EL & KEN

EL & KEN
87



Malam ini Raga mengajak Elvina ke rooftop. Menikmati keindahan cahaya lampu-lampu kota dari ketinggian.


"Saya takut tidak bisa membayar dokter kalau mengganggu waktu anda di luar jam praktek." Elvina membuka pembicaraan setelah cukup lama mereka saling diam dengan pikiran masing-masing.


"Untuk anda apapun akan saya berikan, Nona." Raga tersenyum tipis, Elvina tidak menanggapi. "Dinginnya udara malam ini, sedingin sikap anda pada saya, Nona."


Elvina menghela napas panjang sebelum berucap. "Hati yang beku sulit untuk mencair jika diletakkan di tempat yang salah."


"Karena hati itu bukan es, Nona. Jadi tidak akan mencair. Hati hanya butuh rasa nyaman agar bisa bersama dengan hati yang lain." Ralat raga dengan tersenyum jahil. Entah dia dapat teori ngawur dari mana. Semenjak bertemu Elvina dia jadi punya jiwa gombal yang sangat receh.


"Dan sikap saya bukan mikrowave, yang bisa digunakan untuk menghangatkan." Balas Elvina tidak mau kalah.


"Kamu mau bercerita?" Merasa kalah Raga mengalihkan topik pembicaraan.


Raga mengingatkan dirinya sebelum berharap terlalu jauh. Hubungannya dengan Elvina hanya antara dokter dengan pasien.


Awal sebelum Elvina menjadi pasiennya dia memang berharap bisa bertemu dengan gadis ini. Tapi sekarang keadaannya berbeda.


"Sesak!" Lirihnya sendu.


Kenapa Raga menggunakan hati menangani pasiennya kali ini. Dadanya ikut terasa sesak, sungguh merepotkan diri sendiri.


Pelan-pelan Raga membantu gadis itu agar bisa bercerita. Kalau begini sepertinya dia harus menyarankan Elvina mencari psikiater yang lain. Hatinya ikut tersa sakit setiap kali Elvina menguak lukanya.


"Pah, kayaknya aku gak bisa lanjutin jadi dokternya Nana." Curhat Raga, malam-malam dia mendatangi ruang kerja sang papa.


"Kenapa?" Tanya Lingga heran, "bukannya kamu bisa bantu dia pulih."


"Dia mungkin bisa pulih, tapi setelah ini aku yang bakal harus ke psikolog, Pah." Keluh Raga membaringkan tubuhnya di sofa.


"Dadaku ikut sesak Pah." Raga menekan dadanya kuat dengan telapak tangan.


"Kamu tidak bisa profesional?" Lagi-lagi sang papa mengeluarkan pertanyaan. Pemuda itu menggeleng sebagai jawaban. "Seorang dokter spesialis kesehatan jiwa tertular penyakit jiwa." Ejek Lingga ditambah kekehan kecil, seakan mengasihani putra sulungnya.


"Untuk apa aku bertemu kalau tidak bisa menggapainya, Pah?"


"Sekedar info buat kamu Ga, Papa ini seorang pengusaha bukan dokter cinta." Lingga menggoda putranya yang sedang Galau. Raga mencebikkan bibir, sungguh sangat malang nasibnya punya papa yang sangat suka menistakan.


"Kita tidak tau permainan takdir Raga. Mencintai itu tidak harus memiliki, mencintai adalah memberi tanpa berharap dibalas, cinta itu tanpa pamrih. Walau kenyataannya itu sangat menyakitkan."


"Jangan salahkan orang lain kalau kamu jatuh cinta. Sebelumnya kamu tidak meminta izin saat menjatuhkan hati padanya. Jadi tidak perlu meminta pertanggung jawaban saat hatimu terluka."


"Jadi aku harus sembuhkan ini sendiri?" Tanyanya polos, Lingga menghela napas lelah. Anaknya itu dokter kejiwaan, kenapa pertanyaan seperti itu ditanyakan padanya.


Setiap orang memang memiliki titik lemahnya sendiri. Seperti putranya sekarang yang lumpuh karena jatuh cinta.


"Kalau ada yang membantumu untuk menyembuhkan itu bisa lebih bagus. Bagus lagi kalau si penyebab luka yang menjadi obatnya." Lingga tersenyum mengejek putranya.


"Papa, aku lagi sakit hati loh ini. Dari tadi diketawain terus." Keluhnya, "gak punya perasaan banget, bersimpati dikit kek. Sakit ini."


"Dokter jiwa bisa sakit jiwa juga?" Tanya Lingga semakin meledek Raga.


"Mboh lah, mending aku tidur. Curhat sama papa bikin hipertensi." Pemuda itu berdecak kesal, lalu meninggalkan Lingga yang sedang tertawa gelak.


Apa yang lucu sih, dia sedang menderita. Papanya seperti bahagia banget, papa durhaka memang. Tidak mengerti penderitaan hidupnya yang sudah kepala tiga tapi masih belum punya istri. Terus ditanya kapan nikah melulu setiap datang kondangan. Sungguh menyedihkan.