EL & KEN

EL & KEN
95



Semenjak pulang dari rumah sakit Ken lebih banyak diam. Dia tidak tau lagi harus bagaimana membuat Elvina mau menerimanya.


"Bi, Ken tinggal di Kairo aja ya." Lirihnya pada semua orang yang ada di ruang keluarga.


"Ada masalah apalagi sama Nana, bukannya kamu senang dia sudah kembali?" Bukan abinya yang menjawab, tapi Adnan sang kakak. Suami Attisya itu sangat tidak suka kalau Ken bersikap lemah dan selalu ingin menyerah.


"Dia mau menikah." Ken berujar sendu, Adnan mengernyit lalu tersenyum miring. "Kamu percaya? Jangan sampai seperti dulu lagi Ken. Mulutnya meminta kamu pergi, tapi hatinya ingin kamu tinggal." Tegas Adnan, dia tidak percaya kalau Elvina mau menikah begitu saja. Apalagi gadis itu memiliki trauma.


"Adnan benar Ken, jangan menyerah. Abi sudah merelakan Yayasan untuk kamu. Apa kamu ingin melihat Abi kecewa." Ujar Nazar sendu, bukan karena kehilangan Yayasan yang membuatnya sedih, tapi karena melihat si bungsu yang tidak memiliki semangat lagi.


"Ummi percaya Nana ingin kamu tetap di sini, Sayang. Berjuang sekali lagi ya, kalau gagal berjuang lagi. Kan kata kamu kalau bukan nama dia yang tertulis untukmu, kamu mau tipe-x dan mengganti nama itu menjadi Elvina Mufida Ilman." Ujar Ulfa dengan tersenyum, dia geli sendiri dengan tingkah putranya itu kalau sedang semangat-semangatnya.


"Harusnya aku kemaren tipe-x nama Adnan sebagai jodoh aku ya Mi. Kan bisa request yang lain." Ucap Attisya dengan tertawa kecil.


"Sya, ngomong apa tadi, hm." Ulfa dan Nazar ikut tertawa dengan penuturan menantunya. Ken mendengus kesal melihat kemesraan penganten baru itu. Mereka tidak saling mencintai tapi bisa bersatu dan saling memberikan kebahagiaan sekarang.


"Kalian gak usah bermesraan di depan aku. Nggak liat ada yang lagi patah hati." Ken berkata dengan nada ketus. Dia semakin mendengus kesal saat pasangan penganten baru itu tidak menghiraukannya.


Notifikasi pesan yang menampilkan nama Elvina mengalihkan perhatian Ken. Beberapa detik kemudian lelaki itu berjingkrak girang setelah membaca isi pesannya. Dia segera kembali ke kamar untuk mengambil kunci mobil dan cincin yang tadi pagi dikembalikan Elvina.


Malam ini juga Ken akan menemui gadisnya itu. Dia tidak ingin hanya mendapatkan harapan palsu dari sebuah pesan. Ken ingin mendengar langsung dari mulut Elvina kalau benar mau menikah dengannya.


"Mau ketemu El, Mi. Dia mau menikah denganku." Ucapnya girang lalu langsung menghilang dari ruang keluarga setelah berpamitan. Ulfa menggelengkan kepala. "Adikmu itu kesambet apa sih Nan, secepat itu berubah mode."


"Namanya juga orang jatuh jatuh cinta Mi, susah untuk dipahami." Sahut Nazar, matanya masih fokus pada layar tab.


Ken memarkirkan mobilnya di tepi jalan untuk membeli bunga di toko seberang. Malas putar arah dia lebih memilih jalan kaki untuk menyeberang.


Dia tidak tau bunga seperti apa yang Elvina suka. Belum pernah Ken memberikan bunga pada gadis itu. Lelaki itu menjatuhkan pilihannya pada sebuket mawar merah.


Bibirnya mencetak senyuman yang tak luntur-luntur sejak tadi. Sampai si penjual bunga salah tingkah. Setelah membayar, dia bergegas kembali ke mobil. Tidak ingin membuat calon istrinya menunggu lama.


Bruukk!


Tubuh Ken terpental jauh tangannya masih memegang erat bunga dengan bersimbah darah.


Dia tertabrak mobil karena nyeberang dengan tergesa-gesa tidak melihat kanan dan kiri.


"El, I love you." Gumamnya dengan tersenyum, tangan kanannya semakin erat memegang buket bunga. Setelah mengucapkan itu ken tidak sadarkan diri.