
Elvina menatap beruang kecil pemberian Ken. Dia tidak tau kemana Ken pergi. Adnan memberi kabar kalau lelaki itu tidak pulang ke rumah setelah menemuinya pagi tadi.
"Aku tidak tau apa yang membuatku menolakmu, apa karena aku masih menunggu Azmi. Atau karena aku masih merasa dibodohi."
"Maafkan aku Ken, dari dulu aku mencarimu dan selalu menunggumu namun kita memang tidak ditakdirkan bersama. Papa sekarang aku sudah tau siapa yang memberikan boneka ini. Dia Ken Pa, dia juga memberikanku teman untuk beruang ini. Sangat cantikkan Pa." Elvina menciumi beruang biru di tangannya. Benar Ken, seperti katamu hidup memang selalu rumit.
"Lagi ngapain Na?" Kila masuk ke kamar putrinya yang terus menyunggingkan senyuman.
"Ma, coba lihat beruang ini selalu tersenyum padaku." Elvina menunjukkan beruang kecilnya pada Kila, tak lupa dia ikut tersenyum yang manis.
"Na, kenapa melawan hatimu?" Tanya Kila, tidak mempedulikan apa yang diucapkan Elvina. Dia sangat tau kalau putrinya itu sedang menahan diri untuk tidak menangis.
Elvina mengernyit lalu tertawa kecil. "Maksud Mama apa?"
Kila menatap Elvina dengan perasaan cemas. "Kamu mencintai Ken kan, Nak?"
"Mama bicara apa, sih?" Kekeh Elvina. "Jangan-jangan Mama yang kebelet pengen Ken jadi menantu, ya." Gadis itu menggoda sang bunda.
"Mama serius Na, kamu menyembunyikan perasaanmu dari Mama dan berusaha seolah bahagia."
Elvina menggeleng pelan, "Ayolah Ma jangan bahas ini." Lirihnya, dia sudah berusaha menahan diri untuk tidak terbawa perasaan. Tapi mama malah membahasnya.
"Tadi Paman telpon kalau Ken belum pulang ke rumah." Ujar Kila
"Mama jangan khawatirkan Ken, dia sudah besar tau mana yang terbaik untuk dirinya sendiri."
"Kenapa kamu seperti ini, Sayang?"
"Ma, aku ngantuk. Mau bobo dulu yaa, bye Mama sayang. Love you."
Elvina membaringkan tubuhnya, menghindari Kila yang terus membicarakan Ken. Kila menyelimuti putrinya dan mematikan lampu kamar sebelum beranjak. Benar seperti yang Adnan bilang ditelpon tadi, Elvina selalu menghindar kalau membicarakan Ken.
"Aku juga cemas Ma sama Ken. Tapi maaf aku tak bisa menampakkannya di depan kalian. Aku tidak ingin kalian sedih melihat kondisiku sekarang."
Elvina memejamkan matanya. Seharian ini dia sudah lelah, belum lagi ditambah memikirkan Ken. Semoga Ken tidak menghantui dalam mimpi juga, batinnya.
"Nana Sayang, anak Papa sudah dewasa sekarang. Jadi anak yang sholehah ya, Sayang. Ini ada kado sweet seventeen untukmu, dari orang yang sama pemilik beruang kesayanganmu itu." Papa membukakan hadiahnya yang berisi kalung dengan liontin bertuliskan EL.
"Papa, sekarang aku sudah tidak penasaran lagi dengan pemilik boneka ini. Aku menyayanginya Pa, dia Ken kan Pa." Elvina tersenyum bahagia.
"Keeeeennn..." Teriak Elvina dengan mata yang masih terpejam.
Kila yang mendengar suara putrinya berteriak segera berlari menyusul ke kamar. Baru saja terlelap Elvina sudah mengigau.
"Laa ilaaha illallah, Ken." Elvina terbangun dengan penuh keringat.
"Kenapa Na?" Tanya Kila setelah sampai di kamar. Gadis itu sudah dalam posisi duduk.
"Mimpi Ken Ma." Ujar Elvina madih bisa tersenyum, "tidak apa Ma, aku hanya belum terbiasa ditinggalnya pergi. Janji jangan cerita sama kakak dan paman yaa."
Kila tak bergeming, dia tak tega melihat putrinya tersiksa begini. Satu tetes air mata mengalir di pipinya.
"Ma, jangan menangis!" Lirih Elvina lalu memeluk sang mama. "Jangan menangis karenaku Ma, aku tidak ingin melihat Mama sedih begini."
"Nak jujurlah, Sayang, jangan terus seperti ini. Mama tidak ingin kamu bersedih."
Elvina menggeleng lalu menyunggingkan senyuman yang paling manis.
"Mama, aku masih belum tau apa yang sekarang aku rasakan. Aku ingin dia pergi tapi aku takut kehilangannya." Jelas Elvina, "Ma, biarlah Ken pergi menemukan cinta sejatinya ya. Mama ingin aku bahagia 'kan, cukup Mama jangan tanyakan tentang Ken padaku lagi ya Ma." Mohonnya, dengan sekuat tenaga Elvina menahan air mata agar tidak menetes. Untuk meyakinkan sang mama kalau dia baik-baik saja.