EL & KEN

EL & KEN
59



"Hei kenapa menangis? Kangen Ken?" Erfan mendekati Elvina, meskipun hatinya serasa seperti dipilin-pilin melihat kenyataan Elvina hanya mencintai Ken.


"Iya." Elvina menyunggingkan senyumannya.


"Kita VC dia ya sekarang." Bujuk Erfan, dia tidak bisa melihat kesayangannya menangis.


"Jangan, dia lagi kuliah Fan. Nanti terganggu." Cegah Elvina, mana mungkin dia mengadu kangen sama orang yang sudah memutuskan menikah dengan perempuan lain.


"Oke, tapi harus berhenti nangis."


"Iyaa-iyaa. Nih aku tersenyum." Elvina menyeka air matanya lalu menarik kedua ujung bibir yang membuat Erfan tertawa.


Erfan sangat baik padanya, meski dia terus menolak lelaki itu. Andai Ken yang melakukan seperti ini pasti dia akan sangat bahagia.


Andai cinta bisa memilih dengan siapa orangnya, Elvina ingin mencintai Erfan atau Adnan yang tidak pernah meninggalkannya.


"Iiih manyun lagi."


Plukk, Erfan memukulkan beruang kecil ke kepala Elvina.


"Erfaaan, orang lagi enak melamun juga digangguin."


"Lagian ngapain ngelamunin yang jauh juga, orang ada aku di sini," Kesal Erfan.


"Beda rasanya!"


"Rasa apa?"


"Rasa yang pernah ada, serius amat." Elvina tertawa geli.


"Rasaku selalu ada untukmu Nana."


"Idiiih gombal teruss,, teruss aja gombal sampai aku mau muntah dengarnya."


"Aku rela kamu muntahin asal bisa bersamamu Na."


"Haha Erfan, sejak kapan kamu jadi penampungan muntah."


"Jorok ah ngomong gitu." Erfan ikut tertawa geli. "Gitu dong jangan manyun lagi. Jelek kalau manyun."


"Tapi tetap sukakan?"


"Itu hal yang tidak pernah bisa aku pungkiri dari dirimu Na," ucap Erfan serius.


"Aiissshhh gombal lagi, lama-lama dikerubungin semut aku karena manisnya ucapanmu."


"Jangaann bapeer, kalau kamu sedih siapa yang bikin aku tertawa."


"Ketawain diri sendiri aja."


"Sungguh terlalu."


"Kamu udah gak sedih lagikan?"


"Iya, aku sudah bahagia ada kamu."


"Beneran, mau aku ajak nikah?" Goda Erfan lagi.


"Erfaaan candanya kelewatan," geram Elvina.


"Aku pulang dulu yaa Na, adikku udah nungguin dia tadi minta ditemenin nonton." Dia sudah terlanjur janji, inipun Erfan telat menjemput adiknya itu.


"Iya Fan, hati-hati. Salam buat adikmu."


Erfan mengacungkan jempolnya.


"Bye Na, jaga kesehatan." Lelaki itu beranjak keluar kamar Elvina menemui Kila yang sedang menonton televisi. "Ma aku pulang yaa, nanti ke sini lagi tapi masakin yang banyak."


"Iyaa, makasih ya udah nemenin Nana." Kila mengantarkan Erfan sampai ke depan pintu.


"Iya Ma, bye." Erfan melambaikan tangannya setelah bersalaman.


Sepulang dari rumah Elvina, Erfan langsung menjemput Fany di rumah, adiknya pasti sudah jengah menunggu dari dua jam yang lalu.


"Kakak dari mana, lama banget aku nungguinnya. Sampai jamuran nih." Kesal Fany karena sudah menunggu lama.


Erfan terkekeh kecil. "Jamurnya bisa dibikin sup 'kan?" Godanya, membuat Fany tambah cemberut. "Maaf kakak tadi dari rumah Nana, dia lagi sakit."


Fany hanya mengangguk. "Sekarang gimana keadaannya?"


"Sudah baikan, kita mau nonton apa sekarang?" Erfan merangkul adiknya menuju mobil lalu membukakan pintunya.


"Terserah, hari ini aku ikut kakak aja."


"Baiklah." Lelaki itu langsung melajukan mobilnya menuju mall, setelah duduk dibalik kemudi.


Fany bergeming, karena gagal memisahkan sang kakak dari Elvina. "Sialan Nana masih aja deketin kakakku, apa masih belum puas menyakitinya. Awas kamu Na, aku tidak akan melepaskanmu sampai sakit hati kakakku terbalaskan."