
Setelah sholat subuh Attisya kembali ke kasur menarik selimut. Adnan menatap istrinya heran, tidak pernah selama beberapa bulan menikah istrinya bertingkah seperti ini. Apa ketularan Elvina yang manja, batin Adnan.
"Sayang, kamu sakit?" Adnan meletakkan punggung tangannya ke dahi Attisya, istrinya menggeleng malas.
"Gak tau, lagi males aja Mas, boleh aku minta belikan bubur ayam." Pintanya dengan memelas pada suami yang masih menatapnya keheranan.
"Nanti siangan ya Sayang, masih kepagian belum ada yang jualan."
Attisya mengangguk, mengulurkan tangan isyarat ingin dipeluk. Adnan menuruti meski tidak berhenti keheranan, pikirannya mulai menerka-nerka ucapan Ken tadi malam. Senyuman di bibir Adnan mengambang, membuat istrinya cemberut.
"Mas senyam-senyum kenapa?"
"Kamu yang kenapa Sya, gak pernah marah-marah dan manja seperti ini." Goda Adnan menoel hidung istrinya dengan hidung mancungnya.
"Bete!" Attisya melepaskan diri dari pelukan suaminya, "Mas bau belum mandi ya?" tanyanya nyelekit, Adnan mengkerutkan dahi. Beranjak ke laci mengambil testpack, dia mulai curiga dengan perubahan istrinya yang tiba-tiba aneh.
"Ayo bangun," Adnan membangunkan istrinya yang malas-malasan. "Kemana Mas?" Protes Attisya.
"Kamu ketularan Nana ya jadi suka berontak." Adnan tersenyum geli, setelah sampai kamar mandi diberikannya benda pipih ke tangan Attisya.
"Coba ini!" Perintah Adnan, dengan nada yang tak boleh dibantah. Attisya menurut memberikan wajah masam pada suaminya.
"Orang lagi males-malesan malah dikasih testpack." Gerutunya, Adnan yang mendengar hanya tersenyum, jantungnya deg-degan menunggu Attisya keluar.
"Nih!" Attisya memberikan testpack itu dengan malas tanpa melihat hasilnya, berkelumbun kembali di bawah selimut. Adnan mengambilnya, sungguh aneh tingkah istrinya yang biasa lembut jadi berubah galak.
Ditatapnya lekat benda yang ada di tangannya, pikirannya mulai bekerja. Baru kali ini dia memegang benda ini dan disuruh membaca hasilnya, bagaimana dia bisa tau apa hasilnya. Kalau garis dua berarti hasilnya positif, gumamnya tak menegerti. Saat dikasihkan istrinya pun garisnya sudah begini, sialnya dia tidak memperhatikan saat belum digunakan tadi.
"Sayang, coba lihat ini garisnya berapa?" Pinta Adnan yang benar-benar merasa bingung. Attisya membuka selimut dengan malas, melirik benda yang di pegang suaminya.
"Garisnya dua, gitu aja gak tau." Sahutnya ketus, kemudian kembali menarik selimut. Sesaat Attisya berpikir kembali dengan apa yanh diucapankan-nya barusan.
Adnan terlonjak mendengar jawaban istrinya langsung memeluknya mesra. "Makasih Sayang," diciumi Attisya tanpa berhenti. "Kamu hamil Sya, terimakasih."
"Mas!" Air mata Attisya langsung luruh karena terharu, melihat suaminya yang kegirangan. "Kamu bahagia?"
"Sangat bahagia, makasih Sayang sudah memberikan buah hati untukku." Adnan berkali-kali mengucapkan terimakasih, air matanya ikut menetes karena saking bahagianya.
"Kamulah kebahagianku sekarang, jangan pernah cemburu dengan masa laluku semua sudah berakhir." Adan menatap wajah Attisya dengan lekat.
"Jaga anak kita baik-baik ya Sya." Lanjutnya, ciuman mendarat lagi di bibir pink Attisya. "Kamu mandi ya Sayang, kita cari bubur ayamnya sama-sama."
Attisya menggangguk, jiwanya yang tadi malas-malasan sekarang sudah kembali bersemangat.
"Kalian mau kemana?" Tegur Ken, kakak dan kakak iparnya sudah rapi pagi-pagi begini.
"Kakakmu mau makan bubur ayam, kalian mau nitip?"
"Kak Sya sakit? Kenapa dibawa keluar pagi-pagi?" Elvina ikut bertanya.
"Sekalian jalan-jalan. Ayo Sya." Adnan menggandeng istrinya meninggalkan ruang tengah. Ken menatap abi dan ummi-nya bergantian. Mereka juga sama-sama heran.
"Tumben, manja kan harusnya bagianku. Kenapa Kak Sya juga ikut-ikutan yah." Ucap Elvina sambil menggaruk kepalanya.
Ken tersenyum geli, menepuk pelan kepala istrinya lalu menarik dalam pelukan. "Manjanya sama aku aja."
"Lagi ngidam kali, makan juga milih-milih sekarang." Ujar Ulfa, Elvina dan Nazar melongo. Tidak dengan Ken yang sudah menduga.
"Kenapa, mau juga?" Bisik Ken pelan, Elvina mengangguk, "sabar, nanti usaha lagi ya." Katanya sambil mengusap perut kesayangannya.