
Elvina rasanya ingin menjedotkan kepala ke tembok saking senangnya. Dia tidak sedang bermimpikan, Ken mengajaknya menikah.
Tentu saja Elvina langsung mengiyakan. Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Elvina tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.
Keesokan harinya Elvina dikejutkan dengan kedatangan keluarga Nazar yang resmi melamarnya. Apa secepat ini? Sungguh dia seperti sedang berada di alam mimpi.
Erland menerima lamaran itu seperti keinginan Elvina. Dia berharap keponakannya bisa mendapatkan kebahagian yang selama ini terenggut.
Setelah peristiwa malam itu, hanya dua minggu untuk persiapan, pernikahan mereka digelar. Elvina tidak ingin terlalu banyak undangan, mereka hanya mengundang kerabat dekat dan rekan bisnis saja Nazar dan Erland saja.
Entah apa yang terjadi dengan kepala Ken, Elvina tidak tau. Kadang rasa takut itu hadir, tapi Kila meyakinkan untuk dia terus berjuang mendampingi suaminya.
Ken memang menikahinya, tapi lelaki itu kadang masih bersikap dingin. Perubahan emosinya juga tak menentu.
"Tidur, capekkan?" Elvina menangguk atas pertanyaan Ken. Ini mimpi, sekarang dia satu kamar dengan lelaki yang sangat dia cintai itu.
"Sini," lelaki itu menepuk bantal Elvina. "Apa gak bisa tidur karena gak ada bonekanya?" Mereka sedang berada di kamar hotel. Jangan berharap terjadi sesuatu. Ken menikahi Elvina karena dia ingin lebih mudah mengembalikan ingatannya tentang El.
"Iya," cicit Elvina. Lelaki itu hanya tersenyum tipis. "Sekarang peluk aku," katanya. Elvina menurut saja membaringkan badan di sana dalam dekapan Ken.
"Parfum kamu sama kayak yang ada di boneka, bikin tenang." Ujar Ken seraya mengusap kepala Elvina, "bantu aku sampai ingat kamu ya."
"Iya pasti, aku gak mimpikan jadi istri kamu sekarang?" Tanya Elvina lirih.
"Enggak, yang meluk kamu sekarang ini nyata, El."
"Makasih, sudah mau berjuang melawan diri kamu untuk menikahi aku, Ken."
"Aku tau kamu itu beneran Elvina Mufida Ilman-ku setelah ijab kabul. Tapi kenapa aku ngerasa kamu itu masih beda dengan El-ku." Ujar Ken, dia kehilangan deguban jantung saat bersama gadis itu, tidak seperti dulu.
"Mungkin karena kita tidak sering berinteraksi. Kita bertemu bahkan belum sampai satu tahun Ken."
"Aku harap dengan kita menikah, aku bisa lebih cepat sembuh dan kamu juga tetap baik-baik saja. Kalau nanti aku gak bisa mengendalikan diriku sendiri. Tolong kamu jangan berniat pergi, aku akan berjuang untuk mengingat kamu kembali. Kalaupun gagal, aku akan berusaha mengingat semua tentang kita setelah ini. Tidak ada alasan untuk aku ragu kalau kamu itu memang El yang aku cintai."
"Makasih Ken." Elvina sangat terharu, Ken mau belajar menerimanya kembali.
"Ayo tidur, apa mau olahraga dulu, hm?" Goda Ken, Elvina mendelik mengangkat wajahnya lalu menggeleng pelan.
Dua orang penganten baru itu tertidur dengan nyenyak malam ini. Elvina merasakan susah bergerak seperti ada yang mengikat perutnya. Di mesjid sudah terdengar suara qiroah, perlahan gadis itu membuka matanya.
Saat kesadarannya penuh dia menyadari Ken masih memeluknya dengan erat. Dengan pelan Elvina mengangkat tangan kekar itu, tapi tak kuasa karena pelukannya semakin erat.
"Sudah bangun, Sayang?" Elvina mengerjap lambat dipanggil Ken seperti itu. "I-iya, tangannya pindahin dulu. Udah mau subuh." Katanya seperti orang baru sadar dari koma, Elvina jadi linglung.
"Hm," Ken menggeleng masih dengan mata terpejam, lalu mencuri satu kecupan di pipi.
"Eh," kembali Elvina mengerjap kaget.
"Kenapa?" Ken membuka mata menaik turunkan alis menggoda gadis yang terlihat sangat menggemaskan itu ketika bangun tidur. "Mau ditambah lagi, hm."
"Udah azan subuh, Ken."
"Ayo kita mandi bareng, lalu sholat bareng."
"Eh," lagi-lagi Elvina seperti orang linglung, "aku mau mandi sendiri aja, lepasin dulu." Tolaknya.
"Enggak." Ujar Ken menarik pinggang Elvina semakin mendekat. "Panggil sayang dulu dan kasih morning kiss," godanya.
"Ken nanti kesiangan sholat subuhnya." Rengek Elvina, Ken bergeming kembali menutup mata.
"Sayang." Ujarnya dengan sangat terpaksa.
"Kiss-nya belum sampai nih."
Cup. Elvina memberikan satu kecupan di pipi.
"Belum berasa."
Elvina mendengus kesal, mendekati wajah lelaki yang baru berubah status menjadi suaminya. Napas mereka beradu karena jarak yang sangat dekat. Jantung Elvina sudah melompat-lompat girang.
"Argh," sedetik kemudian Ken menggerang kesakitan karena Elvina menggigit hidungnya. Gadis itu segera melompat dari kasur ketika Ken membelai hidungnya yang jadi korban keganasan pengantin baru.
"Awas El, aku makan kamu habis ini," pekiknya kesal. Si empunya tertawa gelak masuk kamar mandi.