EL & KEN

EL & KEN
196



Rumah sudah ramai saat mereka menginjakkan kaki ke kediaman Nazar. Ken tidak pernah disambut seperti ini. Dengan adanya Elvina, semua orang menyambutnya. Zayid, Kila, Erland dan Inara juga hadir di sana.


"Mama!" Elvina menghambur kepelukan Kila kemudian Ulfa, bergantian menyalami semua orang yang ada di sana. Terakhir mendekati Attisya yang sedang menggendong bayi perempuan mungil. Elvina mencubit pipi gemoy itu namun tangannya tak bisa menyentuh sudah lebih dulu ditahan Adnan.


"Kakak, aku cuma mau megang." Ujar Elvina merengek manja.


"Kamu habis perjalanan jauh, mandi dulu!" Tegas Adnan dengan mata melotot pada Elvina.


"Kakak, jangan bentak El." Ken membela istrinya, "ayo Sayang mandi dulu biar bisa meluk dedek ya." Bujuk Ken, Elvina menggeleng dengan mata berkaca-kaca.


"Mandinya sebentar aja, kasian dedek kalau sakit. Gak lama kok mandinya, biar seger juga jadi bisa main lama." Ken menggiring Elvina ke kamar.


Adnan tertawa kecil melihat adik iparnya yang merajuk. Ken memperlakukannya sangat manis. Tidak terlihat lagi Ken yang dipenuhi emosi dan kasar.


"Abang, ayo cepat mandinya." Elvina berdiri di depan cermin seraya menyisir rambut, menunggu suaminya selesai mandi. "Abaang!"


"Iya-iya, Cinta." Ken keluar kamar mandi dengan celana jeans di bawah lutut dan kaos putih polos. Elvina menarik-narik tangannya mengajak keluar.


"El, serius mau keluar seperti ini." Ken memutar tubuh Elvina yang berdiri di depannya.


"Abang, ada yang salah?" Tanya Elvina terbengong-bengong.


"Sayang lupa ya, kita tidak hanya berdua di rumah, pakai pakaian yang rapi."


"Ini sudah rapi, Abang." Elvina menatap heran, Ken menggelengkan kepala. Beranjak ke lemari mengambil jilbab instan lalu memasangkan ke kepala Elvina.


"Begini, di rumah ada kak Adnan. Tutupi auratmu." Elvina menepuk jidadnya karena lupa di rumah ada kakak iparnya. Ken meletakkan handuk lalu menarik tangan Elvina keluar.


"Maaf, ayo Sayang." Dirangkulnya perempuan yang kadang sangat sensitif itu.


Elvina merebut baby girl yang bernama Nasya itu kepelukannya. Menciuminya lembut dengan mata berkaca-kaca. Ken duduk berjongkok di depan istrinya yang duduk di sofa. Menatap manik mata yang mulai berembun.


"Boleh aku membawanya ke kamar." Izin Ken pada sang kakak yang mengangguk menyetujui.


"Ayo Sayang, kita bawa dedeknya ke kamar." Ken mengekori istrinya ke kamar, berdiri di depan pintu menatap Elvina yang berbaring di samping baby Nasya dengan wajah berbinar-binar. Syukurlah bayi mungil itu tidak rewel dengan orang baru.


Adnan menepuk pundaknya dari belakang. "Sabar, belum Allah kasih. Biar dia mengobati kerinduannya dengan menjaga Nasya."


"Asik bener nonton apaan?"


Ken dan Adnan menoleh ke sumber suara.


"Erfan!" Ken memeluk sahabatnya, tapi dapat omelan dari sang istri.


"Abang, jangan berteriak nanti anakku bangun!" Peringat Elvina dengan suara pelan.


Erfan dan Adnan saling pandang kemudian tertawa geli, Ken mendekati istrinya. "Maaf Sayang, Abang kelepasan." Katanya mencium bayi mungil itu tapi dihalangi Elvina.


"Abang, jangan dibangunin kalau nangis aku gak punya ASI-nya. Nanti diambil kak Sya."


"Kalau nangis nanti kita kasih ummi-nya ya biar dikasih Asi dulu." Ken menarik istrinya dalam pelukan. "Kamu istirahat, biar Abang yang jagain Nasya."


Elvina pasti kelelahan setelah perjalanan jauh. Perempuan itu menurut, Ken menyelimuti. Menemani istrinya sampai tertidur baru bergabung ke ruang keluarga. Dia belum sempat menyapa semuanya, karena Elvina sibuk menginginkan baby Nasya.