EL & KEN

EL & KEN
80



Ruang makan kediaman Pratama malam ini terdengar ramai dengan celotehan Dela. Elvina mengernyit, suara candaan itu seperti familiar. Tadi dia izin belakangan bergabung ke meja makan karena sakit perut.


"Nana, ayo makan bareng, Nak." Panggil Lingga, Elvina mengangguk malu-malu. Piringnya sudah disiapkan di samping kiri Dela. Samping kanan ada lelaki yang hanya terlihat punggungnya dari belakang, yang Elvina duga abang temannya.


"Gimana tadi urusannya sudah selesai, Na?" Tanya Galuh.


"Belum sih Tante, sebulan mungkin perlu beberapa kali pertemuan." Ujarnya sambil menyendokkan nasi ke piring.


"Emang kemana sih?" Tanya Dela kepo.


"Psikiater." Jawab Elvina pelan, lelaki bernama Raga yang tadinya acuh pada teman sang adik akhirnya menoleh juga karena penasaran.


"Siapa nama dokternya?" Kepo Dela lagi, Elvina fokus pada piring di hadapannya lalu menyuap setelah membaca doa. Dia jadi tidak enak sudah numpang makan, numpang tidur di rumah orang. Walau mereka sangat baik tetap saja Elvina segan.


"Dokter Raga Arganda." Dela sontak tertawa geli mendengar jawaban Elvina, diikuti Lingga dan Galuh. Kecuali Raga, masih menatap dalam gadis yang tidak menyadari kehadirannya.


Takdir selalu mempertemukan mereka, apa ini artinya mereka berjodoh. Raga membuang jauh-jauh pikiran itu, mengingat cincin yang tersemat di jari manis Elvina.


"Ngapain kamu susah-susah nyari psikiater Na, anak Om juga psikiater." Lingga menjelaskan kenapa mereka tertawa dengan bahasa lain. Sekarang Raga tau nama panggilan gadis itu, Nona, Nana. Beda tipis, gumamnya sambil tersenyum dalam hati.


"Eh, enggak mau nyusahin kalian lagi." Nana mengerjap lambat, sudah dikasih tumpangan saja alhamdulillah.


"Emang nyusahin, Bang?" Dela menoleh ke arah kakaknya, menuntut jawaban.


"Enggak." Tegas Raga, seketika Elvina menoleh. Cukup terkejut melihat yang duduk di samping Dela adalah dokternya.


"Gak pakai kaget gitu juga, biasa aja." Dela menepuk pelan pundak temannya.


Selesai makan malam mereka beranjak dari meja makan.


"Nana, bisa bicara?" Panggil Raga, Elvina mengangguk. "Ayo ke rooftop, kalau malam hari pemandangannya bagus." Ajaknya, gadis itu hanya mengangguk setuju.


"Kalau dijawab gak bisa ya. Jangan ngangguk-ngangguk aja kayak pajangan mobil. Perempuan itu harus banyak bicara biar gak stress. Kalau hari ini gak habis jatah minimal enam belas ribu kata dikeluarkan, besoknya akan terakumulasi. Itu yang bikin perempuan bisa meledak tiba-tiba karena selalu memendam emosi." Ucap Raga panjang kali lebar kali tinggi. Elvina mengulum senyum mengikuti lelaki itu menuju rooftop.


"Bingung sih mau ngomong apa, cuma mau ngajak kamu ke sini aja." Elvina membulatkan mata, tidak percaya lelaki itu bertingkah kekanakan seperti ini.


"Kamu kalau melotot gitu jadi tambah cantik, sadar gak sih." Raga bersandar di pagar rooftop, mengamati gadis yang duduk di sana. "Aku tau kamu cuma dingin sama aku. Ekspresimu tidak seminim itu."


Elvina pura-pura tidak mengerti dengan yang Raga ucapkan. "Kamu tidak akan berada di sini kalau itu cincin nikah." Lelaki itu menunjuk cincin di jari manis Elvina. "Boleh lihat?"


"Boleh," Elvina melepaskan cincinnya dan mengulur pada Raga.


"El-Ken, apa dia yang menyakitimu?" Tanya Raga setelah meneliti cincin itu dan mengembalikan pada pemiliknya.


"Bukan, tapi takdir yang memaksa kami berpisah." Lirih Elvina, Raga mendekat duduk di samping gadis itu.


"Aku ada di sini, terserah kamu mau menganggapku sebagai dokter atau abangnya Dela. Bagi lukamu agar bisa lebih lega."


Raga tidak rela melihat gadis di sampingnya berubah sendu. Andai takdir mengizinkan Raga ingin memeluknya memberikan kekuatan.


"Cuma kamu pasien yang dapat pelayanan spesial seperti ini." Canda Raga untuk mengurai kesedihan gadis itu, Elvina terkekeh kecil.