
"Lelah?" Tanya Ulfa, perempuan paruh baya itu berpindah duduk membawa kepala putranya ke pangkuan.
Ken menganggukkan kepala, "El gak mau ditemani, Mi." Adunya dengan wajah sayu.
"Abi sudah melaporkan perihal penyebaran video itu. Kita juga punya bukti, kalau itu kasus pelecehan. Bukan jual diri." Tutur Nazar, berharap dengan itu bisa membuat pikiran putranya lebih tenang.
"Aku gak tau apa salah El, Abi. Sampai dunia menghukumnya begini."
"Ujian dan hukuman itu kadang hanya berbeda tipis Ken. Kita tidak tau mana yang terbaik bagi Allah. Ujian akan mengangkat derajat hambanya, sedangkan hukuman bisa sebagai penghapus dosa."
Ken bergeming atas nasehat sang abi. Dia rasa semua orang juga tau itu. Tapi saat ada cobaan di depan mata. Pikiran jadi dangkal.
"Nana sudah mau makan?" Tanya Ulfa sambil memijat kepala putranya.
"Belum Mi, sama akupun dia gak mau dibujuk." Ken membenamkan wajah di perut Ulfa. Dia buntu, tidak tau cara agar istrinya tidak sedih lagi.
Dalam kamarnya Elvina menangis di bawah bantal. Dia hanya membuat malu Ken saja. Apa bedanya dia dengan perempuan murahan yang menjual diri. Sampai kapanpun orang akan melabelinya seperti itu.
Dia tidak pantas menjadi istri Ken. Sudah sepantasnya Ken bersama dengan perempuan yang lebih baik.
"Sampai kapan mau seperti ini, Sayang." Ken tidak kuat meninggalkan Elvina sendirian saat seperti ini. Lelaki itu memaksakan diri memeluk istrinya, walau Elvina menolak.
"Jangan begini, Sayang. Apa yang kamu rasain bisa dibagi sama aku. Jangan diam dan ingin menjauh dariku seperti ini."
Elvina membalikkan badan, beringsut dalam pelukan Ken. Membenamkan wajah di sana. "Aku ngerasa gak pantas buat kamu. Aku udah bikin malu kamu. Aku udah bikin kamu dihujat karena punya istri kayak aku."
"Itu cuma perasaan kamu, Sayang. Kamu gak bikin malu aku. Sampai kapanpun tetap kamu yang terbaik untuk aku." Ken menciumi puncak kepala Elvina.
"Udah ya, jangan pikirin itu lagi. Kita sarapan dulu. Kamu nanti sakit kalau gak mau makan. Kalau mau punya baby harus sehat." Bujuk Ken, Elvina mengangguk.
"Tunggu di sini aku ambilin makannya dulu." Ken membantu Elvina bangun, membawanya bersandar di kepala ranjang. Setelahnya dia pergi ke dapur.
"Makan sendiri aja."
Ken mengangguk, Elvina mau makan saja dia sudah bersyukur. Tangannya terulur mengusap kepala Elvina sambil menemani makan.
"Kalau ada Raga mau ketemu gak?"
Elvina menoleh pada suaminya lalu menggeleng. "Belum dulu deh, aku gak mau ketemu siapa-siapa."
"Ya udah, gak papa. Gimana nyamannya kamu aja dulu." Ujar Ken sambil tersenyum.
Elvina menyelesaikan makannya lalu bersandar di bahu Ken. "Abang, gak kerja?"
"Abang gak bisa ninggalin kamu, Sayang." Ken menepuk-nepuk bahu istrinya. Bagaimana dia bisa kerja kalau pikirannya masih terpusat pada sang istri.
"Kenapa Abang masih mau menemani aku?"
"Kamu kesayangan Abang, aku pasti menemani kamu, Sayang. Kenapa gak percaya diri gitu sih." Ken menoel hidung Elvina.
"Selamanya kita akan sama-sama, gak akan ada yang misahin kecuali maut." Elvina bergeming, menyamankan diri dalam pelukan Ken.
"Mau Abang bantu balikin mood gak?" Ken mengerling manja.
"Abang pasti mikir mesum, ya kan?"
"Kamu tau aja," Ken memeluk gemas Elvina dengan menempelkan pipi mereka, "ayo kita balikin mood kamu. Buat buktiin kalau Abang gak jijik sama kamu."
"Modus deh," Elvina mencubit bibir Ken yang mau nyosor.
"Kalau udah nakal gini kan, aku senang. Gak asyik kalau kamu diam aja. Sayang banget sama kamu." Ujar Ken, setelahnya Elvina kembali diam lagi. Dia kehabisan cara untuk membuat istrinya cerewet lagi.