EL & KEN

EL & KEN
32



"Cutinya kelamaan sih, Ngapain Ken ikut juga Kak?" Tanya Elvina polos, kenapa juga Ken harus ikut kemana Adnan pergi.


"Kan sore tadi sudah bilang mau ajak Abi ketemu kamu El?" Jawab Ken seraya tersenyum.


"Lalu mana Abinya Ken, kenapa gak disuruh masuk?" tanya Elvina, matanya mencari-cari ke arah luar.


Ulfa, Nazar dan Kila tertawa melihat tingkah Elvina yang kebingungan.


"Nana, jadi kamu belum tau ya?" Tanya Kila polos seolah tidak tau apa-apa.


"Tau apa Ma?" Ucap Elvina tambah bingung.


"Adnan dan Ken anak Ummi Ulfa dan Abi Nazar, Sayang." Jelas Kila, Elvina menggeleng pelan.


"Astaghfirullah Paman," Elvina terperanjat dan langsung marah karena merasa tertipu. "Kenapa tidak pernah bercerita selama ini. Paman melakukan semua ini agar aku menikah dengan anak Pamankan?" Ujar Elvina menatap tajam Nazar.


"Ya Allah Paman, kenapa melakukan semua ini?" Semua yang ada di ruangan tidak menyangka Elvina akan histeris saat mengetahui kebenarannya.


"Na, tidak boleh bicara seperti itu." Kila berdiri memeluk Elvina yang masih berdiri dihadapan Ken dan Adnan.


"Ma, selama ini Ken selalu menghinaku, menyakitiku, tapi Paman diam Ma. Paman membiarkan Ken menyakitiku Ma, malah menjebakku agar terus bertemu Ken."


"Berkali-kali aku memohon untuk berhenti tapi Paman tidak pernah menuruti kemauanku Ma." Kesal, Elvina menangis dalam pelukan Kila.


Ken tak bergeming, ucapan Elvina sungguh menusuk tepat di jantungnya. Sesakit itukah rasanya dibohongi.


"Nana, bukan seperti itu Sayang. Paman tidak bermaksud menjebakmu. Paman bisa jelaskan semuanya, Sayang." Nazar beranjak dari sofa mendekati Elvina.


"Paman mengirim aku tiga bulan ke Medan agar aku bisa dekat dengannya 'kan?" Elvina menunjuk ke arah Ken dengan tatapan tajam.


"Tapi apa Paman tau, dia setiap hari menyakiti perasaanku. Dia kejam Ma, hanya dia orang yang selalu berbicara kasar padaku."


"Na, tenang Sayang, tenang. Maafin anak Ummi ya." Ulfa memeluk Elvina yang masih menangis. "Ken tidak bermaksud menyakitimu."


"Nana bukankah kamu bilang Ken sudah berubah Sayang," bujuk Kila menenangkan putrinya.


"Mereka semua menjebakku Ma!" Teriak Elvina dengan suara bergetar.


"Nana bukan begitu Sayang. Dengerin Mama ya, Sayang. Papa akan sedih kalau melihat kamu marah dengan Paman seperti ini." Elvina melepaskan tubuhnya dari pelukan Ulfa.


"Kalian semua selama ini memperdayaku, karena aku sangat menyayangi Papa. Seolah segala kesalahanku akan menyakiti Papa. Paman memaksaku dengan alasan Papa akan sedih, sekarang Mama juga begitu," sarkas Elvina.


"Lalu siapa orang yang aku punya sekarang Ma? Siaapaa?" Elvina berteriak histeris penuh kemarahan.


Tidak tahan melihat Elvina yang menangis histeris, Ken meninggalkan ruang tamu. Dia tidak menyangka akhirnya akan jadi seperti ini.


"Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu sedikitpun El, tapi kamu malah sangat terluka karena cintaku ini."


"Selama ini cintaku tak pernah mati untukmu. Tapi aku tidak tau setelah ini, mungkin aku akan berhenti mencintaimu. Karena tidak ingin menyakitimu lagi." Lirih Ken, hatinya terlampau sakit sekarang melihat Elvina seperti itu karenanya.


"Na kita ke taman yuk main ayunan." Adnan membujuk Elvina yang terus menangis histeris.


"Enggak, kalian sama saja menyembunyikan kedok Ken dariku."


Elvina berlari ke kamar meninggalkan semua yang ada di ruangan. Nazar meninggalkan ruang tamu mencari putranya.


"Boleh aku masuk ke kamar Nana, Ma?" Pinta Adnan.


"Masuk aja Nan, ambil kunci di dalam lemari dekat tv. Kebiasaan Nana mengunci pintu dan mencabutnya." Ujar Kila membiarkan Adnan menenangkan Elvina.