
"Aku tidak tau dari mana kamu hadir Ken, tiba-tiba muncul dalam kehidupanku, merendahkanku dan sekarang kamu memperlakukanku dengan begini. Sungguh aku bingung dengan segala sikapmu, Ken." Elvina mengungkapkan isi hatinya untuk mendapatkan jawaban dari teka-teki Ken.
"Apa yang kamu rasakan dengan kehadiranku sekarang El, apa kamu bahagia?"
"Campur aduk Ken, ada marah, benci, rindu, senang."
Kali ini Ken akan membuat Elvina klepek-klepek, emang cuma gadis itu yang punya racun mematikan. Ken tersenyum dalam hati.
"El kamu begitu polos Sayang. Aku juga rindu denganmu."
"Ken berhentilah memanggilku dengan dua sebutan itu." Geram Elvina, hanya pemilik liontinnya yang boleh memanggil seperti itu.
"Aku candu memanggilmu begitu, El." Ken tidak berhenti tersenyum berada di samping gadisnya.
"Apa semua perempuan kamu perlakukan begini Ken?"
"Tidak, hanya kamu, sejak dulu hatiku sudah tertawan padamu El."
"Gomball, baru bertemu beberapa bulan juga bilangnya sejak dulu. Tidak perlu menggodaku dengan begitu Ken."
Tolong, Ken bisa membuat Elvina kehabisan napas dengan rayuan seperti ini.
"Aku suka senyummu, El."
"Awas diabetes."
"Jangan sebut itu, nanti Kak Adnan muncul di sini seperti waktu itu." Ken tertawa gelak diikuti El.
"Ken aku lapar..!" Pinta Elvina dengan manja.
Akhirnya Ken bisa melihat Elvina manja dengannya, dia suka Elvina yang terlihat lemah seperti ini. Membuat jiwa ingin melindunginya menggebu-gebu.
"Ayo kita makan tapi dengan satu syarat..!"
Mereka beranjak dari kursi taman menuju mobil yang terparkir. Ken membukakan pintu mobil, mempersilahkan Elvina masuk.
"Apa itu?" Elvina menatap Ken, mata Ken tak pernah berhenti memandangnya. Membuat Elvina gelagapan.
"Aku yang nyuapin kamu." Pinta Ken, dia juga ingin menyuapi Elvina seperti yang Adnan lakukan.
"Gak mau, Ken lihat jalan dong, aku masih belum mau mati sekarang." Geram Elvina karena Ken menyetir mobil sambil terus memandangnya.
"Kita mati sama-sama El, biar romantis." Ken tertawa "mau ya aku suapin?"
"Gak mau," tolak Elvina.
"Sama Kak Adnan mau." Ucap Ken dengan cemberut.
"Dia kakakku Ken."
"Malu kalau makan disuapi Ken." Kesal Elvina, tuhkan Ken bikin kesal lagi.
"Kita makannya ditempat sepi." Bujuk Ken
"Ogaaah!"
"Jadi makan gak nih!"
"Gak jadi." Sahut Elvina tak mau kalah, dia tau Ken hanya mengancam.
"Ganti deh syaratnya." Ujar Ken akhirnya.
"Apaaa?"
"Kamu yang nyuapin aku."
"Modus kamu Ken."
"Mau yaaa, please."
"Ogaaaah!"
"Susah bener minta disuapin doang, mau aku culik nih. Aku sekap di rumah kosong biar bisa makan berdua, tidur berdua. Pasti romantis banget." Goda Ken dengan menyeringai licik, Elvina jadi beneran takut.
"Ken jahaaat!"
"Aku baik Sayang, hanya kadang terlalu memaksa saja." Ujar Ken lalu tertawa melihat ekspresi wajah Elvina yang berubah-ubah. Ken memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan. "Makan di sini yaa?"
"Makasih Ken." Elvina tersenyum mengikuti Ken menuju sebuah meja. Ken menarikkan kursi untuk Elvina.
"Sekarang pesan sesukamu tapi bayar sendiri kalau gak mau menyuapi aku makan." Ken duduk di depan Elvina agar bisa terus memandang wajah manis itu. Menunjukkan buku menunya pada sang gadis lalu memanggil pramusaji.
"Ken kamu masih jahat, aku gak bawa duit." Ujar Elvina setelah pramusaji pergi dari meja mereka.
"Berarti kamu harus menyenangkanku di sini biar bisa pulang." Ken tertawa penuh kemenangan.
"Keeenn kamu baik deh." Elvina mengeluarkan senyuman manjanya untuk menggoda Ken.
"El, tidak perlu menggodaku dengan senyumanmu. Aku sudah tergoda sejak dulu denganmu Sayang."
"Gak jadi makan...!!" Rajuk Elvina
"Beneran, ya sudah kita pulang aja." Ken menarik turunkan alisnya, menggoda gadis itu.
"Ken makanannya sudah dipesan," Elvina memajukan bibirnya cemberut, "syaratnya ganti yaa?"
"Oke." Ken seolah berpikir. "Syaratnya kamu harus mengijinkanku datang ke rumah bersama Abi untuk melamarmu?"