EL & KEN

EL & KEN
124



Ken terbangun meraba-raba kasur di sampingnya. Tidak ada sang istri di sini. Astaghfirullah, dia lupa Elvina tidak tidur di kamarnya. Kamar itu sudah bersih lagi.


Padahal Ken belum membereskan, dia tertidur lelap memeluk boneka. Pasti istrinya itu tidak bisa tidur kalau tidak ada beruang di sisinya.


"Gak bisa tidur?" Tegur Ken, kala melihat Elvina masih memainkan stylus pen di atas layar iPad.


"Eh, kamu kebangun." Elvina bergegas meletakkan iPadnya ke dalam laci nakas. Bahaya kalau dibanting Ken, sayang harganya mehong. Bukan Elvina tidak punya uang untuk membelinya lagi. Sayang aja uangnya buat beli benda yang gak terlalu penting.


Ken mendekati Elvina lalu mengusap kepala istrinya itu dengan lembut. "Mau tidur di sini apa di kamarku?"


"Di sini aja," cicit Elvina. Dia masih memasang alarm waspada kalau Ken mengamuk lagi. Duh di dekat Ken alarm bahayanya selalu aktif.


"Ya udah aku temenin." Ken membawa istrinya berbaring, lalu memeluknya. "Pasti gak bisa tidur karena gak ada beruangkan?"


Elvina menjawab dengan anggukan kepala, dia juga belajar untuk hati-hati saat bicara.


"Nanti kita ambil bonekanya di rumah Om." Usul Ken, Elvina tidak menyahut membenamkan kepalanya di dada bidang Ken.


"Aku masih susah buat ngertiin kamu, juga diri aku sendiri. Aku gak tau kamu bisa kuat atau gak di samping aku. Kalau kamu lelah ngomong ya, biar aku antar kamu ke Om Erland."


Elvina merasakan sakit saat mendengar Ken mengucapkan itu. "Apa kamu ingin aku menyerah?" Tanya Elvina dengan suara yang sangat pelan.


"Aku gak pengen gitu, tapi aku gak bisa memaksa kamu untuk terus kuat di sampingku. Kamu bisa terluka, Sayang."


"Udah, diem. Aku gak mau kamu marah lagi." Ucap Elvina akhirnya, dia lelah kalau tengah malam harus berdebat. Malam ini energinya sudah terkuras.


"Tidur!" Ken mengecup puncak kepala Elvina dengan lembut, "pasti capek ya malam ini, maaf." Elvina tak menjawab, berada dipelukan Ken membuat matanya mengantuk.


Ken terjaga lebih dulu, menatap lekat istrinya yang masih tertidur pulas. Dia susah memengerti dirinya sendiri.


Elvina mengerjapkan mata perlahan, pandangannya gelap kala Ken dengan usil menutup matanya.


"Abang, gak bisa napas!" Pekiknya, Ken tertawa geli. Yang ditutup mata bukan hidung, padahal tadi juga meremkan saat tidur.


"Gak bisa lihat, Sayang, bukan napas." Ralat Ken, lalu membawa istrinya berguling jadi di atasnya.


"Abang, aku baru bangun jangan diajak senam jantung." Pekiknya lagi sambil memukul dada Ken. "Huhh, jantungku hampir copot. Abang lepasin."


Elvina merasa aneh, setiap bangun tidur Ken itu punya jiwa yang berbeda. Suka usil, sikap dinginnya tak terlihat.


"Sakit, Abang. Pipiku cuma dua, kalau copot satu nanti bolong gimana. Jadi donat deh."


"Abang kan nyubit dua-duanya, Sayang. Kalau bolong juga keduanya. Biar jadi pipi bolong." Ken menusuk-nusuk pipi Elvina dengan telunjuknya.


Gadis itu menggembungkan pipi, jadi tambah menggemaskan. Pagi-pagi Ken sudah disuguhi pemandangan yang menggemaskan seperti ini.


"Kita honeymoon mau?" Ajak Ken.


"Kemana?"


"Kairo."


"Ih, itu Abang kuliah bukan honeymoon. Gak mau ah," Elvina pura-pura merajuk.


"Jadi gak mau ikut Abang nih, mau LDR'an aja?"


"Gak mau ditinggal juga," rengek Elvina, "nanti kalo kangen gak bisa meluk." Ucapnya cemberut, belum bikin kenangan yang manis-manis masa sudah ditinggal.


"Terus maunya apa dong, hm?"


"Ikut," ucapnya manja.


"Kalo gak diizinin Om Er gimana?"


"Coba ngomong aja dulu," ujar Elvina dengan wajah ditekuk.


"Kok cemberut lagi," Ken mencubit bibir yang maju itu.


"Abang kalau marah nyeremin," akunya setelah membenamkan wajah di dada Ken. Seumur-umur dia belum pernah melihat orang yang mengamuk seperti itu. Papa selalu merawatnya dengan kelembutan.


"Kalau Abang menjauh dari El, jangan malah dideketin, Sayang. Nanti kalau sudah tenang pasti Abang cari El lagi." Ken membelai lembut punggung istrinya dengan kedua tangan.