EL & KEN

EL & KEN
62



Lelaki dengan perawakan tegap dan rahang kokoh itu sudah tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta. Kacamata bertengger di pangkal hidungnya.


Besok pernikahan sang kakak, jadi dia kembali. Karena tidak ingin namanya dicoret dari kartu keluarga terpaksa Ken pulang.


Tempat ini terlalu banyak menyimpan luka yang belum sembuh juga. Tidak melihat wajah gadis itu selama satu bulan rasanya sangat tersiksa.


Setelah pernikahan kakaknya, Ken akan segera menikahi Aish dan membawanya ke Kairo. Dia sangat ingin bertemu dengan Elvina, tapi gadis itu tidak mengharapkan kehadirannya lagi.


Ken mengucapkan salam, tiga orang tersayangnya sudah menyambut di rumah. Padahal dia baru pergi satu bulan. Lelaki itu memeluk satu persatu kesayangannya lalu ikut bergabung duduk di sofa.


"Gimana kabarmu di sana, Ken?" Tanya Nazar, putranya nampak lebih cerah sekarang tidak seperti sebelum berangkat dulu. Mungkin Aish sudah bisa mengobati luka Ken.


"Alhamdulillah, seperti yang Abi lihat, Ken baik dan sehat." Jawabnya dengan tersenyum. "Kenapa calon penganten murung?" Goda Ken pada kakaknya. Lelaki yang digoda tak bergeming.


"Abi, Ummi setelah pernikahan Kak Adnan nanti lamarkan Aish ya, aku akan segera menikahinya. Dan membawanya ke Kairo." Ujar Ken sumringah, suasana ruang keluarga hening. Tidak ada yang menanggapi ucapan Ken.


"Kalian tidak senang aku menikah dengan Aish?" Tanyanya dengan penuh selidik. Ken mendesah berat, lagi-lagi tidak ada yang menanggapinya. "Kalian masih memikirkan El, dia sudah menolakku."


"Ken." Panggil Nazar setelah berdehem untuk melegakan tenggorokannya yang tercekat. Ken mengalihkan pandangannya pada Nazar yang menatapnya serius. "Apa kamu tetap akan menikah dengan Aish?"


"Tentu Abi, aku sudah berjanji dan akan segera menepatinya." Jawab Ken tegas.


"Abi, Nana tidak butuh aku. Dia terluka kalau berada di dekatku, Bi. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik."


"Nana butuh kamu Ken." Ucap Adnan dingin, Ken menggeleng pelan. Elvina terluka berada di sisinya. Ulfa hanya diam menyimak percakapan di ruang keluarga. "Tiga minggu yang lalu Nana diperk*sa Azmi, Ken." Lanjutnya dengan sendu.


Seketika Ken membeku di tempat, berharap apa yang telinganya dengar salah. Semua ini hanya lelucon kan agar dia tidak menikahi Aish.


"Kak Adnan tidak bercandakan? Itu tidak benarkan Ummi, Abi?" Tanya Ken dengan suara bergetar.


"Itu benar, Ken." Sahut Ulfa lirih tapi mampu memberikan hantaman keras untuk Ken. Hatinya berdenyut nyeri, kenapa dia terlalu bodoh berhenti berjuang dan menyerah begitu saja. Harusnya dia tidak membiarkan Elvina bersama Azmi.


"Aku tidak jadi menikah dengan Aish Bi," Ken membongkar isi kopernya mengambil barang yang sangat spesial lalu menyambar kunci mobil yang ada di meja. Arghh, bodohnya Ken yang pengecut ini. Bodohnya Ken yang begitu saja menyerah.


"Allah, kenapa harus dia yang terluka begini. Kenapa harus El-ku yang mengalami semua ini, Ya Rabb." Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Kenapa tidak ada yang mengabarinya. Kenapa semua diam membiarkan gadisnya berjuang sendirian.


Dia tidak bisa memaafkan diri sendiri karena sudah membuat Elvina mengalami hal terberat dalam hidupnya.


Kemana dia saat El, butuh. Apa artinya cinta ini kalau tidak bisa melindungi orang yang dicinta. Sepanjang jalan Ken meruntuki dirinya sendiri. Penyesalan terbesar sepanjang hidupnya karena memilih berhenti peduli.


Huft. Ken siap dibenci Abi Zayid dan Aish. Dia akan memperjuangkan El-nya kembali. Seberapa sering Elvina menolak dan mengusirnya dia akan tetap berjuang. Ken tidak akan menyerah lagi. Tak terasa satu tetes embun bening terjatuh bersama penyesalannya.