
"Fan tunggu bentar ya, kakakku mau ketemu. Dia gak bolehin jalan kalau belum dikenalin siapa yang ngajak aku jalan." Ujar Elvina berdiri di samping mobil Erfan.
"Sejak kapan kamu punya kakak, Na?" Erfan keluar dari mobil mendekati Elvina yang masih menunggu seseorang.
"Kak Adnan cepat keluar." Teriak Elvina dari telpon. "Anak Paman Nazar Fan, sahabat Papa, mereka yang menjagaku sejak Papa pergi." Jelasnya, Erfan hanya mengangguk. Banyak cerita yang dia tidak tau semenjak tinggal di London.
Dari dalam gedung PT. AJA Adnan berteriak di depan pintu ruangan Ken. "Ken mau lihat siapa yang jalan sama Nana gak, ayo keluar sekarang."
Adnan dan Ken berlari cepat memasuki lift menuju basemen. Mendekati Elvina yang sedang berdiri dengan seorang laki-laki di depan mobil.
"Erfan!" Pekik Ken langsung memeluk Erfan yang juga sedang terkejut melihatnya. "Alhamdulillah akhirnya kita ketemu di sini."
"Jadi kamu yang dibilang temannya Nana Fan, kenapa gak pernah cerita." Adnan juga memeluk Erfan.
"Jadi kalian saling kenal," kata Elvina cengo. Dia masih memeluk boneka pemberian Ken. Ken melihat Elvina yang memeluk bonekanya tersenyum bahagia.
Gak bisa nolak bonekanya jugakan El. Ingin Ken menggoda seperti itu, tapi jangan, nanti mood kesayangannya itu jelek lagi.
"Nana, apa kali ini kamu juga masih menyakiti Erfanku. Kalau sampai kamu membuatnya terluka, aku tidak akan mengampunimu," ucap seseorang yang sudah membuntuti Erfan dari rumah. Dia bersembunyi dengan jarak sepuluh meter dari targetnya.
"Sorry Fan, waktu itu gue gak bisa menemui lo." Ujar Ken yang lama tidak bertemu dengan temannya di pondok pesantren dulu.
"Gak masalah Ken, lo 'kan sibuk," goda Erfan.
"Jagain adik gue Fan, awas sampai lecet." Kata Adnan pada Erfan sambil tertawa.
"Jadi lo Nan kakaknya Nana?"
"Kakak ipar maunya Fan." Adnan melirik ke arah Ken.
"Kakaak." Elvina cemberut mendengar ucapan Adnan.
"Wooyy muka jangan ditekuk, Sayang. Serius amat." Erfan tertawa melihat Elvina yang kikuk. "Ya sudah kita jalan aja sekalian gimana, lama gak ngumpul jugakan."
"Kak Adnan jangan pojokin aku ya, aku gak ada yang belain sekarang." Ucap Elvina manja.
"Nana... Nana tetep aja cari bekengan." Adnan tersenyum geli melihat tingkah gadis itu.
"Nana, kurang ajar kau menyakiti Erfan lagi. Malah menunjukkan kebersamaanmu dengan lelaki itu. Kali ini tidak ada ampun untukmu Nana." Geramnya masih mengamati dua mobil yang menjauh pergi. Orang itu mengikuti kemana mobil itu melaju.
"Kenapa Ken, Nan?" Erfan heran dengan tingkah Ken yang mengambil Elvina darinya.
"Cemburu sama lo," sahut Adnan lalu tersenyum.
"Astaga Ken jatuh cinta sama Nana?" Kaget Erfan, bagaimana bisa mereka mencintai orang yang sama seperti ini.
"Perempuan yang sering diceritakannya sama lo dulu Fan."
Ya, Erfan ingat orang yang dicintai Ken dalam diam beberapa tahun yang lalu. Ternyata orang yang sama dengan yang dicintainya. Walau Ken yang lebih dulu bertemu dengan gadis itu.
"Apa Nana sudah tau kalau Ken orangnya?"
"Sudah, makanya Nana marah, yaa marah-marah gitu, tapi suka juga." Adnan terkekeh "lo juga cinta sama Nana 'kan?"
"Iya, tapi tetap kalah sama manusia beruang itu." Erfan mendengus kesal.
"Cinta tidak harus memiliki bukan, jangan sampai gara-gara Nana persahabatan kalian retak."
"Tidak akan, tapi gue ingin menggoda Ken kali ini, kita mainkan setelah ini Nan. Kita akan buat Nana bingung."
"Ide bagus, kita mainkan sampai muka mereka berdua memerah Fan," ucap Adnan girang, punya teman juga akhirnya dia untuk menjahili dua anak cucu Nabi Adam itu.
"Gue gak sabar melihat reaksi Ken ketika gue menggoda Nana." Erfan tertawa geli memikirkannya.
"Kenapa lo begitu mudah mengikhlaskan Nana Fan?" Tanya Adnan serius pada Erfan.
"Ayolah Nan, lo juga mengikhlaskan Nana untuk Ken kan. Gue liat cara mandang lo ke Nana itu beda. Kita sama-sama tau, bukan? yang ada di hati Nana hanya Ken. Gue gak mungkin membuat Nana tidak bahagia hanya karena memaksanya mencintai gue. Terlebih yang dicintainya sahabat sendiri."
"Lo benar Fan, gue bahagia ketika melihat Nana tersenyum bahagia bersama Ken, meskipun dia malu mengakuinya."
"Kita berkorban bukan buat orang lain Nan, Ken adik lo dan juga sahabat gue. Kita masih bisa bertemu Nana meskipun tidak memilikinya." Adnan mengangguk membenarkan ucapan Erfan.