
"Aku gak tau kamu lagi ada masalah apa, Na. Aku gak akan maksa kalau kamu gak nyaman untuk cerita. Tapi kalau dengan cerita bisa bikin kamu lega, aku siap menjadi pendengar yang baik."
"Bil, kita ke taman bentar boleh. Biasanya sore gini banyak anak-anak main bola."
"Boleh." Sabil melajukan mobilnya ke arah taman, Elvina keluar lebih dulu setelah mobil terparkir. Dia berjalan menuju kursi panjang di pinggir taman. Sabil mengikuti dan duduk di sampingnya.
"Aku egois selalu menolak Ken, Bil. Sampai Ken menyerah memperjuangkanku, dia menerima permintaan Abi Zayid untuk menikah dengan putrinya." Elvina menatap anak-anak yang berebut bola di taman.
"Malam itu Azmi mengajakku bertemu di taman ini, aku datang. Dia membawaku ke cafe, saat itu aku sangat mengantuk Bil. Aku minta diantar pulang, eh, aku malah ketiduran di mobil. Waktu bangun aku sudah ada di hotel. Hatiku hancur Bil, apa yang aku punya sekarang, gak ada." Elvina bercerita dengan tersenyum, Sabil hanya mendengarkan. "Bodoh banget banget aku gak dengerin Kak Adnan yang melarangku bertemu Azmi."
"Sejak aku tau Ken mencintaiku semuanya terasa kacau Bil. Kak Adnan sampai ingin membatalkan pernikahannya untuk menikahiku. Ken juga melakukan itu. Aku bingung Bil, Mama bilang aku egois."
Elvina menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Abi Zayid itu abangnya Mama, Bil." Lirihnya, "Aish yang akan menikah dengan Ken itu kakak sepupuku. Aku memilih pergi dari Ken tapi Mama tidak suka dengan keputusanku. Aku sudah jujur dengan paman dan Aish. Aish marah padaku dan paman memintaku meninggalkan Ken."
"Aku gak tau Bil, kalau orang yang dicintai Aish itu Ken. Walau dia sering cerita sama aku. Aku juga gak tau kalau orang yang selalu datang dalam mimpiku itu Ken."
"Na, masuk mobil." Sabil menarik tangan Elvina, dia melihat ada orang yang mengikuti mereka.
"Pasti berat banget ya Na, Ken gak tau kalau Aish itu sepupu kamu?" Respon Sabil saat mereka sudah aman berada dalam mobil.
"Iya, rencananya aku mau ke Jojga besok Bil, tapi Mama tidak suka dengan keputusanku. Akhirnya aku mengalah. Aku cuma mau nenangin diri, istirahat sebentar Bil."
"Bil, ada yang ngikutin kita ya?" Sabil mengangguk, "pasti Azmi." Lirihnya, Elvina menyandarkan punggung lalu memejamkan mata. "Aku lelah Bil, pengen nyerah kali ini aja."
"Mau ada Ken di sini, Na?"
"Jangan Bil, aku cuma cerita sama kamu."
"Ya sudah, kita pulang ya. Bahaya di luar." Elvina mengangguk, dia percaya Sabil karena mereka sudah berteman selama tiga tahun. Jadi dia akan aman bersama lelaki itu.
***
Puluhan panggilan telepon sudah Kila lakukan namun tidak ada jawaban. Salahnya yang terlalu keras pada Elvina. Dia hanya ingin egois dan melihat putrinya bahagia.
Hari sudah malam, anaknya belum juga pulang. Dia takut ada yang menyakiti Elvina lagi.
"Adnan, apa Nana ada di tempat kalian?" Tanya Kila cemas, dia menyesal tidak mau mengerti perasaan putrinya.
"Gak ada Ma, aku sama Ken, Abi dan Ummi. Ini masih di hotel." Jelas Adnan, mereka berada di hotel untuk mencek persiapan acara besok. "Nana izin kemana?"
"Nana gak izin Nan. Dia marah sama Mama, dari tadi siang belum balik." Ucap Kila penuh penyesalan.
"Nana marah kenapa?" Selidik Adnan, dia menarik Ken ke tempat yang lebih sepi.
"Mama bilang Nana egois ninggalin Ken."
Adnan menghela napas panjang, kemana perginya Elvina. Di luar masih belum aman, Azmi berhasil kabur dan Fany masih bebas berkeliaran.