
Calon ayah itu kegirangan mendengar hasil pemeriksaan yang dokter sampaikan. Memeluk istrinya yang menangis bahagia. Akhirnya Allah mengabulkan doa-doanya selama ini.
“Abang, aku hamil.” Elvina membenamkan wajahnya dalam pelukan Ken.
“Iya Sayang, kita akan punya baby.” Ken membawa istrinya pulang setelah mengucapkan terimakasih pada sang dokter. Tak henti-hentinya syukur itu terucap dari bibirnya.
“Tapi gado-gadonya jadi ya Bang.”
“Jadi Sayang, ayo kita cari sekarang.” Ken merangkul istrinya sampai ke parkiran.
Setelah makan gado-gado di pinggir jalan, sesuai keinginan Elvina. Ken ingin segera sampai ke rumah memberikan kabar bahagia untuk Ummi dan Abi. Kebahagiaan ini tak dapat diucapkannya dengan kata-kata.
“Abi! Ummi!” Teriak Ken, Elvina hanya senyam-senyum melihat tingkah suaminya. Ulfa dan Nazar bergegas keluar mendengar putra bungsunya berteriak.
“Ken ada apa?” tanya Ulfa kebingungan pada Ken menghambur kepelukannya. Kebahagiaan Ken tak bisa digambarkan dengan apapun.
“Ummi aku akan jadi Ayah,” pekiknya dengan gembira. Ulfa dan Nazar terdiam sebentar mencerna ucapan Ken lalu mengucap syukur setelah menyadari perkataan putra bungsunya.
“Alhamdulilla,” Nazar memeluk Elvina, “terimakasih Sayang, cucu Abi sebentar lagi dua.” Ulfa memeluk Elvina setelah sang suami melepaskan pelukannya.
“Selamat Sayang, nitip cucu Ummi ya.” Elvina menggangguk, terharu dan sangat bahagia. “Mau makan apa, biar Ummi masakkan Sayang.”
“Barusan makan gado-gado Ummi," sahut Elvina. Pasangan paruh baya itu sangat antusias mendengar berita kehamilannya.
“Abi, Ummi aku bawa El istirahat dulu yaa.” Ken membawa istrinya ke kamar, menggendongnya dengan bahagia sampai ke ranjang.
"Terimakasih Sayang, Abang sebentar lagi jadi ayah." Ken membawa istrinya dalam pelukan, tak ingin melepaskan perempuan pujaan hatinya itu saking bahagianya.
"Abang, aku gak bisa napas." Adu Elvina, Ken memeluknya dengan sangat kuat seperti orang kesurupan.
"Maaf Sayang." Ken menciumi kepala istrinya sampai puas.
"Aku sangat bahagia Bang, terimakasih selalu ada di sisiku."
"El, ngomong apaan sih. Abang pasti akan selalu ada di sisimu sampai kapanpun Sayang. Kamu jaga kesehatan ya sampai lahiran Cinta." Elvina mengangguk, betah dalam pelukan sang suami.
Ulfa mengadakan syukuran kecil-kecilan, mengundang kerabat dekatnya. Kebahagian yang tak terkira, Elvina semakin tak mau jauh dari sisi suaminya. Kemanjaannya bertambah, membuat Ken harus ekstra sabar menghadapinya lagi.
Erfan menatap nanar kemesraan Elvina sambil tersenyum. Sampai detik ini pun perasaannya masih belum berubah. Perempuan itu tak bisa digantikan dengan siapa pun.
"Udah! Move on dong, sampai kapan mau menderita mulu lihat mantan gebetan bahagia." Senggol Adnan pada Erfan saat acara sudah berakhir. Mereka berdiri di depan teras melepaskan tamu-tamu yang berpamitan pulang.
"Lagi usaha, tapi masih belum bisa." Erfan tersenyum tipis menutupi perasaannya. Hatinya memang sakit tak pernah diungkapkannya pada orang lain. Tapi dia juga bahagia melihat pujaan hatinya tersenyum bahagia.
"Cari penggantinya Erfan, selama kamu masih jomblo ngenes seperti ini akan sulit melupakannya." Erfan menganggukkan kepala menanggapi ucapan Adnan, dia malas berdebat panjang lebar. Apalagi perihal perasaannya yang sangat sensitif.
