
"Cepat juga mereka menghentikan penyebaran videonya." Deo bergumam sendiri sambil mengeringai iblis. "Coba kita lihat sampai mana kamu bertahan, sebelum bertekuk lutut padaku."
Lelaki itu menutup layar laptop beranjak dari kursi, menatap ke luar jendela. "Aku akui kamu hebat dalam memikat lelaki, Nana. Namun aku bukan tipe lelaki yang akan membiarkanmu bahagia bersama suamimu seperti para lelakimu itu."
"Deo!"
"Yes Dad," Lelaki itu menoleh pada Theo yang memanggilnya.
"Kamu tidak membuat ulah lagikan?"
"Maksud Daddy apa? Aku dari tadi di kantor tidak kemana-mana." Katanya dengan wajah polos, tidak terima dituduh sembarangan.
Theo menghela napas lelah, mau berkilah seperti apapun dia tetap tau kenakalan putranya itu.
"Kali ini Daddy akan merestui hubunganmu dengan gadis manapun asal jangan keponakan Erland yang sudah bersuami itu." Tegas Theo, Deo mengernyit mendekati sang ayah.
"Sudah terlambat Dad, aku terlanjur jatuh cinta dengan perempuan itu." Deo menyeringai, tidak takut dengan tatapan tajam Theo.
"Puaskan saja obsesimu itu, Daddy sendiri yang akan menjebloskanmu ke penjara!" Ancam Theo sebelum pergi dari ruangan putranya.
"Aarrgghh!" Deo membanting benda-benda yang ada di meja. Sialan, daddy mengancamnya. Theo tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Sudah bisa mengamuk ya sekarang!" Pekik Dina, "ini kantor Deo, kamu harus jaga image. Jangan merusak citra perusahaan dengan sikap bar-barmu ini," omelnya.
"Ngapain Mommy masuk ke ruanganku." Geram Deo yang sudah duduk di kursinya.
"Terserah Mommy lah, perusahaan ini milik suami Mommy," ujar Dina sombong.
Deo mendengus, sampai kapanpun dia tidak akan bisa menang melawan mommy dan daddy nya ini.
"Kamu kenapa jadi penjahat gini sih, Deo. Perasaan Mommy sama Daddy gak pernah ngajarin kamu gitu."
"Mommy ngomong apasih, aku gak ngerti." Ujar Deo seraya menyandarkan punggung di kursi.
"Kamu gak ngerti, apa pura-pura gak ngerti. Sejak kapan anak Mommy jadi bodoh begini." Sarkas Dina galak, Deo mendelik dibilang bodoh oleh ibu kandung sendiri.
"Mommy kok jahat banget bilang aku bodoh. Jangan-jangan aku ini anak pungut ya."
"Aduuh, sakit Mommy. Ini penganiayaan namanya."
"Kamu ini emang pantas dianiaya." Ujar Dina garang, "hidupkan laptop!" Titahnya, Deo menurut sajalah daripada disiksa mommy nya yang galak ini.
"Mommy mau ngapain, sama laptop aku?"
"Sekarang kamu hentikan semua penyebaran video Nana!"
"Maksud Mommy apa? Video apa, aku gak ngerti."
"Masih mau pura-pura bodoh, hah!" Teriak Dina. "Atau mau Mommy telpon polisi sekarang buat jemput kamu."
Deo mengumpat dalam hati, tadi daddy yang mengancam. Sekarang mommy, merusak rencananya saja.
"Kalau perempuan itu menjual diri dan videonya tersebar. Kenapa harus anak Mommy yang disalahin sih. Apa kalau ada kucing tetangga yang hamil, juga aku yang harus tanggung jawab." Ujar Deo dramatis.
"Mommy gak lagi bercanda, Deo!" Geram Dina karena putranya ini berbelit-belit.
"Aku juga gak lagi bercanda Mom." Ujar Deo tak kalah geram.
"Baiklah kalau kamu mau cara yang ekstrim, Mommy akan telpon polisi sekarang." Dina mengambil ponselnya dalam tas dengan gerakan slow.
"Eh, Mommy ngapain telpon polisi. Emang ada penjahat di sini."
"Kamu penjahatnya, Mommy sudah punya semua buktinya."
Deo tak bisa berkutik lagi, mommy nya ini lebih seram dari zombi. Sudahlah, dia tertangkap basah.
"Iya, aku hentikan semuanya." Ujar Deo kesal, menarik semua video yang beredar. Dina tersenyum tipis.
"Tuhkan ngaku juga. Padahal Mommy cuma mau nelpon Daddy." Ucap Dina tanpa dosa, setelah Deo selesai melakukan pekerjaannya. Deo melotot sempurna, mommy mengerjainya.
"Jangan berani-berani mengulanginya!" Ancam Dina kemudian pergi meninggalkan putranya yang kesal. Lebih baik kantor berantakan dijadikan Deo pelampiasan. Daripada anak orang yang jadi korban.