
Adnan tidak suka Elvina selalu memuja Azmi. Siapa sebenarnya yang lebih bertahta di hati gadis itu. "Nana, jangan berharap lebih sama Azmi."
"Dia akan pulang, Kak." Tegas Elvina, dia akan tetap pada pilihannya.
"Siapa Azmi, Na?" Tanya Erfan yang bingung, apa mungkin Azmi sepupunya yang dimaksud gadis itu.
"Lo terlalu lama meninggalkannya Fan, jadi tidak tau kabarkan." Adnan menyeringai pada Erfan dan mengamati wajah Ken yang berubah sendu.
"Sungguh, Nana kenapa tidak cerita sama aku?" ujar Erfan lembut.
Elvina tak menjawab, lebih memilih mengalihkan pembicaraan dan melarikan diri. "Kita pulang yaa, aku capek." Pinta Elvina, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini agar bisa melarikan diri. Suasana yang tadi penuh tawa sekarang jadi hening.
"Ya sudah kita pulang. Biar Ken dan Adnan yang mengantar mu pulang ya." Erfan mengalah, mood gadis itu kembali buruk.
"Iyaa, makasih Fan, jangan lupa boneka sepuluh yang aku pinta tadi di kirim ke rumah yaa." Seringaian jahil muncul di bibirnya. Erfan geleng-geleng kepala.
"Oh tidak Nana, matremu tak pernah hilang."
"Mumpung ada yang ngasih." Ujar Elvina tersenyum menggoda.
"Tidak perlu menggodaku dengan senyumanmu Nana, Ken tolong urus kekasihmu dia membuat jantungku mau berhenti sekarang." Ucap Erfan sambil tertawa jahil.
"Erfaaann!" Elvina berteriak karena kesal dengan Erfan. Adnan dan Erfan tertawa gelak melihat Elvina yang kikuk hampir kehabisan napas karena menahan malu. Ken tetap diam mengamati Elvina yang sangat manja. Semanja apapun tetap saja gadis itu sulit untuk dijangkaunya.
***
"Iya Ummi, aku mandi dulu ya," sahut Ken lemas. Ummi mengangguk, menatap heran putranya yang tidak bersemangat.
"Kenapa adikmu, Nan?" Tanya Ulfa pada putra sulungnya.
"Tadi dia baru bahagia bertemu Nana, terus Ummi ngajak dia ketemu Abi Zayid jelas lemaslah." Abi Zayid itu teman abi-nya yang sangat ingin menjadikan Ken sebagai menantu.
"Ummi bingung Nan!" Ulfa tiba-tiba ikut lemas, melihat putra bungsunya hilang semangat seperti itu.
"Sama, Adnan juga bingung Mi, apalagi Ken." Jelas Adnan, dia sangat mengerti perasaan adiknya itu. Apalagi tadi Elvina membahas Azmi, membuat adiknya itu tambah kehilangan semangat.
"Jangan pikirkan itu, jodoh ketentuan Allah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Nazar menimpali pembicaraan istri dan putra sulungnya.
"Bi, Ken dan Nana anak kesayangan Abi, bukan? Bagaimana kita bisa melihat salah satu dari mereka terluka." Lirih Ulfa, dia bingung harus menghadapi dua orang anak muda itu.
"Allah tau yang terbaik untuk mereka Ummi, jangan berhenti untuk mendoakannya." Nasehat Nazar, jika dipikirkan akan membuat tambah bingung saja. Jujur diapun bingung dengan tingkah polah kedua anak itu.
Di kamarnya Ken menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. Mendapatkan hati Elvina saja belum bisa, sekarang dia harus menghadapi Abi Zayid dan putrinya.
Kepala Ken jadi berat, Elvina tak bersimpati sedikitpun pada perasaannya. Gadis itu tetap pada pendiriannya.
"El, andai kamu tau waktu delapan tahun itu sangat menyiksaku merindukanmu. Setelah semua ada di depan mata, kamu memilih mengabaikanku dan menginginkan lelaki lain. Apa yang bisa kulakukan selain melepaskanmu."
"Aku memang pengecut El, aku tak pernah berjuang langsung di depanmu. Aku lebih memilih mengagumimu dalam diam." Besok Ken akan memastikan jawaban Elvina sekali lagi sebelum benar-benar pergi.