EL & KEN

EL & KEN
197



Selain mengajar di kampus yayasan Zayid, Ken juga membantu Abi dan kakaknya mengelola perusahaan. Saat di kantor istrinya tak pernah absen menemani. Memandang wajah cantik itu dapat menghilangkan segala lelahnya.


Ken sibuk di depan laptop sambil sesekali melirik Elvina yang sedang asyik dengan iPadnya. Membuat Ken gusar, istrinya akan lupa segalanya jika sudah mengoreskan styllus pen ke layar.


Dilemparkannya gumpalan kertas tepat mengenai kepala Elvina, masa dia cemburu dengan benda itu.


"Abaaangg!!" Elvina menghentak-hentakkan kaki, karena merasa terusik dia mendekati suaminya untuk memberikan pembalasan, Ken menyengir lebar.


"Ada suami di sini malah pacaran sama iPad aja." Ken mencebikkan bibir, Elvina duduk di pangkuan dengan mengalungkan tangannya ke leher sang suami.


"Jadi cemburu?" Elvina meneliti wajah suaminya lucu.


"Iya."


"Hm, aku lapar."


"Baru selesai makan, lapar lagi?" Tanya Ken melongo, selebar apa perut istrinya ini.


"Iya, mau gado-gado."


"Pesan aja, Sayang."


Elvina menggeleng, "mau makan di sana, gak enak kalau dibungkus." Ken mengernyitkan kening.


"Sekarang?"


"Tahun depan, nunggu kiamat." Sahut Elvina ketus.


"Abang masih ada kerjaan."


"Abaangg!!" Elvina berteriak dengan nada suara nyaring. Ken mengelus telinganya yang berdengung.


Yaahh salah lagi dah, dia sudah membangunkan ibu macan begini jadinya.


"Temenin Abang ngerjain, baru kita beli ya cantik." Ujar Ken seperti sedang membujuk anak kecil.


Satu, dua, tiga. Ken menunggu istrinya mengangguk, tapi kepalanya tak bergerak.


Ada satu jurus yang belum dikeluarkannya. Ken mengusap kedua pipi istrinya kemudian melahap bibirnya, sampai Elvina lupa dengan keinginannya.


"Sudah!" Tegur Adnan dengan wajah sinis, Elvina menyembunyikan wajahnya. Ken hanya mengangguk. "Kalian ini kayak kurang waktu aja, gak puas semalaman di rumah."


Ken tidak menjawab ocehan kakaknya, mengusap belakang istrinya dengan lembut.


"Perlu apa Kak?"


"Mana berkas tadi pagi." Ken memberikan yang diminta Adnan. Elvina yang masih membenamkan wajahnya di dada Ken merasakan perutnya bergejolak seperti ingin muntah. Cepat dia berlari menuju toilet.


"El," Ken menyusul istrinya, mengabaikan Adnan yang masih memandang heran.


"Sayang!!" Ken panik memandang wajah Elvina yang memucat setelah mengeluarkan isi perutnya. Dia membawa istrinya duduk di sofa, membersihkan wajahnya dengan tisu.


"Kenapa Ken?" Adnan mendekat ke sofa.


"El, masuk angin kayaknya." Ken memijat belakang Elvina, Adnan sudah tersenyum penuh arti.


"Kebanyakan bercinta jadi masuk angin," ujar Adnan terkekeh.


"Kakak!"


"Ada istirahat gak?"


"Maksudnya?"


"Bercintanya ada istirahat gak, apa setiap malam." Adnan menegaskan ucapannya.


"Ya tiap malamlah," jawab Ken ketus. Masih belum mengerti dengan ucapan Adnan.


"Bawa Nana ke dokter, kebanyakan kamu ajak main jadi sakit." Adnan tergelak kemudian meninggalkan ruangan Ken.


"Kita periksa ya Sayang?" Ken mendekap Elvina yang masih lemas.


"Aku gak sakit Abang, cuma muntah-muntah."


"Gak sakit tapi sampai lemas gini. Pokoknya El harus mau." Ujar Ken tak mau dibantah. Elvina merengut, menurut sajalah dengan keinginan Ken.


Ken menuntun Elvina ke mobil, membawanya ke dokter sesuai saran Adnan. Kepalanya pusing, apa hubungannya kebanyakan main jadi sakit, bukannya bikin sehat bisa merangsang hormon bahagia keluar. Entahlah, Ken cepat-cepat mengusir pikirannya kembali fokus pada Elvina.