
"Hei, siapa yang menampar pipi kamu? Aku sudah bilang hati-hati kalau lagi di luar saat gak ada aku." Cerca Ken marah. "Kamu mau gak aku bolehin keluar lagi?"
Elvina menunduk, menahan air matanya agar tidak jatuh. Tau, Ken marah karena takut dia kenapa-kenapa. Tapi tetap saja sakit kalau suara kasar itu terucap dari mulut orang yang sangat dicintainya.
"Ken, tahan emosi." Adnan menepuk bahu adiknya agar tidak memarahi Elvina. "Sya ambilkan es buat mengompres."
Attisya mengangguk, beranjak ke dapur lalu kembali dengan kompresan es batu.
"Udah Ken." Erfan mengambil kompresan lalu menempelkan di pipi Elvina dari belakang sofa. "Lo tenangin diri dulu kalau lagi emosi, gue yang urus Nana."
Tanpa suara Ken meninggalkan ruang tengah. Elvina menatap sendu kepergian suaminya. Setelah dikata-katai Deo dengan kasar dan di tampar dia masih bisa tersenyum. Tapi mendapati suaminya yang marah seperti itu Elvina jadi sedih.
"Udah biarin Ken mendinginkan kepalanya dulu." Attisya duduk di samping Elvina memberikan segelas teh hijau, "minum dulu."
Elvina meminumnya sedikit lalu meletakkan gelasnya ke meja.
"Siapa yang nampar kamu?" Tanya Erfan lembut, saat Adnan masuk ke kamar dan Attisya memasak di dapur. Hanya tertinggal mereka berdua di ruang tengah.
"Deo," lirih Elvina seraya menyandarkan kepalanya di sofa.
"Apa perlu aku bunuh dia, hm." Erfan tidak rela kesayangannya ini dilukai orang lain. Elvina tersenyum miring padanya.
"Gak semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan dan berakhir dengan pembunuhan."
"Dia gak cuma saku kali nyakitin kamu Na, aku gak rela ada yang membuatmu terluka begini." Erfan menahan diri untuk tidak memeluk perempuan di depannya ini.
"Aku masih sehat Erfan, masih bisa bernapas. Masih bisa berdiri dengan kedua kakiku. Kalian jangan berlebihan." Elvina mendengus kesal, kenapa lelaki bisanya menyelesaikan masalah dengan emosi.
"Oke," Erfan mengangkat tangannya menjauh dari Elvina, dia masuk ke kamar tamu.
Huft. Elvina mendesah berat, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. Lalu merubah posisi berbaring di sofa. Dua hari lagi dia selesai belajar, sisa waktunya untuk menyiapkan fashion show nanti. Berubah haluan ke desainer ternyata tidak terlalu buruk. Elvina masih bisa menyalurkan hobi menggambarnya.
Ken mendinginkan kepalanya di bawah shower. Dia emosi karena istrinya itu selalu ngeyel kalau di kasih tau. Sudah diingatkan berkali-kali untuk selalu berhati-hati. Malah sangat suka mendekati bahaya.
Sudah cukup lama berada dalam kamar. Ken mencari Elvina di ruang tengah. Tempat itu sepi, hanya ada istrinya yang tertidur di sofa.
"Bangun El, sudah hampir maghrib." Panggilnya lembut, Ken menyambut Elvina yang baru membuka mata dengan senyuman.
"Maaf," cicit Elvina. Setelah berhasil membuka mata.
"Kamu gak salah, aku yang terlalu khawatir kamu terluka sampai marah-marah." Ken membawa Elvina dalam pelukan. Setelahnya menggandeng istrinya masuk ke kamar. Membuka pintu dan mendudukkan di sofa.
"Mau mandi dulu apa mau cerita nih?"
"Mau peluk." Elvina mengalungkan tangan di leher Ken dengan manja.
"Dia ngomong apa lagi, hm?"
"Aku gak pantas pakai jilbab karena gonta-ganti pasangan. Katanya aku perempuan munafik dan murahan." Elvina membenamkan wajahnya di bahu Ken. Dia tidak menangis, hanya mencari kenyamanan di sana. Kata-kata itu tidak berpengaruh apa-apa kalau orang lain yang mengucapkan. Asal jangan Ken.
"Istri Abang gak seperti itu, jangan sedih." Ken mengelus punggung Elvina bolak-balik untuk memberikan ketenangan.
"Aku gak sedih, asal bukan kamu yang bilang begitu."
Sejenak Ken tertegun, dia pernah mengatakan Elvina perempuan murahan dulu. Pasti itu sangat menyakitkan.
"Aku tadi tendang burungnya dua kali sampai dia kesakitan. Terus akting jadi pacar Kak Adnan di depannya." Ucap Elvina dengan ceria saat Ken tidak bersuara.
"Oh ya, keren banget sih istri siapa ini?" Ken memberi jarak tanpa melepaskan pekukan, mencubit pelan pipi kesayangannya.
"Istri tetangga yang hilang." Jawab Elvina asal dengan tertawa kecil.
"Ingat besok-besok jangan keluar rumah sendirian. Kalau El gak mau Abang penyet si Deo-deo itu."
"Jadi Deo penyet dong, bukan ayam penyet." Katanya sambil memanyunkan bibir.
"Jangan pasang tampang menggemaskan kalau gak mau diajak olahraga sekarang." Ken mengingatkan, Elvina langsung kabur ke kamar mandi. Khawatir jadi mangsa suaminya sendiri.