
"Kalau sedang butuh tempat untuk membuang keluh kesah aku siap menampungnya." Raga mendekati gadis yang sedang melamun di depan televisi. Sore tadi mereka sudah membawa Kila pulang.
Elvina mengangkat tangan kirinya lalu memperlihatkan pada Raga.
Raga mengangkat sebelah alis, tidak mengerti apa yang diinginkan gadis itu. "Apa kamu mau aku membantumu untuk pulih?"
"Dokter punya kesempatan untuk menjadi mikrowave yang bisa menghangatkan hati saya." Ucap Elvina tanpa ekspresi, sekarang Raga mengerti. Jadi ini penyebab gadis itu berubah sendu sejak tadi pagi.
"Aku yakin kamu yang memintanya untuk pergi." Raga ikut duduk di sofa samping Elvina tanpa menanggapi ucapan gadis itu.
"Semua rumit."
"Kenapa? Apa yang membuatnya menjadi rumit?" Pancing Raga, dia ingin membuat Elvina nyaman bercerita.
"Mungkin kami saling mencintai, tapi aku tidak pantas untuknya." Elvina menceritakan semuanya pada Raga, tanpa ada yang disembunyikan. Dia lelah menyimpan semua ini sendirian. Sekarang Elvina menyerah untuk berpura-pura kuat.
"Sekarang Nana mau bagaimana?" Tanya Raga lembut. Hatinya ikut berdenyut nyeri, sungguh berat yang gadisnya ini lalui.
"Dokter mau menikah dengan saya?" Raga bergeming, bukan seperti ini cara yang dia inginkan untuk menikah dengan gadisnya.
"Apa dokter tidak mau karena saya sudah tidak perawan lagi?" Desak Elvina.
"Hei, kenapa bicara seperti itu, bukan karena itu. Kalian saling mencintai, sangat sakit kalau harus terpisah begini. Coba Nana buka mata dan hati kembali, lihat perjuangan Ken sampai saat ini. Dia sangat mencintai kamu."
"Kalau lelah istirahat, bukan menyerah. Kamu adalah pasien yang berhasil membuat saya tidak professional sebagai dokter." Ucap Raga setengah bercanda. "Andai saya tidak melihat seberapa besar Ken mencintaimu, mungkin saya akan menyetujui menikah denganmu di detik pertama itu juga."
"Kembalilah pada Ken, walaupun saya bisa selalu mendampingimu. Itu belum tentu bisa membuatmu bahagia, sebahagia kamu saat bersama Ken. Akan sangat lelah kalau kamu menjalani pernikahan dengan terpaksa."
"Tentang mahkotamu yang sudah direnggut paksa, itu tidak akan menjadi masalah bagi orang yang mencintaimu dengan tulus. Tidak perlu merasa tidak pantas karena itu." Raga menepuk pelan puncak kepala gadis itu.
"Bilang sama Ken kalau kamu mau menikah dengannya sekarang. Masalah paman dan sepupumu itu bisa di atasi, suatu saat mereka akan mengerti kalau kalian itu saling mencintai."
Elvina menegakkan kepala, menyambar ponsel yang tergeletak di meja. Kalau dokter jiwa yang memberikan pencerahan, kenapa sensasinya berbeda. Dia tidak merasa dipaksa menerima Ken, tapi disadarkan untuk menerima orang yang dicintai dan mencintainya.
Gadis itu langsung mengirimkan pesan, bahwa dia mau menikah dengan Ken. Raga ikut tersenyum melihat senyuman cerah Elvina.
"Terimakasih dokterku, aku harus bayar mahal sesi konsultasi malam ini nih." Ucapnya dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum.
"Bayarannya tentu sangat mahal, Nona." Raga mencubit gemas pipi gadis yang bertingkah lugu di depannya. Biasanya Elvina tidak pernah menampakkan raut seperti itu padanya. "Akhirnya kamu mau juga bersikap menggemaskan di depan aku seperti ini ya." Katanya dengan tertawa kecil.
"Benar ya ternyata, jodoh memang gak kemana. Jalan pertemuan akan selalu terbuka lebar untuk mereka yang ditakdirkan bersama. Dan kita ditakdirkan bertemu sebagai dokter dan pasien. Terimakasih sudah membuat aku yakin untuk datang ke psikiater lagi." Ucapnya dengan tertawa kecil. Raga mendengus sebal kata-katanya dikembalikan gadis itu dengan cara yang menyebalkan.
"Ya, jodoh pasti bertemu di pelaminan entah sebagai mempelai atau tamu undangan." Ah Raga benci mengingat kalimat itu, lagi-lagi harus bertemu sebagai tamu undangan pada orang yang sudah merebut hatinya. Sepertinya menjadi penjaga jodoh orang lain itu predikat yang cocok untuknya.