
Sudah tiga hari Elvina tidak mau keluar kamar dan bertemu siapapun. Ken dengan sabar menemani istrinya itu.
"Ikut Abang fitnes yuk, Sayang. Udah semingguan nih gak olahraga. Nanti roti sobeknya hilang," ajak Ken sambil bercanda.
"Bentar aja ya?" Jawab Elvina malas.
"Siap Nyonya, satu jam aja." Ujar Ken, mood istrinya itu sedang tidak baik.
Elvina mengangguk, Ken membawa istrinya ke ruang fitnes yang ada di lantai dua. Perempuan itu hanya mengawasi Ken olahraga sambil sesekali menatap ke arah luar. Ruang fitnes itu memiliki jendela besar, yang menyajikan pemandangan dari taman.
"Ayok sini, Sayang. Temani Abang. Masa sendirian nih," panggil Ken. Elvina menoleh, lalu menggeleng.
"Apa mau sambil Abang gendong?" Goda Ken, mendekati istrinya. Dia bukan tanpa alasan membawa Elvina ke ruang fitnes. Hanya ingin istrinya itu keluar kamar agar tidak jenuh.
"Nanti keringetan, Abang. Males mandi lagi," tolak Elvina.
"Apa mau olahraga yang lain nih?" Ken menaik turunkan alis menggoda.
"Abang, awas ya. Aku gak mau mandi lagi." Teriak Elvina, Ken sudah menggendongnya berputar-putar.
"Turunin, Abaang." Kesal Elvina, memang dia gak olahraga. Tapi keringat Ken menempel di bajunya. "Ih, tuhkan aku jadi bau keringat Abang juga." Pekiknya sangat kesal.
"Nanti Abang yang mandiin kalau kamu malas mandi sendiri, aku sabunin, aku gosokin, aku manjain plus bonus aku kasih belaian hangat." Usil Ken dengan berbisik manja di telinga Elvina, lalu menurunkan sang istri dari gendongannya.
Bulu kuduk Elvina langsung meremang. "Itu sih maunya kamu," sarkasnya sebal.
"Maunya aku itu kita main terus." Ungkap Ken, sangat senang melihat istrinya mencak-mencak.
"Berhenti godain aku, Ken. Aku turun sekarang, nih." Ancam Elvina, wajah kesal tak dapat di tutupi lagi.
Elvina memutar bola mata jengah meninggalkan ruang fitnes. Ken tertawa geli lalu menyusul sang istri tersayangnya.
"Nana, Sayang. Kamu darimana, kenapa cemberut?" Tegur Ulfa yang berpapasan dengan menantunya.
"Dari ruang fitnes Mi, itu Abang ngeselin." Jawabnya sambil lewat, tidak berapa lama Ken mengikuti.
"Ken, kamu itu ya gak ada berhentinya ngusilin Nana."
"Biar gak diam terus Mi." Jawabnya sambil cengengesan lalu menyusul Elvina ke kamar.
"Tambah cantik gini kalau lagi cemberut." Ken memeluk Elvina dari belakang, menopangkan dagu di bahu sang istri. "Kita jalan-jalan mau gak, El."
"Gak mau, kamu ngeselin!" Ujar Elvina ketus.
"Aku gak ngeselin kok, Sayang. Aku ini gemesin. Coba deh lihat sini." Ken memutar tubuh Elvina menghadapnya. "Aku gemesin kan?" Ujarnya sambil menyeringai menampilkan deretan gigi.
"Mana yang gemesin." Elvina mencubit, pipi, hidung lalu dagu Ken kemudian menggeleng. "Gak ada satu bagian pun yang bikin gemes," sarkasnya.
"Ini yang bikin gemes, Sayang." Ken menuntun tangan Elvina sambil tersenyum jahil.
"Ken!" Teriak Elvina melengking, telinga Ken beberapa hari ini sudah kebal mendengar teriakan itu.
Bugh
Satu tinjuan mendarat di perut Ken, "sakit ayang bebeb." Adunya dengan wajah yang dramatis. Elvina melengos ke kamar mandi.
Ken menggaruk kepala, "pusing," gumamnya kemudian menjatuhkan diri ke sofa. Gimana lagi supaya istrinya itu berhenti murung. Ken memijat pelipis, lelah. Seperti menemani patung hidup saja, ini gak mau. Itu gak mau, disayang-sayang juga gak mau.