
"Jatah lo!" Deo menyodorkan amplop yang berisi uang dengan kasar.
"Saya tidak butuh uang anda," perempuan itu menggeser uang yang ada di hadapannya.
"Jangan sok jual mahal. Lo akan memerlukan uang ini nanti," lelaki itu menyeringai licik.
"Anda tidak sedang menjebak saya kan?" Tanya Claudia khawatir, Deo nekat datang ke kliniknya lagi.
"Untuk apa? Lo itu gak penting buat gue!" Desis Deo tepat di depan wajah Claudia, setelahnya dia pergi sambil bersiul.
Apa yang tidak dia tau semua tentang Ken dan Elvina. Deo sudah menyelidiki sampai ke akar-akarnya. Sangat mudah menghancurkan perempuan gila itu.
Haahh, kenapa dia harus jatuh cinta dengan perempuan tidak waras.
"Kamu ini gak ada sadar-sadarnya ya, apa Mommy harus kirim kamu ke rumah sakit jiwa sekarang juga!" Bentak Dina marah, seharian ini dia mengikuti putranya diam-diam.
"Mommy apaan sih ngikutin aku!" Deo terpekik kaget mendapati Dina yang sudah berdiri di depan mobilnya dengan tatapan elang.
"Sekarang pulang, Mommy mau bawa kamu ke kantor polisi!" Desis Dina, kesabarannya benar-benar sudah habis menghadapi putranya ini. Mau ditaroh di mana mukanya berhadapan dengan Erland dan keluarganya nanti.
"Mommy ngomong apa sih, aku cuma mengunjungi psikiater biar gak gila." Jawab Deo asal, sudah terbiasa menghadapi mommy-nya yang marah-marah dengan candaan.
"Pulang!" Teriak Dina tidak main-main, Deo menurut. Mommy-nya sedang tidak bisa diajak bercanda.
Kenapa sih harus sang mommy tersayang yang menggagalkan rencananya. Deo jadi tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau orang lain dia bisa saja menghancurkannya, lah ini, si mommy-nya sendiri. Bisa-bisa dia dikutuk jadi patung air mancur nanti.
Di kendiaman Nazar, setelah selesai membuat perempuan itu buka suara dan meminta maaf pada istrinya Ken membawa Elvina kembali ke kamar.
"El cepat pulih ya, Sayang." Lanjutnya sambil mengusap rambut Elvina dengan sayang.
Ken menyerahkan urusan Claudia pada Adnan. Biar kakaknya yang menyelesaikan semuanya. Dia tidak bisa meninggalkan Elvina sendirian terlalu lama.
"Makasih Ken, aku sayang kamu." Elvina melingkarkan tangannya ke leher Ken. "Aku sehat, gak sakit." Lanjutnya sambil tersenyum kecil.
"Aku juga sayang banget sama kamu, Cinta. Jangan bikin aku khawatir lagi ya, kita lalui semua ini sama-sama. Kamu jangan merasa sendirian." Sangat sering Ken mengingatkan kalimat itu, dia tidak mau Elvina merasa terpuruk sendirian.
Elvina mengangguk, lalu mengecup singkat bibir Ken. Hanya mengecup, tidak melakukan apa-apa.
"Cuma itu hadiahnya, Sayang?" Rayu Ken.
"Jangan banyak-banyak, nanti kecanduan." Ujar Elvina sambil terkekeh kecil, menyandarkan kepalanya di dada bidang Ken. "Nyaman banget dipeluk gini," tangannya membawa tangan Ken melingkari pinggangnya.
"Semua ini milik kamu, Sayang. Jangan ragu buat pulang kalau kamu lelah." Ken menciumi puncak kepala Elvina, wangi sampo menguar ke hidungnya.
"Aku gak akan pulang, karena aku gak akan pernah pergi dari sini." Satu tangan Elvina menempel di dada Ken.
Ken mengambil tangan itu lalu mengecupnya. Dia sangat bersyukur, Elvina tidak bersedih terlalu lama. Istrinya sudah lebih kuat sekarang.
"Makasih sayangkuh, aku bangga sama kamu. Terimakasih sudah menjadi istri hebat ya, Sayang."
Elvina mengangguk, lalu tersenyum. Berjanji pada dirinya sendiri, tidak ingin membuat Ken khawatir dan sedih lagi karena dia terlalu lama terpuruk.