
Sore ini Elvina sudah berjanji ketemu sahabatnya di cafe dekat taman. Cafe sekaligus toko cake. Elvina suka chocolate cake di tempat itu.
"Na, kamu di mana? Tanya Fany lewat telpon.
"Aku sudah disekitar taman Fan, tinggal menyeberang. Tunggu sebentar ya." Sahut Elvina.
"Oke. Aku tunggu Na." Fany menutup telponnya.
"Inilah pembalasanku karena kau selalu menyakiti orang yang aku sayang Na." Batin Fany, dia tidak suka Elvina menyakiti kakaknya.
Fany yang mengawasi Elvina sejauh dua puluh meter, melajukan mobilnya dengan cepat ketika gadis itu mau menyeberang jalan. Suasana sekitar taman sepi jadi tidak akan ada yang curiga, semua akan terlihat seperti kecelakaan biasa.
"Tepat sasaran, sekarang kamu tidak akan selamat Nanaku sayang." Desisnya setelah berhasil mengenai sasaran.
Brukkk... Mobil menghantam trotoar.
"Kamu tidak akan selamat Na." Fany tersenyum miring. Dia keluar dari mobil dan melihat tidak ada bekas darah. Seberani itu dia, otaknya memang gila. Fany tidak takut dengan polisi, dia bisa bebas dengan uang yang papinya jaminkan nanti.
"Aku sudah melajukan mobilnya sangat cepat, dan Nana tepat di depanku. Tidak mungkin Nana lepas sasaran." Kesalnya menendang ban mobil, sia-sia, yang ada mobilnya harus masuk bengkel.
Elvina terpelanting ke belakang karena ada yang menariknya. "Alhamdulillah ya Allah, aku selamat." Ringisnya seraya menahan sakit. Tangan kanannya menghantam trotoar.
Elvina menoleh penasaran dengan orang yang menariknya. "Kak Adnan, kamu mengikutiku."
"Kamu terluka Na, kalau aku tidak mengikutimu, kamu tidak akan selamat. Kita pulang sekarang." Geram Adnan, gadis itu tidak akan percaya kalau dia menjelaskan yang sebenarnya. Lelaki itu membantu Elvina berdiri.
Fany menatap ke belakang mencari Elvina. Dilihatnya Elvina terjatuh dan di sampingnya ada seorang lelaki.
"Shiitt, lelaki itu menyelamatkan Nana lagi. Kali ini aku gagal. Tapi lain kali tidak, Na." Terpaksa dia harus akting lagi, Fany mengejar Elvina yang terpelanting dan mendekatinya.
Adnan tidak akan tinggal diam, dia akan mengingat gadis di depannya ini. Membuktikan kalau Fany sengaja ingin mencelakai Elvina.
"Alhamdulillah aku tidak terluka Fan, Kak Adnan menolongku."
"Aku antar kamu pulang ya Na," tawar Fany.
"Tidak perlu Fany, biar aku yang antar Nana. Ayo Na kita pulang."
"Maaf Fan, nanti saja kita ketemunya ya. Aku pulang dulu." Fany hanya mengangguk dan mengutuk dirinya karena gagal mencelakai Elvina.
Adnan menuntun Elvina menuju mobil dan membukakan pintu. Membantu gadis itu memasang sabuk pengaman.
"Na, jangan temui Fany lagi!" Tegas Adnan, setelah dia duduk dibalik kemudi lalu melajukan mobil menuju rumah Elvina.
"Kenapa, Kak?"
"Nanti kamu akan tau sendiri Sayang, tanganmu masih sakit?" Adnan tidak bisa mengatakan alasannya kalau tidak ada bukti. Elvina akan menganggap itu hanya omong kosong.
"Sedikit." Sahut Elvina lemas, dia masih bingung dengan ucapan Adnan. Setelahnya suasana mobil hening. Tidak ada yang berbicara lagi. Adnan memarkirkan mobilnya di depan rumah Elvina. Lalu membantu gadis itu turun dari mobil.
"Nana, kamu kenapa?" Tanya Kila yang menyambut Elvina di depan pintu.
"Tadi terjatuh Ma, tidak ada yang terluka hanya lecet di tangan sedikit." Jawab Adnan menenangkan Kila agar tidak khawatir.
"Makasih ya Nan sudah mengantar Nana pulang." Ucap Kila, Adnan mengangguk lalu berpamitan pulang.
Setelah berada di mobil lelaki itu menghubungi seseorang. "Kirim semua bukti padaku, segera." Ujarnya lalu mematikan sambungan telepon. Fany sudah sangat gila, dimana otak gadis itu, geram Adnan.