EL & KEN

EL & KEN
145



Erfan membalas tatapan tajam Deo dengan senyuman miring. Dibawanya Elvina masuk ke gedung PT. AJA meninggalkan laki-laki yang tengah murka di parkiran.


"Aarrgghh!" Geram Deo menendang-nendang ban mobil. Jangan sebut namanya kalau tidak bisa menaklukkan perempuan itu. Bodo amat dengan istri orang. Bukan karena suka dia ingin mendapatkan Elvina, perempuan itu harus bertekuk lutut padanya.


Apa yang sudah dilakukannya, membuntuti perempuan sialan itu. Pantang bagi Deo membuang-buang waktu kalau tidak bisa memiliki. Melihat Elvina menggandeng laki-laki itu membuat Deo semakin murka.


Di dalam lift Elvina lemas, sakit kepala yang ditahannya sejak di butik semakin terasa sekarang. Baguslah tidak pingsan di hadapan Deo tadi.


"Na kamu sakit?" Tanya Erfan khawatir.


"Cuma pusing."


Erfan memperhatikan wajah Elvina memucat, menuntunnya sampai ke ruangan Ken saat pintu lift sudah terbuka. Orang yang dicari masih meeting.


"Mau makan siang dulu?"


"Nanti aja nunggu Ken." Jawab Elvina lemas seraya membaringkan tubuhnya di sofa.


Erfan melepaskan jas untuk menyelimutinya. Lalu duduk di kursi kerja Ken menunggu si empunya datang.


Netranya terus mengamati Elvina, saat hampir terlelap terdengar suara decitan pintu dibuka.


"Eh, lo masuk ruangan gue sembarangan ya. Setelah jadi anak pungut, sekarang mau jadi pewaris perusahaan juga." Ken berdecak, Erfan menganggapi dengan senyuman miring.


"Bolehlah, kalau bisa dapat bagian warisan juga."


Netra Ken menemukan Elvina yang terbaring pucat di sofa. "Ya Allah, El. Udah dibilangin gak usah ke butik. Masih ngeyel." Lelaki itu mengelus pipi istrinya sambil mengomel, yang diomeli terlelap dengan nyaman.


"Rival lo ngikutin sampai parkiran noh."


"Apa maunya itu orang sih, sudah tau yang dikejar punya suami. Masih aja," Ken berdecak.


"El, kita pulang Sayang." Laki-laki itu menyingkirkan Jas Erfan lalu menggendong tubuh istrinya.


"Kak, aku pulang. El sakit." Teriaknya pelan saat melewati ruangan sang kakak.


"Bukan hutan Fan, berisik." Adnan ikut pulang, abinya sudah pulang duluan setelah meeting selesai tadi. Mereka memang sering menyempatkan waktu untuk makan siang di rumah.


Ken menatap Elvina yang terbaring, dokter sudah memeriksa kondisi istrinya. Hanya kelelahan, dia ikut berbaring di sisi sang istri sampai lupa makan. Tertidur sambil memeluk Elvina.


"Abang!"


Panggil Elvina pelan saat badannya terasa seperti ditindih. Ternyata Ken pelakunya, lelaki itu tidur dengan berbantalkan bahunya. Pantas saja tangannya terasa kebas.


"Sudah bangun, El."


"Tanganku sakit tau, Abang tindih." Elvina menggerakkan tangannya yang terasa kaku. "Kalau ngomong berarti sudah bangun Abang, aku gak ngelindur."


Ken mengernyit lalu tertawa kecil, inikah istrinya yang cerewet. "Maaf El, keenakan tidur gak sadar." Dengan sigap memijat tangan Elvina.


"Kepala Abang tuh besar, tanganku bisa penyet kalau di tindih. Nyari bantal mikir-mikir juga kali, Bang."


"Kamu kalau sakit makin lancar ngomelnya ya, padahal belum makan siang tapi energinya masih bisa buat ngomelin suami." Ken menjepit bibir Elvina karena gemas.


Perempuan itu mengerucutkan bibir setelah Ken melepaskan jemarinya.


"Kenapa? Mau dicium, hah?"


"Bibir aku bengkak habis dicubit." Katanya lebay sambil menggelengkan kepala.


"Oh yah, coba sini Abang lihat." Ken mendekat lalu menggigitnya.


"Abaaangg, jangan digigit." Pekik Elvina, "Aihh bengkak beneran nih." Mengusap-usap bibirnya yang habis dikanibal suami sendiri. Ken menepuk-nepuk pipi Elvina sambil tertawa.


Dering ponsel Elvina menghentikan tawa Ken, "siapa?" tanyanya dengan tatapan tidak suka.


"Deo," cicit Elvina menunjukkan ponselnya pada Ken. Nomor tanpa nama, tapi dia tau itu Deo karena pernah satu kali menjawab telponnya. Setelahnya Elvina tidak pernah menghiraukan panggilan telpon lelaki itu lagi.


Rahang Ken sudah mengeras, tangannya mengepal kuat. Menunjukkan kalau dia sedang menahan emosi.