
"Sayang, El." Ken meraba-raba tempat tidur di sampingnya perlahan membuka mata. Istrinya hilang kemana?
Matanya melirik jam dinding. Duh, kesiangan sholat subuh. Ken bergegas ke kamar mandi dan langsung sholat. Setelahnya dia mencari Elvina di sekitar villa. Istrinya tidak membawa ponsel, tidak tau harus mencari kemana.
"Kamu kemana, Sayang. Masa marahnya sampai pagi," ujar Ken pusing sudah hampir satu jam dia berkeliling villa mencari Elvina.
Sementara itu Elvina berkeliling pedesaan dengan menggunakan sepeda. Menikmati udara segar dan hamparan sawah yang luas, setelah berkeliling di sekitar villa. Dia meninggalkan Ken yang masih tertidur.
Setelah puas berkelana Elvina mengunjungi warung sudut merapi, mencicipi lontong kikil khas Jogja. Tak lupa dia membungkus untuk suami tersayangnya.
Selepas makan Elvina mendatangi taman bunga yang tidak jauh dari penginapan. Cukup dengan lima menit dia sudah tiba di sebuah taman. Masuk ke area itu dia disambut sungai kecil yang mengalir menuju depan taman. Aneka tumbuhan, baik dedaunan maupun bunga, tertata rapi. Membuat tampilan taman semakin menawan.
Keberadaan bambu kuning dan beberapa pohon berkambium besar membuat ambience di kawasan ini terasa kian teduh. Juga ada kolam di tengah-tengah taman yang membuat suasana sekitar terasa adem.
Puas berkeliling Elvina langsung pulang, sampai villa sudah jam sepuluh lewat. Dia menyiapkan lontong kikil yang dibawanya tadi untuk Ken. Suaminya itu sedang duduk di balkon.
"Kemana aja?" Tanya Ken dingin, "aku nyariin dari pagi tau gak sih."
Tak ingin memicu keributan, Elvina masuk ke kamar mandi setelah meletakkan semangkok lontong kikil di depan Ken. Dia berendam lama di bathtub untuk menghindari suaminya marah-marah.
Sampai Ken selesai makan Elvina tidak keluar. Karena khawatir Ken mencari ke kamar mandi. Lelaki itu menggeleng pelan, istrinya tertidur dalam bathtub. Untung pintunya tidak di kunci.
Sukanya bikin kesal, tapi sayang. Huft, Ken mengangkat pelan tubuh itu agar tidak terbangun. Membalutnya dengan handuk, lalu membaringkan di tempat tidur. Kalau sudah gini yang tadinya pengen marah jadi gak tega marah.
Ken menyelimuti Elvina lalu berbaring di kursi balkon. Angin sepoi-sepoi menghipnotis matanya, dia tertidur.
Duh, pasti Ken tambah marah nih gara-gara di cueki. Kenapa juga mesti ketiduran pagi-pagi begini, di kamar mandi lagi.
Segera Elvina berpakaian dan beranjak ke balkon. Suaminya tertidur tanpa bantal di kursi kayu. Pelan, dia memindahkan kepala Ken ke pangkuannya. Menyisir lembut rambut hitam sang suami dengan jemarinya.
Ken terbangun saat Elvina memindahkan kepalanya. Tapi dia malas membuka mata, memiringkan tubuh memeluk pinggang sang istri dengan erat.
"Sudah bangun, tapi pura-pura tidur ya!" Ujar Elvina saat Ken menciumi perutnya dan tangan itu masuk ke dalam piyama mengelus punggungnya dengan hangat. Tubuhnya menggelitik seperti tersengat aliran listrik.
"Kenapa Sayang, horny ya?" Ken semakin menjadi, memasukkan kepala di piyama Elvina.
Plak
Elvina menabok lengan suaminya karena geram, kenapa harus diucapkan begitu sih dia kan jadi malu. Pipinya memanas hanya karena satu kata itu.
Setelah puas membuat Elvina menegang, Ken menatap wajah cantik istrinya itu. "Kenapa malu sih Sayang, sampai merah begini pipinya." Katanya seraya mengusap lembut pipi tembem itu.
"Abang tuh mesum!"
"Tapi suka kan?" Goda Ken seraya bangkit, mengangkat Elvina ke pangkuan, memberikan elusan lembut di rambut sang istri yang masih basah. "Kemana aja sih, Abang panik nyariin tau. Untung ada yang lihat kamu jalan-jalan naik sepeda. Jadi Abang berhenti nyariin."
"Maaf, kan masih kesal sama Abang. Orang lagi ngambek malah ditinggal tidur." Ucapnya cemberut, Ken terkekeh kecil.