EL & KEN

EL & KEN
138



Elvina membenamkan wajah di dada Ken karena malu. Adnan terkekeh kecil lalu duduk di samping adik iparnya.


"Kakak ganggu aja sih, El jadi malu." Ken mencebik kesal, Adnan tak merespon kekesalan sang adik. Tangannya mengusap belakang kepala Elvina dengan lembut.


"Kamu gak papa Na?" Tanya Adnan, Elvina menyembulkan wajahnya, "gak papa yang mana nih Kak, aku malu tau." Desisnya lalu membenamkan wajah kembali.


"Yang di butik, laki-laki itu udah ngapain kamu?" Adnan memperjelas pertanyaannya.


"Gak ngapa-ngapain, harusnya kakak itu khawatirnya sama Ken yang bisa ngapa-ngapain aku." Katanya setelah mengangkat wajah dengan sempurna, tidak bersembunyi lagi. Ken merapikan jilbab istrinya yang berantakan.


"Emang Ken ngapain kamu?" Tanya Adnan penuh selidik, kemudian tersenyum miring pada Ken.


"Ken suka makan aku." Jawab Elvina asal, Ken membulatkan mata atas jawaban istrinya itu.


"Makannya gimana?" Pancing Adnan berlagak polos.


"Itu, Ken suka gigit bibir aku." Jawab Elvina sambil menggaruk tengkuknya, Adnan tertawa geli.


"Mau Abang praktekin sekalian di depan Kak Adnan, Sayang." Tawar Ken dengan tersenyum jahil, Elvina menggeleng cepat.


"Jangan macam-macam Ken!" Adnan segera kabur dari ruangan Ken sebelum terjadi adegan panas yang bisa membuat darahnya mendidih.


"Kamu itu sengaja banget ya ngerjain Kak Adnan gitu." Ken mencubit pipi Elvina pelan.


"Biar gak kebiasaan kepo, dah Abang kerja sana." Usir Elvina juga, dia membaringkan tubuh di sofa setelah Ken beranjak.


Ken fokus pada pekerjaannya membiarkan Elvina sibuk dengan dunianya sendiri sampai jam istirahat tiba.


"Sayang, kita makan siang dulu baru temani Abang ya?" Ken beranjak dari tempat duduknya mendekati sang istri yang masih bermain iPad.


"Mau makan apa?"


"Apa aja yang bisa dimakan manusia, Bang." Jawaban asal Elvina membuat Ken mencubit gemas hidung kesayangannya itu.


"Abang juga bisa dimakan loh Sayang, enak lagi. Mau gak?" Goda Ken sambil merangkul Elvina menuju parkiran.


"Mmm, roti sobek Abang gak bisa bikin kenyang."


"Udah pernah nyoba?" Ken menyipitkan mata, menggoda.


"Eh," Elvina memukul tangan suaminya yang menjadi-jadi menggodanya. "Dah ah, lapar Abang." Ujarnya masuk dalam mobil, Ken terkekeh kecil melajukan mobil menuju restoran. Usai makan siang dan sholat mereka menuju ke sebuah klinik.


Elvina kembali sibuk dengan iPad-nya sembari menunggu Ken yang sedang bertemu dokter. Satu jam lebih sudah dia menunggu, suaminya itu belum selesai juga.


"Jam tidur siang," gumam Elvina. Arloji di tangannya menunjukkan pukul dua lewat. Netranya sampai berair karena menahan kantuk.


"Ngantuk," Ken mengusap wajah Elvina sambil tersenyum.


"Abang," Elvina menegakkan tubuhnya mendapati sang suami sudah berdiri di hadapannya. Di samping Ken ada seorang perempuan cantik dengan jas putihnya.


"Sayang, kenalin dokter Claudia." Elvina mengangguk mengulurkan tangan pada dokter cantik itu, "Nana," ujarnya lesu sambil bergelayut manja di tangan Ken karena menahan rasa kantuk. Setelah dokter itu menyebutkan nama Elvina menarik tangannya kembali.


"Abang ngantuk," keluhnya.


"Kita pulang, Sayang." Ken merangkul istrinya setelah berpamitan dengan Claudia.


Perempuan dengan jas putih itu tersenyum penuh arti melihat kepergian Ken dengan istrinya. Betapa beruntungnya jika bisa mendapatkan cinta lelaki seperti Ken.