
"Malam Sayang," Erfan mengambil posisi duduk tepat di samping Elvina, tidak berhenti menggoda istri Ken itu.
"Sayang, sayang, jangan kebanyakan ngobral sayang. Kayak pakaian gak laku aja diobral," Elvina berdecak sebal.
"Galaknya sayangku ini," Erfan menoel hidung Elvina gemas sambil terkekeh geli.
"Eiittss, no sentuh-sentuh istri gue." Ken datang menangkis telunjuk Erfan yang hampir menyentuh hidung istrinya.
"Keen, Erfan jahat!" Adu Elvina manja, merentangkan tangan minta dipeluk suaminya. Ken segera menyambutnya.
Lelaki yang disebutkan namanya mendengus sebal. "Keen, Erfan jahat." Erfan meniru ucapan Elvina dengan nada mengejek.
"Kita ke kamar aja ya Cinta kalo di sini ada penjahat." Ken balas tersenyum mengejek pada Erfan, dia selalu menang kalau urusan menggoda sahabatnya itu.
"Aku mau nonton tv di sini. Dia aja yang diusir." Rengek Elvina semakin manja.
Erfan mendelik, kenapa istri Ken ini suka bikin kesal kalau otaknya lagi waras.
"Heh, gak bisa main usir-usir ya, aku juga anak abi dan ummi." Sarkas Erfan tidak terima.
"Baru anak pungut juga bangga!" Balas Elvina tidak mau kalah.
"Ummi, menantu Ummi ini boleh dikarungin gak?" Teriak Erfan nyaring. Perempuan paruh baya itu tergopoh-gopoh mendatangi ruang tengah.
"Ada apa teriak-teriak Erfan?"
"Aku mau ngarungin menantu Ummi yang ngeselin ini," aku Erfan sebal.
"Berani ya kamu mau ngarungin menantu kesayangan Ummi." Ulfa menjewer telinga Erfan pelan.
"Aduuh sakit Ummi!" Teriak Erfan dramatis, televisi dianggurin gara-gara perdebatan Erfan dan Elvina.
"Lebay!" Ulfa memutar bola mata jengah, perasaan dia menjewer pelan kenapa teriakannya melebihi suara motor butut.
"Berisik malam-malam ada apa sih, gangguin Sya tidur aja." Tegur Adnan kesal, ibu hamil satu itu tengah manja-manjanya. Membuat kepala Adnan tambah pusing saja.
"Nana, jangan nakal ya. Gak boleh gangguin Erfan terus."
Erfan tersenyum smirk, Adnan membelanya. Lelaki itu memeletkan lidah pada Elvina.
"Keen, Kak Adnan bilang aku nakal." Katanya dengan nada sok sedih, Ken melotot pada kakaknya. Nambah masalah saja.
"Kita ke kamar aja ya Sayang. Nonton tv di kamar enak, bisa manja-manja." Bujuk Ken, istrinya itu menggeleng.
"Dah lo pulang aja sana!" Ken mengusir Erfan, dia lelah mengurus Elvina kalau ada lelaki itu.
"Ogah, gue yang duluan duduk di sini."
Ulfa menghela napas lelah, "Abiiii!" Pekik perempuan paruh baya itu nyaring. Anaknya cuma dua, tapi kenapa sekarang jadi nambah.
"Ada apa Mi?" Nazar datang dengan tergesa-gesa.
"Urus anak pungut sama menantu Abi ini, semuanya gak ada yang mau ngalah."
"Nanti Abi tambahin tv dua lagi di sini biar gak ada yang rebutan." Ujar Nazar asal, Ulfa mendelik. "Itu bukan solusi," gumamnya kesal.
"Dah lah, Ummi pusing ngurusin kalian." Katanya kemudian berlalu meninggalkan ruang tengah.
Adnan menggaruk kepala yang tidak gatal lalu ikut kembali ke kamar.
"Kalian kenapa sih, suka banget berantem yang gak jelas." Tegur Nazar pada dua orang itu.
"Dia duluan godain aku, Abi." Elvina menunjuk Erfan dengan wajah cemberut.
"Yang sehat ngalah, Erfan!" Peringat Nazar pada Erfan, si empunya hanya menyengir lebar. Pria paruh baya itu beranjak dari ruang tengah. Sudah jam setengah sepuluh malam, masih saja dua anak itu bikin ulah.
Nazar menghela napas panjang. Kalau menantunya pendiam dia jadi bingung, tapi kalau sudah cerewet seperti ini dia juga dibikin repot. Akhirnya Erfan mengalah ikut kabur ke kamar.
"Suka banget sih ngusilin Erfan." Ken mencubit pipi Elvina sambil tersenyum geli. Perempuan itu hanya menjawab dengan tawa.