EL & KEN

EL & KEN
113



"Gimana rasanya tidur sama papa, beruang?" Elvina senyam-senyum sendiri berbicara dengan beruang kesayangannya. Huh, dia sangat kangen beruangnya ini, "nyaman gak dipeluk Papa Ken?"


Kalau ada yang mendengar pasti menganggap dia gila. Elvina memang gila, gila karena cinta yang tak kunjung ada akhirnya.


"Raga gak bisa gantiin kamu tau gak sih," gadis itu masih mengajak bicara boneka sambil memeluknya erat. "Ken bilang akan selalu menunggu aku menerimanya. Tapi sekarang dia lupa sama aku beruang. Sedih tau gak, sakit tapi gak berdarah hati aku." Curhatnya sambil menyunggingkan senyuman.


"Coba lihat ini beruang, tadi Ken yang masangin cincinnya buat aku. Aku juga yang masangin cincin di jarinya. Dia gak mau panggil aku El lagi, dia manggil aku Nana."


"Aku berharap dia bahagia, tapi kalau bahagianya sama aku gimana? Aku tau dia sangat mencintaiku, sampai saat dia lupa denganku pun dia masih menyimpan perasaan itu."


Kila mendengarkan semua curhatan putrinya. Dia takut lengah yang berujung Elvina ingin menyerah dengan hidup lagi


"Mama juga berharap kamu bahagia." Perempuan paruh baya itu mendekati putrinya, "sekarang punya dua beruang? Beruang kecilnya mana?"


"Ken minta satu, katanya tambah nyenyak tidur kalau ditemani beruang." Jawab Elvina dengan bangganya, padahal boneka itu juga dibeli pake duit Ken.


"Cincin dan kalungnya juga dikembalikan?" Tanya Kila lembut sambil mengelus rambut putrinya.


"Iya, aku kasian sama Ken Ma, dia pasti lagi bingung. Pengen percaya aku itu El, tapi setiap lihat aku dia merasa marah." Curhatnya, Entah seberat apa yang Ken lalui sekarang.


"Kamu bisa bantu dia buat sembuh, kalau dia benci lihat kamu. Coba kamu kasih dia semangat lewat chat atau telpon, mungkin beda." Saran Kila, dia sempat marah saat Ken memperlakukan putrinya dengan kasar. Tapi ketika mengetahui kondisi pemuda itu, Kila jadi merasa iba.


"Nanti aku coba, Ma. Beruang Raga gak akan bisa gantiin beruang ini Ma." Elvina menunjuk dua beruang yang berjejer di tempat tidur.


"Mama tau, Sayang. Kalau bahagiamu adalah Ken, kamu bisa mengusahakan itu. Jangan menyerah lagi dengan takdir."


Elvina mengangguk, mengambil ponselnya di atas nakas. "Aku coba telpon Ken, Ma."


"Iya, Mama tinggal ya. Kalau dia masih gak suka dengar suara kamu. Cari cara lain aja jangan dipaksain, nanti kamu terluka. Kamu harus sabar ngedepinnya," nasehat Kila.


"Iya Ma." Elvina menekan nomor Ken setelah Kila meninggalkan kamar. Kenapa dia deg-degan seperti remaja yang baru jatuh cinta begini.


"Assalamualaikum Ken." Sapa Elvina lirih saat telponnya tersambung.


"Wa'alaikumsalam, El." Nama kontak di ponselnya masih El Sayang.


"Hm, El dan Nana orang yang sama kan?" Tanyanya lugu.


"Hee, iya. Kamu benci gak dengar suara aku?" Tanya Elvina takut-takut, dia belum siap kalau Ken masih belum bisa menerimanya.


"Aku gak pernah bisa membenci kamu El, aku mencintaimu."


"Ken, apa kepalamu baru kejedot pintu kamar mandi?" Tanya Elvina konyol, Ken tertawa kecil.


"Kamu berharap aku kejedot pintu kamar mandi lalu langsung ingat sama kamu seperti di sinetron?" Ken balik bertanya.


"Aku bahagia kalau kamu mau ketawa buat aku." Jujur Elvina, Ken jadi merasa bersalah. Pantas gadis itu sampai mau bunuh diri karena dia sudah memperlakukannya dengan kasar.


"Maaf, sudah buat kamu sedih," ucap Ken tulus. Hatinya tiba-tiba menghangat.


"Ken, kamu gak jatuh dari mobilkan pulang tadi." Lagi-lagi Elvina memastikan perubahan Ken yang aneh.


Ken mendengus, "gimana contoh orang jatuh dari mobil?"


"Ya gitu, kepalanya kepentok pintu mobil terus jatuh deh kepleset." Katanya asal, duh kenapa dia jadi oon gini sih.


"Gak ada kepleset dari mobil gitu, Sayang." Ralat Ken, aneh juga gadis itu, ada-ada saja.


Eh, apa tadi? Ken manggilnya sayang. Duh kenapa nih perut jadi isinya taman semua. Elvina jadi salah tingkah. Bibirnya berkedut senyum-senyum sendiri.


"Kenapa diam?" Tanya Ken lembut.


"Eh, enggak." Elvina bingung harus bicara apa.


"Suka dipanggil Sayang?" Tebak Ken, Elvina mengangguk senang. Jelas Ken tidak dapat melihat ekspresi gadis itu. "Kalau suka, ayo kita nikah."


"Hah?"