EL & KEN

EL & KEN
17



Elvina menatap Ken yang tidur dipangkuan Adnan. Matanya menyipit heran kenapa Ken terlihat sangat manja dengan Adnan.


"Na, kenapa? Apa kamu ketakutan." Adnan masih mengawasi Elvina, dia tidak bisa mendekati gadis itu, karena Ken tertidur pulas dipangkuannya.


"Enggak Kak, Ken kedinginan?"


Tatapan Elvina terkunci pada lelaki yang tertidur dipangkuan Adnan itu.


"Pinjam bonekamu Na."


Elvina mengangguk, membawa bonekanya dan meletakkan di atas tubuh Ken. Beruang itu menyembunyikan tubuh Ken.


"Kamu kembali tidur Na, Kakak menjagamu dari sini."


"Terimakasih kak. Kakak tidur juga ya." Ujar Elvina lalu kembali ke tempat tidur membaringkan tubuh dan memejamkan mata.


"Peluklah boneka ini Ken, untuk mengobati kerinduanmu padanya." Adnan membetulkan tangan Ken untuk memeluk boneka itu. Setelahnya dia memejamkan mata. Adnan harus sabar menjadi yang paling tua diantara kedua orang yang sudah seperti tom and jerry ini.


Adnan terbangun pukul setengah lima pagi, dilihatnya Elvina dan Ken masih tertidur.


"Ya Allah, semoga mereka segera bersatu, agar aku tidak terlalu lelah menjaga mereka seperti ini." Jujur saja Adnan juga lelah dengan kelakuan dua anak ini.


"Ken bangun. Lihatlah bidadarimu sebelum dia terbangun untuk mengobati kerinduanmu." Adnan membangunkan Ken yang masih betah tidur dipangkuannya. Membuat kakinya ngilu jadi bantal Ken semalaman.


"Kak, aku memeluknya." Ucap Ken seperti baru dapat doorprize. Karena bangun memeluk beruang Elvina, itu serasa memeluk Elvina langsung. Aroma tubuh gadis itu menempel pada teddy bear. Dia sangat berterimakasih karena Elvina tidak pernah melupakannya selama delapan tahun ini.


"Tunggu aku menjemputmu Sayang. Aku memang sangat merindukanmu. Tapi aku tidak bisa mendekatimu sekarang. Aku ingin kita bertemu dalam ikatan yang halal. Bukan hanya sekedar mengenal." Ucapnya lalu tersenyum smirk.


"Aku takut kak. Dia sangat menggodaku. Nanti aku khilaf kamu marah." Ujar Ken lalu tertawa kecil.


"Kamu tidak akan bisa menyentuhnya selama aku di sini." Tegas Adnan, Ken cemberut masam karena ucapan sang kakak.


"Apa nanti kalau aku malam pertama dengannya kamu juga akan ikut mengawasiku?"


"Selalu Ken, akan ku videokan untukmu."


"Kakak!" Mereka berdua tertawa, dipikir malam pertama untuk konsumsi publik.


"Kamu gak ada niat mau bangun Ken, kakiku sakit." Ken langsung mengangkat kepalanya dari pangkuan Adnan.


"Maaf kak, aku pijetin yaa. Selonjorkan kakinya ke sofa." Goda Ken manja, kapan lagi dia bisa menggoda kakak tersayangnya. "Terimakasih sudah menyayangiku." Ucapnya, yang membuat Adnan mencebikkan bibir.


"Ken, jangan buat aku menangis karena rayuanmu ini. Aku selalu menyayangimu." Adnan mengusap rambut adiknya dengan sayang. Umur mereka hanya selisih tiga tahun.


"Terimakasih karena selalu menemaniku kak." Ucap Elvina tulus dengan mata menatap lekat Adnan yang duduk di samping kanannya. Mereka sedang berada di kantin, menikmati sarapan pagi bersama.


"Aku sudah berjanji untuk menjagamu, Sayang." Jawab Adnan dengan senyuman yang selalu Elvina dapatkan.


Elvina balas tersenyum, lirikan matanya tertuju pada Ken yang duduk di depannya. Untung saja terhalang meja, coba kalau tidak sudah habis Elvina acak-acak rambut Ken itu. Dia sangat kesal dengan lelaki di depannya ini.


"Berhentilan melirikku Nona yang cantik." Ken dengan santai menyantap nasi. Menikmati perubahan ekspresi di wajah Elvina yang memburunya seperti macan sedang kelaparan. Bagi Ken kecantikan Elvina bertambah kalau sedang menatap seperti itu, membuat Ken ingin segera menghalalkan.