EL & KEN

EL & KEN
85



"Mau sampai kapan meratapi nasib seperti ini Ken? Kamu bisa mencarinya." Adnan duduk di samping sang adik.


"El gak mau dicari Kak. Dia ingin mengobati hatinya sendiri. El mau melupakan aku." Ucap Ken pelan tapi mampu menusuk telinga Adnan dengan nada keputusasaan.


"Allah tidak suka orang yang menyerah, putus asa dan lemah. Apalagi kamu seorang lelaki. Harus gagah berani menghadapi kenyataan. Buktikan pada Nana kalau kamu tidak pernah menyerah memperjuangkannya. Perempuan akan merasa sangat berharga kalau diperjuangkan."


Kalimat yang dilontarkan Attisya mampu membuat Ken menatap datar istri Adnan itu. Adnan menarik tangan istrinya pelan untuk duduk di sampingnya takut Ken menyakiti sang istri.


"Aku tidak mungkin menyakiti Kak Sya, Kak Adnan." Pekik Ken geram, dia merasa mendapatkan energi baru, tapi sang kakak malah merasa khawatir dengannya.


"Kamu natap Sya ngeri gitu, Ken."


Ken merengut menatap Adnan. "Lihat mataku, udah bisa saingan sama panda." Ucapnya setengah bercanda.


"Jangan gila Ken, kamu bikin kakak takut." Adnan merangkul pundak adiknya.


"Aku sudah gila sejak pertama kali El menolakku Kak." Adunya dengan perasaan terluka, Elvina tidak pernah mau melihat cinta tulusnya. Sampai Ken harus menyerah.


"Kalau Nana bukan jodohmu, kita gak bisa berbuat apa-apa Ken. Semua sudah ketentuan Allah."


"Aku akan tetap nego sama Allah biar El jadi jodohku."


Attisya tersenyum kecil, adik iparnya itu sangat mencintai Elvina. Dia berharap suatu saat nanti Adnan juga mencintainya.


"Terserah kamu, ayo kita pulang. Abi khawatir sama keadaanmu."


"Sebesar apapun kamu, itu tidak akan merubah kenyataan kalau kamu itu masih anak abi dan ummi. Orang tua mana yang gak khawatir kalau anaknya pergi."


"Pasti mama Kila sedih banget karena El pergi, Kak."


Adnan mendesah berat, dia salah bicara lagi. Harusnya tadi dia tidak mengungkit hal yang berbau sensitif.


"Kamu pulang, bersih-bersih lalu tidur. Temui El-mu itu dalam mimpi."


"El curang, dia punyak banyak hal yang bisa digunakan saat kangen aku. Sedang aku tidak punya satupun benda dari pemberiannya." Ucap Ken sendu, setiap kangen gadis itu dia hanya bisa menatap foto Elvina yang sedang tertidur di Medan dulu. Tidak ada kenang-kenangan lain yang spesial dari gadisnya


Aduh, Adnan salah lagi. Dahlah dia diam saja, setiap kalimat yang diucapkannya selalu dijadikan Ken ujung tombak untuk melukai dirinya sendiri.


Tanpa banyak bunyi Adnan menarik paksa Ken ke mobil.


"Aku masih pengen di taman Kak. Aku mau nitip pesan sama angin, biar dia sampaikan rinduku pada El." Racau Ken, Adnan sudah tidak menggubris lagi. Udara di luar semakin dingin, anak itu bisa sakit kalau terus-terusan diam di taman terbuka.


"Kapan aku bisa ketemu El, Kak. Kangen banget, empat hari rasanya empat tahun." Ucap Ken lebay, Adnan menggeleng pelan. Ingin rasanya dia memasukkan adiknya itu ke rumah sakit jiwa.


"Sabar Mas, namanya juga orang patah hati." Attisya berucap pelan agar tidak terdengar adik iparnya.


"Sakit hati sih sakit hati, tapi gak gitu juga Sya. Bikin yang jagain ikut gila." Balas Adnan pelan, setelahnya mereka tertawa bersama.


"Kalian nertawain aku? Tega banget, gak peka sekali sama yang lagi sakit hati." Omel Ken, Adnan ingin tertawa lagi, tapi mengurungkan niatnya karena dicubit Attisya.