
"Sudah nunggu lama?" Tanya Raga pada gadis yang terbaring lemah itu. Kila dan Erland pamit keluar ketika lelaki itu datang.
"Dari tadi malam," jawab Elvina asal. Raga mencebikkan bibir, senang bisa mendengar gadis itu menyambutnya dengan hangat.
"Teddy bearnya mau di taroh dimana?" Lelaki itu membawa boneka teddy bear jumbo berwarna cream dengan pita cokelat. Kebalikan milik Ken, batin Elvina.
"Mau aku peluk," pintanya manja.
"Gak bisa gitu dong Sayang, tangan kamu masih sakit. Biar teddy bearnya duduk di sini, aku yang berdiri." Ujar Raga akhirnya setelah mendudukkan beruang besar itu di samping brankar, tapi dia tidak jadi berdiri. Lelaki itu duduk di sisi brangkar, membawa tangan Elvina yang terluka ke pangkuannya.
"Kasihan tangannya kalau kamu lukain gini, kasihan orang yang panik karena tindakan berbahaya kamu. Kasihan mama pasti sedih kalau kamu melukai diri sendiri." Ucap Raga lembut, "jangan diulangi lagi. Aku gak mau kamu janji apapun. Aku mau kamu buktikan kalau kamu gak putus asa begini lagi."
Elvina tertawa geli mendengar kecerewetan dokternya ini.
"Dikasih tau dengerin, bukan ketawa. Nanti cuma masuk kuping kanan keluar di kuping kiri omongannya."
"Cerewet banget sih dokterku ini, pengen nyubit tapi tanganku lagi gak berdaya."
"Aku bantu cubitin." Raga menjepit hidung Elvina dengan gemas.
"Eh, kok aku yang dicubit." Pekiknya tak terima.
"Salah cubit ya?" Tanyanya polos sambil tertawa kecil. "Mau cerita?" Raga mengusap puncak kepala Elvina penuh kasih sayang.
"Tadi Ken datang, dia bilang sangat mencintai El. Dia tau El itu aku, tapi dia tidak mengingat tentangku, setiap melihatku dia ingin marah. Dia sedang bingung, orang terdekatnya selalu menyalahkannya karena terlalu keras padaku. Aku yakin dia sangat tertekan sekarang."
"Kamu bisa membantunya untuk pulih, begitu juga sebaliknya."
"Aku juga bingung, Om Er bilang aku bisa menyembuhkan luka lama tanpa harus membuat luka baru."
"Itu benar, kamu bisa menyembuhkan luka tanpa perlu menikah denganku dulu. Aku akan tetap membantumu."
"Pengertian banget deh Pak dokterku ini." Goda Elvina, Raga memutar bola mata malas. Ternyata tidak baik kalau gadis itu bersikap seperti ini, sangat menguji imannya.
"Gak udah godain orang," kesal Raga, sifat asli anak ini ternyata sangat menyebalkan.
"Dela tau kamu nemuin aku ke sini?" Tanyanya, pasti tidak. Karena kalau temannya itu tau pasti ingin ikut.
"Enggak, aku bilang lagi ada tugas luar." Jawab Raga santai.
"Ih, bohong."
"Pepet terus, gombal terus," Elvina berdecak kesal.
"Kalau udah bisa ketawa gini, pasti udah sembuh dong." Entah kenapa tawa gadis itu malah menularkan kesedihan. Bukan bahagia yang tercipta dari sana.
"Mulutnya udah sembuh, tangan dan hatinya masih sakit," akunya.
"Udah tau sakit kenapa dilukai, hm?"
"Iseng-iseng berhadiah aja, siapa tau berhasil. Ternyata gagal. Harusnya aku praktek malam-malam ya." Katanya dengan kekehan.
"Jangan dipraktekin lagi, aku gak suka."
"Dokter sukanya apa?" Goda Elvina jahil, kalau lagi waras mana mungkin dia mau bunuh diri.
"Suka kamu."
"Ih, aku gak mau."
"Maunya apa dong? Nikah sama aku."
"Boleh, tapi kalau nyerah boleh gak lambaikan tangan ke kamera?" Tanyanya lugu.
"Gak bisa, harus jadi selamanya. Gak ada kata menyerah." Raga menekankan dengan lembut, dia tau gadis di depannya ini belum siap menerimanya. Dia tidak akan memaksa Elvina untuk menikah dengannya.
"Yah, gak bisa di coba dong."
"Pernikahan bukan untuk uji coba, Sayang. Pernikahan untuk sekali seumur hidup." Ucap Raga sambil tersenyum, kenapa gadisnya ini sekarang menyebalkan pura-pura lugu.
"Maaf ya selalu memberikanmu harapan palsu." Ucap Elvina dengan rasa bersalah, Raga itu sangat baik dan tulus.
"Tidak perlu meminta maaf, hati tidak bisa dipaksakan. Aku cuma mau lihat kamu pulih dan bahagia ada atau tidak adanya Ken." Raga menatap gadis yang terlihat sendu. "Kamu akan lelah kalau terus berpura-pura bahagia."
"Sekarang sarapan dulu biar kuat kalau mau nangis yang kencang."
"Mau nangis, tapi sambil dipeluk."
"Hm." Raga hanya bisa berdehem menanggapi. Pasien terberat yang dia hadapi. Raga harus menyiapkan diri agar tidak terbawa perasaannya sendiri.