berusaha kuat untuk bisa tersenyum.


"Ini nyuapin kamu," jawab Inara tak mau kalah dari sang keponakan. Dua perempuan wanita berbeda usia itu akhirnya tertawa bersama.