
Menggunakan taksi online Elvina mendatangi klinik dr. Raga Arganda, Dela ingin mengantarnya tapi dia menolak. Masih malu kalau ketahuan mendatangi seorang psikolog. Kalau ditanya lagi baru nanti dia jujur.
"Bismillah." Elvina meyakinkan hati masuk ke sana. Sudah sering Kila membujuknya untuk ke psikiater. Tapi dia terus menolak. Setelah ke resepsionis, Elvina menunggu namanya dipanggil.
Di sini Elvina sekarang, duduk di depan lelaki yang ia temui beberapa waktu lalu. Kena apes apa dia sampai harus menjadi pasien lelaki itu.
"Halo Nona, kita bertemu lagi. Jodoh memang gak kemana. Jalan pertemuan akan selalu terbuka lebar untuk mereka yang ditakdirkan bersama." Sapa lelaki yang bernama lengkap Raga Arganda dengan tersenyum manis. Sialnya orang itu dokter yang menangani Elvina sekarang.
"Nona Elvina Mufida Ilman?" Elvina mengangguk, "nama yang cantik seperti orangnya." Raga terus mengamati perubahan ekspresi gadis yang duduk di depannya. Tapi tidak ada selain wajah datar.
"Apa yang bisa saya bantu Nona?" Ucap Raga serius, "apa yang Nona rasakan?"
Elvina bergeming, sepertinya salah tempat. Dia harus mencari psikiater yang lain setelah ini.
Raga tidak memaksa Elvina untuk bicara, dia memberikan waktu agar pasiennya itu tenang terlebih dahulu. Perlahan Elvina mau bicara, Raga harus lebih tegas di ruang praktek.
Walau apa yang dia ucapkan kadang menyakitan untuk pasiennya. Tapi itu salah satu proses untuk menyadarkan pasien yang mengalami gangguan depresi.
"Mau ngopi dengan saya, Nona?" Ajak Raga setelah sesi konsultasi mereka selesai.
"Maaf, dokter saya bilang kurangi minum minuman yang mengandung kafein." Sindir Elvina dengan tersenyum tipis. Raga menggaruk tengkuknya yang tak gatal, salah tingkah.
"Bagaimana kalau kita ngeteh?" Tawar Raga tidak ingin hilang kesempatan.
"Bukankah teh juga mengandung kafein?" Elvina mengangkat alisnya menunggu jawaban, Raga semakin salah tingkah.
"Susah ya jadi dokter." Keluhnya, "bagaimana kalau saya melakukan penawaran lain Nona, kita jalan?"
Elvina nampak berpikir, tidak terlalu buruk kalau dia dekat dengan orang lain untuk menghilangkan rasa sepinya.
"Anda bisa konsultasi gratis dengan saya, tanpa batas waktu." Raga menambahkan penawarannya.
"Baiklah, kalau dokter memaksa, saya bisa apa." Ujar Elvina dengan senyuman kemenangan. Senyuman pertama itu akan selalu Raga rekam dalam memori ingatannya.
Apa dokter ini tidak ada pasien lain selain dirinya, Elvina bergumam dalam hati.
"Saya bisa menjadi dokter yang tidak profesional kalau menyangkut anda, Nona."
Elvina geleng-geleng kepala, apa dokter itu sedang gombal padanya. "Tidak perlu gombal pada saya, dokter." Dia mengangkat tangan menunjukkan cincin yang berada di jari manisnya.
Raga seperti sedang dipukul paksa untuk mundur. Bahkan belum mendekat saja, sudah di usir tuan rumah.
"Maafkan saya terlalu lancang menggoda anda, Nona." Raga mengurungkan niatnya mengajak Elvina jalan-jalan. Mereka berjalan kaki ke cafe yang tidak jauh dari kliniknya.
Elvina tidak berniat untuk bohong, dia hanya takut membuat orang lain berharap lebih padanya. Padahal cincin itu bukan cincin kawin. Dia merasa bersalah melihat wajah dokter yang tidak ceria lagi.
"Kenapa Nona harus jauh-jauh ke Jogja, di Jakarta kan banyak psikiater?" Tanya Raga untuk menghilangkan kecanggungan. Kini mereka sudah berada di kafe.
"Berhenti memanggil saya Nona, karena saya bukan majikan anda." Tegas Elvina, Raga hanya mengangguk paham. "Saya rasa dokter tidak perlu menanyakan itu. Bukankah berobat di mana pun itu hak pasien. Asal jangan ngebon." Katanya dengan senyuman tipis.
"Yah, anda benar, apa kalau saya bertanya hal pribadi untuk kesembuhan anda. Anda juga akan menolak menjawabnya?" Elvina bergeming.
"Kalau iya, sebaiknya anda mencari dokter yang bisa membuat anda nyaman untuk bercerita. Itu akan sangat membantu anda untuk cepat pulih." Lanjut Raga dengan tersenyum, walau ada rasa tidak rela kalau pasiennya ini mencari dokter lain.
"Apa saya sedang ditolak menjadi seorang pasien?" Tanya Elvina dengan tawa kecil, Raga terpana melihat gadis itu.
"Mungkin, jika anda berpikir begitu."
"Apa hanya dengan pertemuan satu kali, itu sudah bisa menyimpulkan kalau dokter itu tidak cocok?" Tanya Elvina serius.
"Tergantung, kalau hanya satu kali pertemuan kadang belum terjadi perubahan apapun. Pada beberapa kasus dokter pun perlu bebera kali pertemuan baru bisa memberikan diagnosa yang tepat untuk kondisi pasien."
Elvina mengangguk, "saya selalu menolak diajak ke psikiater karena merasa baik-baik saja. Tapi saat saya lelah menyemangati diri sendiri, akhirnya saya putuskan untuk berobat."
"Selamat karena sudah memilih jalan yang tepat." Puji Raga, "bagi kebanyakan orang, dokter kejiwaan itu merupakan momok yang menakutkan. Kalian tidak gila hanya karena konsultasi ke psikiater." Jelasnya, dia senang akhirnya gadis itu tidak canggung lagi. Malah dia sekarang yang canggung karena merasa seperti pebinor.