
"Tidak dibalas, padahal sudah di read." Adu Elvina dengan cemberut. Padahal setelah dia mengirim pesan, contreng abu itu langsung berubah warna. Tapi kenapa tidak di balas, padahal sudah satu jam lebih.
"Sabar, mungkin lagi sibuk." Raga menenangkan, ternyata perempuan kalau menunggu balasan chat sampai uring-uringan begitu, batinnya.
"Aku khawatir, takut dia berubah pikiran dan memutuskan untuk pergi." Ucapnya dengan resah, hatinya jadi gelisah karena menunggu balasan pesan dari Ken.
Raga menggeleng tak percaya, kenapa sih perempuan itu sangat suka dengan yang namanya overthinking. Padahal bisa saja si pihak lelaki sedang sibuk, main game atau paling parah ketiduran. Bukan niat mengabaikan, tapi memang alaminya lelaki begitu, dia salah satunya.
"Overthinking berlebihan tidak baik."
Elvina menggembungkan pipinya sembari menimang-nimang ponsel di tangannya. Belum sempat menjawab perkataan Raga, ponsel di tangannya berdering nyaring. Panggilan dari Adnan, Elvina mengernyit. Ngapain penganten baru itu menelponnya malam-malam.
Seketika tubuh Elvina merasakan lemas setelah menutup panggilan dari Adnan.
"Ada apa?" Raga melihat perubahan wajah yang tadi cemas itu jadi memucat.
"Ken kecelakaan." Lirihnya dengan air mata yang sudah menggantung, sekali kedip siap membanjiri pipinya.
"Dimana dia sekarang? Rumah sakit?" Elvina mengangguk, "kita susul, kamu pamit sama Mama dulu."
Raga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak ingin menambah masalah dengan membuat penumpangnya dalam bahaya.
Sejak keluar rumah gadis itu terus menangis. Sebesar itu Elvina mencintai Ken. Raga hanya bisa menenangkan.
Sesampainya di depan ruang operasi Adnan memberikan sebuket mawar merah yang penuh noda darah dan cincin yang pagi tadi Elvina kembalikan.
Air matanya tak berhenti mengalir penuh sesal. Separah apa Ken sampai berakhir di ruang operasi. Kakinya sudah tidak mampu lagi untuk menopang beban tubuhnya.
"Aku mencintai Ken, Kak." Lirih Elvina di tengah tangisnya.
"Aku tau kamu sangat mencintainya Na, kamu tenang ya." Adnan membawa gadis itu duduk di kursi tunggu.
Raga hanya memperhatikan interaksi dua orang itu. Dia tidak tau, ada berapa lelaki lagi sebenarnya yang sangat mencintai Elvina. Pancaran dari tatapan mata tidak pernah bisa dibohongi.
"Nana!" Pekik Erfan yang datang dengan berlari. Lelaki itu menempelkan lututnya di lantai, menatap wajah Elvina dari dekat. Piyama tidur yang dilapisi sweater itu terkena noda darah.
Bukan tidak mengkhawatirkan keadaan Ken, tapi Erfan lebih khawatir dengan kondisi Elvina. Gadis itu psikisnya bisa terguncang lagi.
"Ken akan baik-baik saja, air matanya nanti kering." Erfan menyeka air mata Elvina dengan sapu tangan, "bunganya cantik, secantik kamu." Pujinya melihat sebuket bunga mawar yang dipangku gadis itu.
"Bunga ini cantik tapi sudah bikin Ken celaka, seperti aku yang selalu membuat Ken terluka." Kalimat yang diucapkan gadis itu mampu menghujam jantung pendengarnya.
Tidak sanggup hanya menyaksikan, akhirnya Attisya mendekat memeluk Elvina. Erfan beralih duduk ke samping kiri gadis itu.
"Semua sudah ketentuan Allah, jangan menyalahkan diri sendiri Na."
"Aku jahat Kak Sya, aku yang bikin Ken kecelakaan. Aku yang udah bikin dia berkali-kali terluka. Aku yang selalu menyakiti perasaannya."
"Nana, lihat Kakak." Attisya menangkup kedua pipi Elvina menghadap ke arahnya. "Bukan kamu yang salah, takdir yang memang membuatnya seperti itu. Apa kalau kamu menyalahkan diri sendiri Ken bisa langsung bangun dan berdiri di sini? Enggak Na, nggak akan ada gunanya kamu menyakiti diri sendiri dengan dipenuhi rasa bersalah."
Elvina bergeming, air matanya tidak bisa diberhentikan. Hujan deras itu mengguyur jiwanya.
Kalau bisa air mata itu ingin dia gunakan untuk membasuh mawar yang penuh noda itu. Elvina membuka kotak cincin lalu memasangnya di jari manis. Dia ingin ketika Ken bangun langsung melihat itu.