EL & KEN

EL & KEN
20



Adnan melirik Ken yang berdiri dihadapannya. Adiknya itu mematung tak berkutik. Entah perasaan apa sekarang yang ada di hatinya. Menyesal karena membuat gadisnya tersiksa atau bahagia mengetahui kenyataan Elvina juga merindukannya.


"Nanti aku bantu cari orangnya ya, Pak Nazar pasti tau, diakan juga teman Papa Al." Ucap Adnan menenangkan.


"Makasih Kak." Elvina memasang kembali kalung ke lehernya.


"Kamu istirahat ya Na, apa mau ke kamar?" Tanya Adnan lagi.


"Di sini aja, Kak."


"Baiklah, Sabil tolong jaga Nana sebentar ya. Ken ayo ikut aku."


Adnan menarik Ken yang masih mematung keluar ruangan. Membawanya ke sebuah tempat yang seperti taman namun tidak ada bunga di sana. Hanya tempat bermain anak-anak.


"Ken, akhirilah semua ini. Kasihan Nana, dia sangat tersiksa." Sentak Adnan, dia sudah tidak tega melihat gadis itu selalu dihantui mimpi.


"Apa kalau dia tau aku pemilik kalung itu, dia mau menerimaku kak?"


"Dia pasti menerimamu Ken, dia sangat merindukanmu. Nana masih belum menyadari inisial di belakang liontin itu Ken. Aku akan membongkarnya sekarang..!" Tegas Adnan


"Jangan sekarang, Kak, kumohon. Setelah kita pulang saja ya. Aku tidak bisa melihatnya marah karena itu. Kalau karena pekerjaan itu sudah biasa. Please Kak, setelah semua kerjaan kita di sini selesai aku janji akan mengakhirinya."


"Oh Ken betapa pengecutnya dirimu, andai diungkapkan sejak delapan tahun yang lalu kamu sudah bisa menikah dengannya sekarang." Marah Adnan, dia benci sifat pengecut adiknya ini.


"Kak, waktu itu El masih sangat muda. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaannya."


"Tapi kamu sudah menyiksanya dengan rindu bertahun-tahun Ken."


"Aku juga tersiksa Kak, tapi ini pilihan yang terbaik. Tolong jangan bongkar di sini ya Kak." Mohon Ken, sungguh dia sangat takut Elvina marah padanya. Dia memang sepengecut itu.


"Ya, ini terakhir aku menuruti kemauanmu Ken." Adnan beranjak meninggalkan adiknya. Mengurus dua orang itu membuatnya pusing.


...*** ...


"Kak, ijinkan ini terakhir kali aku bersikap begini pada El ya. Setelah ini tidak lagi, aku janji Kak." Mohon Ken dengan berbisik di telinga kakaknya.


"Terakhir, harus ditepati." Sahut Adnan mengabaikan tatapan memohon Ken.


"Iya, panggilkan dia Kak. Hari ini harus meyakinkan. Sabil siap-siap ya kamu jangan keceplosan." Sabil yang sudah dari tadi duduk di ruangan hanya mengangguk mengeluarkan senyumannya.


Adnan pusing dengan tingkah gila adiknya. Kenapa tidak katakan cinta saja, kenapa harus serepot ini.


Elvina dengan lemas memasuki ruangan. Dia malas berdebat pagi ini, tubuhnya sedang lelah.


Ken sebenarnya tidak tega membentak gadisnya yang terlihat sangat lesu hari ini.


"Enak-enakan tidur kamu bilang. Kamu pikir aku tidak kerja di sini, hah." Elvina yang tadinya ingin diam akhirnya terpancing emosi hanya dengan satu pernyataan yang dikeluarkan Ken.


"Mana buktinya kalau kamu kerja."


"Astaghfirullah, menghadapi manusia seperti kamu ini sama aja bicara sama batu." Elvina berdiri melangkahkan kakinya ingin keluar ruangan.


"Jangan keluar, kembali duduk Elvina Mufida Ilman aku masih belum selesai."


Elvina membalikkan badan mengarahkan telunjuknya pada Ken.


"Apalagi yang kamu mau dariku, andai kamu terima pengunduran diriku waktu itu kamu tidak akan kecewa dengan kurang cepatnya progres proyek di sini." Teriak Elvina lantang, dia sudah muak dengan tingkah Ken yang semena-mena.


"Kamu memang tidak pernah bisa menghargai usaha orang lain dan tidak akan pernah bisa. Siang malam aku mengerjakannya selama dua setengah bulan di sini, kamu masih belum bisa melihat hasilnya." Elvina menatap tajam lawan bicaranya, tanpa gentar sedikitpun.


Ken bukan tidak menghargai, malahan dia sangat kagum kerja keras Elvina. Dia sudah berjanji hari ini terakhir bersikap seperti ini.


"Sabil, tolong antar aku ke bandara hari ini dan nanti berikan surat pengunduran diriku ke Pak Nazar. Akan aku email segera."


Ken yang mendengar Elvina mengungkapkan kemarahannya terdiam dalam hening. Pancingannya memang berhasil, namun hatinya sakit melihat orang yang sangat disayanginya terluka karena kata-katanya.


Elvina berlari menuju kamar merasakan sakitnya penghinaan yang diucapkan Ken.


"Papa tau semua ini aku lakukan buat Papa. Tapi lelaki itu tidak pernah bisa melihat usahaku Pa. Maafin aku ya Pa sudah mengecewakan Papa."


"Sabil, kamu jangan keluar dari sini. Tidak ada yang boleh pulang sebelum tugas kita selesai di sini...!"


Elvina masih mendengar suara Ken yang berteriak menahan Sabil untuk mengejarnya.


"Ken, sungguh kamu sedang dalam bahaya sekarang. Setelah hari ini aku tidak tau Nana mau memaafkanmu atau tidak."


"Bantu tenangkan dia Kak, jangan biarkan dia menangis." Mohon Ken


"Aku bingung dengan isi kepalamu Ken, kamu tidak ingin melihatnya menangis tapi kamu yang membuatnya menangis." Sabil menambahkan, Adnan sudah berlari keluar ruangan menuju kamar Elvina.


"Kamu tidak akan paham Bil, jika aku bersikap lembut dengannya aku takut tidak dapat menahan diriku untuk menyentuhnya."


"Kamu bisa menikahinya Ken, ini adalah cara terbodoh untuk menghilangkan ketakutanmu. Minum dulu tenangkan dirimu. Kamu menyiksa diri sendiri."


Air mata Elvina itu membakar jiwa Ken. Namun dia tak berdaya melihat senyuman manis itu. Elvina melemahkan jiwanya. Membuat Ken kecanduan.