EL & KEN

EL & KEN
112



"Katanya mau dikembalikan, kenapa dibawa pulang lagi? Gak dibolehin ketemu?" Adnan menyelidiki adiknya yang baru pulang dengan memeluk boneka. Lucu kalau lihat lelaki main boneka.


"Boleh kok, udah aku kembaliin. Cuma minta satu buat teman tidur." Jawab Ken santai, mengacuhkan tatapan aneh abi, ummi dan kakak iparnya lalu melanjutkan langkahnya ke kamar.


"Anak Ummi kenapa jadi aneh gitu sih, kayaknya kita emang harus bawa dia ke dokter kejiwaan deh Bi, seperti saran dokter itu." Ujar Adnan, tingkah adiknya sudah sangat meresahkan.


"Kamu bujuk lagi sana gih, siapa tau kali ini mau." Saran Ulfa, "kasihan kalau dia begitu terus."


"Kalian tadi mau ketemu Nana gak dibolehin Erland?" Tanya Nazar pada anak dan menantunya.


"Iya Bi, katanya kasih Nana waktu istirahat dulu. Tapi Ken kok bisa ya."


Nazar mengendikkan bahunya tanda tak mengerti. "Mungkin Erland tau kalau Ken yang bisa membantu Nana semangat lagi."


"Mungkin, kalian ngerasain Ken berubah gak sih sejak aku kasih dia rekaman waktu di rumah sakit itu."


"Kasih Ken waktu, kita juga terlalu memaksakan Ken untuk menerima Nana. Padahal dia masih bingung dengan dirinya sendiri." Ujar Ulfa bijak, meskipun dia juga sempat marah dengan putranya itu.


Sejak Ken mengalami kecelakaan suasana rumah Nazar tidak seceria dulu lagi. Kadang banyak perdebatan antara orang-orang rumah dengan Ken yang berubah menjadi lebih emosional.


Dalam kamarnya Ken memeluk erat boneka itu, wangi parfum yang tertinggal pada boneka membuatnya bisa lebih tenang. Dia merasa seperti tengah memeluk El-nya. El yang entah dimana keberadaannya Ken tidak tau.


"Na, boneka dari siapa itu jadi dibawa, kan bisa ditinggal dalam mobil."  Tegur Erfan, "sini aku pinjam." Lelaki itu mau merebut bonekanya tapi Elvina menepis tangan Erfan dari hadapannya.


"Jangan coba-coba menyentuhnya, Erfan. Nanti diambil kak Adnan buat calon istrinya." Ucap Elvina keras.


Ken tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu. Sayang jugakan kamu sama aku El.


"Aku pinjam aja, gak akan ngapa-ngapain, Na. Cuma mau peluk bonekanya." Bujuk Erfan lembut, tetap saja Elvina menolak keras boneka yang baru didapatnya di pegang oleh lelaki itu.


"Aku gak mau bonekanya bekas pelukanmu Erfan." Sahut Elvina tegas.


"Sini biar aku yang meluk bonekanya El." Ken merebut boneka di tangan Elvina. Gadis itu hanya diam tidak memberontak.


"Na, mukamu kenapa merah." Erfan mentertawakan Elvina dengan puas.


"Kembalikan bonekaku." Pinta Elvina pada Ken karena menahan malu.


"Sejak kapan kamu jadi pemilik boneka ini Nona, bukannya tadi sudah ditolak dan mau dibuang." Jawab Ken dengan penuh kemenangan.


"Pulang dari sini kita beli Na, pilih sesuka hatimu." Erfan membujuk Elvina yang memelas pada Ken.


Ken berharap Elvina menolak tawaran Erfan yang menggoda gadis itu. Tapi ternyata tidak, Elvina tidak akan menyia-nyiakan barang gratisan. Apalagi kalau bisa, dia akan memeras harta kekayaan Erfan.


"Benarkah, sepuluh ya," pekik Elvina girang.


Oh Tuhan, Matre juga nih cewek gak bisa dikasih hadiah dikit, gak ngerti perasaan Ken. Lelaki itu mendengus kesal.


"Iyaa, kita penuhi kamarmu. Ken serahkan boneka itu, biar aku ganti boneka dariku." Erfan ingin mengambil boneka di tangan Ken namun tangannya ditampar keras Elvina.


"Jangan macam-macam Erfan." Elvina merebut boneka dari Ken sebelum diserahkan lelaki itu pada Erfan. Dia tidak rela ada yang menyentuh boneka itu selain Ken.


"Oh Nanaku Sayang, kenapa dari dulu selalu menspesialkan hadiah dari Ken sih," Erfan cemberut masam.


"Emang siapa yang bilang boneka ini dari Ken?" Tanya Elvina lugu.


"Kan tadi Ken bilang, Sayang." Elvina mengendikkan bahu salah tingkah.


"Sudah makan dulu Na, dari tadi berantem terus." Ujar Adnan.


"Kak, nanti bonekaku diambil Erfan kalau ditaroh di sini." Adu Elvina dengan manja pada Adnan.


"Kakak suapin, Sayang."


"Adnan, biar aku yang nyuapin." Erfan menarik piring di depan Elvina.


"Aku gak mau Erfan! Sini makananku, bisa kok tangan satu." Elvina menarik piringnya kembali.


"Sini aku suapin." Tanpa banyak bunyi Ken menyendokkan nasi menyuapkan ke mulut Elvina.


Erfan dan Adnan tertawa geli melihat tingkah anak itu.


"Giliran sama Ken pasrah." Erfan mendengus kesal.


"El," Ken tebangun, dia baru terlelap rasanya seperti mimpi tapi nyata. "El dan Nana, orang yang sama." Gumamnya, seperti yang Adnan sering bilang mereka orang yang sama. Tapi kenapa pikirannya sulit untuk percaya.


Apa dia sudah gila? Sepertinya Ken harus menyetujui keinginan ummi untuk mengunjungi psikiater. Ken takut dirinya benar-benar gila sekarang.