
"Jangan sedih, Ken tidak mengusirmu. Dia hanya tidak mau kamu terluka lagi. Kamu sabar ya, aku yakin kamu bisa bantu menyembuhkan ketakutan Ken." Attisya menenangkan saudara iparnya, "kalian akan bisa melalui semua ini." Lanjutnya seraya memeluk Elvina dengan erat.
"Aku tau, tapi kok tetap sakit ya Kak, dengar Ken marah-marah." Adu Elvina untuk melegakan sesak yang beberapa saat lalu mampir menghimpit rongga dadanya.
Attisya tidak tau cara menenangkan orang yang sedang sakit hati. Selain berdiam diri dan menjadi pendengar yang baik. Seribu kali ucapan sabar tidak akan berpengaruh apapun. Itu hanya terdengar bullshit yang bisa menjatuhkan mental.
Orang yang mengadu itu bukan karena tidak sabar. Mereka hanya sedang lelah dengan masalah yang mendekat.
"Apa yang bisa bikin hati kamu lega, Na. Mau menangis? Menangislah, kalau itu bisa mengurangi sesak di dadamu."
Elvina mengurai pelukannya lalu menggeleng, "aku baik-baik aja, Kak. Kakak istirahat gih sana biar cepat jadi dedek di sini." Ujarnya sambil tersenyum kecil mengelus perut Attisya.
"Apa hubungannya, Nana." Kesal Attisya, dia sedang berbicara serius penuh penghayatan. Si empunya malah menanggapi seperti itu.
"Ayo aku antar Kakak ke kamar, nanti kepleset di jalan." Kata Elvina lebay dengan cengiran lebar.
"Kamu itu tambah menyebalkan kalau pura-pura tertawa begitu."
Elvina hanya menanggapi kekesalan Attisya dengan senyuman. Dia membawa istri Adnan itu beranjak dari kamarnya. Anggaplah Elvina mengusir secara terhormat.
Setelah membuat Attisya kembali ke kamarnya, Elvina mengintip suaminya yang berada dalam pelukan sang kakak.
Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Ken. Kenapa Ken tidak suka melihatnya sejak kecelakaan itu. Gadis itu betah mengawasi suaminya dari pintu. Adnan tau kalau dia ada di sini.
"Ada Nana, kamu mau melihatnya?" Tanya Adnan setelah Ken sudah lebih tenang. Dia tidak akan memaksa, kalau adiknya belum mau bertemu Elvina.
Ken mendekati istrinya yang masih berdiri di depan pintu. Dia menggenggam tangan Elvina lalu membawanya kembali ke kamar.
"Tidur gih," ucapnya lembut setelah ikut berbaring di samping sang istri.
"Kepalanya masih sakit?" Tanya Elvina seraya menyisir rambut Ken dengan jemarinya.
"Udah gak separah tadi, maaf ya udah ngebentak kamu." Ken membelai lembut pipi sang istri.
"Apa yang membuat kamu benci aku?"
"Setiap melihat wajahmu aku seperti melihat orang yang menyebabkan El-ku pergi. Aku benci dengan orang yang membuat aku terpisah dengan El."
Elvina tertegun, "aku memang orang yang selalu membuatmu terpisah dengan El." Lirihnya pelan, "aku yang selalu menolakmu, aku yang selalu memaksamu pergi, aku juga yang membuatmu terpaksa untuk menerima Aish."
"Kenapa kamu lakukan itu El, kenapa? Kenapa kamu sangat ingin aku pergi. Apa kamu tidak mencintaiku." Ujar Ken dengan tatapan yang berubah tajam. Dia benci mendengar pengakuan itu. Dia benci mengetahui kalau El yang selalu ingin berpisah darinya.
"Maaf Ken." Elvina tidak menemukan kelembutan lagi dari mata itu. Dan dia tersadar kalau sudah membuat Ken terpancing emosi. Gadis itu beringsut turun dari ranjang. Dia takut Ken tidak bisa mengendalikan diri.
"Argh!" Ken bangkit menghambur semua benda yang ada di meja.
Elvina berlari meninggalkan kamar melihat suaminya jadi beringas lagi. Huft, dia salah bicara. Harusnya dia tidak mengungkit hal yang dapat membuat Ken terluka. Secepat itu emosinya berubah, Elvina menggeleng tak percaya.