"Iyalah, anak manja itu mana bisa jauh dari kita." Jawab Adnan sinis.
"Yee, adik ipar sendiri juga," Ken mencebik. "Jadi kamu mau balik lagi ke London Fan."
"Itu lebih baik dari pada aku terbakar api cemburu terus menerus di sini." Erfan terkekeh geli diikuti Adnan.
"Ngomong aja sendiri sama El, gue gak ikutan kalau dia ngambek." Ken mengangkat bahunya dengan menyeringai.
"Istri sendiri aja gak bisa jagain." Adnan menyentil jidat adiknya. Ken terkekeh, mengusap-usap jidatnya. "Kalian gak tau aja gimana susahnya jadi pawang El, haha." Mereka sama-sama tergelak.
Ken tau Erfan— sang sahabat juga Adnan— sang kakak masih sangat menyayangi istrinya. Tapi semua itu tidak penting, karena dia tau dua orang tersayangnya ini takkan mengambil kesempatan. Elvina hanya menginginkannya, bukan dua orang disampingnya ini.
"Sayang!" Setelah meninggalkan Erfan dan Adnan, Ken mendatangi istrinya ke kamar. Perempuannya itu sedang asyik menatap iPad di depannya sampai tak mendengar panggilannya. Ken memeluk Elvina dari belakang. "Sibuk banget sampai gak denger dipanggil." Katanya sambil memutar kursi Elvina untuk menghadap wajahnya.
"Maaf Bang, lagi bikin gambar." Elvina menyeringai mengusap kepala suaminya yang berjongkok di depannya.
"Istirahat yuk, nanti lagi dilanjut." Ken menuntun istrinya ke ranjang. Tidak bisa dibiarkan kekasihnya itu bersama iPad karena bisa lupa diri kalau sudah terjun dalam dunia menggambar.
"Kesehatanmu lebih penting." Ken ikut duduk di sisi istrinya, yang hanya manggut-manggut.
"Abang ngomong loh dari tadi Sayang." Ken geram dengan Elvina yang cengengesan tapi tak menanggapi ucapannya.
"Aku denger kok Bang." Elvina terkikik, ekspresi suaminya sangat lucu dan menggemaskannya. Dicubitnya kedua pipi Ken. "Bawel banget sekarang ya."
"Ihh sakit tau." Ken meringis menahan kedua tangan istrinya di pipi. "Cintaku makin cantik sekarang, bidadari pun pasti ngiri liat kamu." Pipi Elvina bersemu kemerahan karena pujian Ken. "Gemes banget tau liat pipimu yang tambah tembem." Ken mengecup kedua pipi Elvina bergantian.
"Idiih Abang." Elvina menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pipinya terasa memanas, setiap sentuhan Ken membuat jantungnya berdegub kencang.
"Sama suami sendiri masih malu-malu." Ken menarik lembut kedua tangan istrinya di pipi. Memangkas jarak antara keduanya. Mendekatkan bibirnya tepat di bibir Elvina, kemudian menikmati setiap sentuhan yang diciptakannya. Membuat tubuh Elvina menegang dan meminta lebih. Ken mengakhiri kenakalannya dengan mencium leher Elvina. Sengaja ingin membuat si empunya merasa kecewa karena berharap lebih.
Seringaian jahat terpampang jelas diwajah Ken, Elvina merengut mengalihkan pandangannya.
"I Love You istriku Elvina Mufida Ilman, terimakasih sudah memberikanku kebahagian yang tak ternilai ini. Teruslah di sampingku sampai di surga kelak. Tetaplah menjadi istriku yang paling manja." Elvina tak menghiraukan ucapan suaminya. Menjatuhkan kepalanya dalam pelukan sang suami yang selalu memberikan rasa nyaman dan tenang.
"I Love You too suamiku. Bawalah aku kemana pun kamu pergi." Ken mengangguk meski tak dapat dilihat oleh istrinya.
"Selalu Sayang, kamu akan selalu berada di sisiku. Kita akan menjadi seperti sepasang sepatu, tidak akan berguna jika salah satunya hilang."
"Akulah pengobat lukamu sekarang Sayang, jangan pernah bersedih lagi. Kita jalani semua ini sama-sama ya." Ken mengeratkan pelukannya yang dapat menghipnotis kekasihnya.
...TAMAT ...
Terimakasih semuanya🙂