EL & KEN

EL & KEN
25



"Aku boleh tidur dulu sebentar. Nanti mukaku keliatan pucat kalau keluar begini."


"Iya, tidur aja. Kamu sudah makan?"


"Belum."


"Astaghfirullah El pantas saja kamu sakit perut. Tunggu sebentar." Ujar Ken lalu keluar dan mengunci pintunya agar tidak ada yang melihat Elvina dalam ruangan itu. Untung saja tadi dia pintar membawa Elvina keruangan abi yang lebih besar. Sehingga bisa tidak terlalu dekat dengan perempuan itu.


Meskipun pakaiannya tertutup sempurna, tetap saja Elvina bisa membuatnya tergoda. Ampun Ya Allah, Ken sudah berduaan dengan gadis itu.


Ken segera kembali setelah mendapatkan apa yang dia cari. Berharap Elvina belum tertidur.


"El makan dulu ya dan ini cokelat hangat siapa tau bisa membantu." Ken membukakan buburnya mendekatkan ke depan gadis itu.


"Kenapa repot-repot membelikanku makan." Elvina mengangkat kepalanya dari meja.


"Aku tidak ingin kamu sakit terlalu lama, nanti tidak ada yang mendebatku saat berbicara di ruang meeting."


Elvina tertawa geli mendengar itu. Dia hanya dianggap Ken lawan berdebat saja.


"El jangan terlalu nyaring nanti ada yang tau kalau aku menyekapmu di sini." Ujar Ken sambil tersenyum, hatinya sangat berbunga-bunga bisa melihat Elvina tertawa untuknya. "Makan dulu."


Abi, ummi tolong, Ken tidak kuat iman jika harus bertemu El seperti ini setiap hari. Selama ini dia berusaha menahan perasaan dengan bersikap kasar dengan Elvina agar tidak memperhatikannya dari dekat. Tapi kali ini dia sudah tidak sanggup menahannya lagi. El sudah membuatnya sangat jatuh cinta.


Ken mengamati Elvina yang makan sampai gadis itu meludeskan bubur dengan cepat.


"Lapar banget yaa..?" Ken tersenyum melihat Elvina melahap habis buburnya.


Elvina menjawabnya dengan anggukan.


"Sekarang tidurlah El." Ken membenarkan jasnya di punggung Elvina.


Adnan yang sudah selesai meeting langsung mencari Elvina keruangannya.


"Ken buka, kamu apakan Nanaku." Teriak Adnan dari luar. Ken membuka pintu dan mengisyaratkan untuk berbicara pelan.


"Ken kamu tidak menyakitinyakan?" tanya Adnan Khawatir melihat Elvina bertelungkup di meja.


"Enggak, tadi dia kesakitan makanya aku bawa dia ke sini agar tidak ada yang tau. Sekarang El sedang tidur."


"Syukurlah Ken, kamu jangan bicara kasar lagi dengannya ya." Ken mengangguk lemah.


"Kak, aku sudah tidak dapat menahan perasaanku." Ken memeluk Adnan dan berbisik pelan.


"Minta Abi untuk melamarnya ya Ken. Jangan menyakitinya seperti ini lagi, karena kamu terlalu takut tergoda olehnya."


Ken mengangguk dan menyeka setetes air mata yang terjatuh.


"Nana Sayang, anak Papa sudah dewasa sekarang. Jadi anak yang sholehah ya Sayang. Ini ada kado sweet seventeen untukmu, dari orang yang sama pemilik beruang kesayanganmu itu." Papa membukakan hadiahnya yang berisi kalung dengan liontin bertuliskan EL.


"Papaa....!!" Elvina berteriak kemudian dia terbangun dan memegang liontinnya erat. Ken dan Adnan segera mendekati gadis itu.


"Nana. Apa yang terjadi?" Adnan menatap lekat wajah Elvina.


"Papa Kak, mimpi yang sama terus datang setiap aku terlelap." Adunya dengan wajah lelah. Adnan melirik Ken yang meringis karena tidak tahan melihat Elvina terus tersiksa.


"Na, pemilik kalung itu—"


"Kak Adnan, apa meeting sudah selesai?" Dengan cepat Ken menghentikan Adnan.


"Sudah."


"Baguslah."


"Pengecut Ken." Adnan berdiri ingin menampar Ken, namun dia melepas kepalan tangannya, melihat Elvina yang menatap tajam padanya.