EL & KEN

EL & KEN
14



Mereka berempat sudah sampai lokasi. Masing-masing menatap pembangunan gedung bertingkat yang masih belum selesai.


Elvina menyapa beberapa karyawan yang sedang bekerja. Tak lupa dia menyunggingkan senyumannya. Gadis itu seperti tak lelah berkeliling bersama Sabil. Dengan alat pelindung diri lengkap, helm putih, safety soes dan rompi safety scotlight berwarna orange.


Dia mengobrol banyak dengan pengawas yang ada di sana. Menanyakan progres pembangunan juga kendala di lapangan.


Para karyawan yang bekerja di sana sudah harus mematuhi Standar Operasional Prosedur yang berlaku. Mereka juga sudah mendapatkan pelatihan “Bekerja di Ketinggian” untuk mengenali potensi cedera serius saat bekerja di ketinggian dan menentukan metode yang aman untuk meminimalkan risiko.


Andai Elvina boleh naik ke atas gedung bertingkat itu pasti sangat menyenangkan bisa menenangkan diri di atas sana.


"Pengen naik ke atas sana Bil."


"Mana boleh!" Desis Sabil, "kamu gak punya izin bekerja di ketinggian Nana." Sabil memutar bola mata malas, gadis di sampingnya ini berlagak polos tidak tau SOP. Elvina terkekeh menanggapi celotehan Sabil. Dia kembali berkeliling menyapa pengawas yang lain.


Adnan dan Ken hanya mengawasi Sabil dan Elvina yang berkeliling di area pembangunan.


"Bagaimana Na?"


Elvina meringis mendengar pertanyaan Sabil. Temannya ini tidak mengerti apa, kalau dia juga pusing dengan tugas dadakan ini. Tapi setelahnya dia menjawab dengan kekehan. "Kita tinggal melanjutkan pekerjaan Pak Jamal dan mengawasikan Sabil. Ya tinggal jalankan."


"Ya, kita tinggal jalankan walau harus kerja keras mempelajarinya." Sahut Sabil dengan ******* berat.


"Kita dibayar memang untuk itu, Sabil. Menyelesaikan yang belum selesai. Merapikan yang kacau. Membuat konsep sesuai keinginan klien. Yah, nurut ajalah." Ujar Elvina lalu mencari tempat untuk duduk. Dia mengeluarkan kertas dan pulpen.


"Istirahat Na." Panggil Adnan, entah dua orang lelaki itu tadi dari mana. Elvina baru melihatnya sekarang. Adnan memberikan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya. "Minum dulu."


Sejak berangkat tadi Elvina belum mendengar Ken bersuara, ada apa dengan lelaki itu. Manusia itu bisa diam juga ternyata.


Sampai di kantor Elvina meluruskan kakinya. Mereka harus segera ke kantor kembali karena siang ini ada meeting.


"Capek Na?" Adnan melemparkan tissue pada gadis yang berselonjor di sofa itu. Wajahnya memerah karena berjemur di bawah sinar matahari.


"Manja!" Celetuk Ken yang baru masuk ruangan, lelaki itu mengambil tempat duduk di kursinya sendiri.


"Bau keringat aja, Kak." Sahut Elvina tanpa mempedulikan Ken, baru berjemur setengah hari badannya sudah lengket.


"Mandi dulu sana, masih sempat sebelum meeting," saran Adnan.


"Gak usah terlalu dimanjakan deh Kak," sergah Ken. Adnan geleng-geleng kepala dengan tingkah adiknya itu. Katanya sayang tapi bisa sesadis itu pada perempuan.


Elvina memilih menutup mata mengabaikan dua orang itu. Biarlah, matanya mengantuk. Bisa tidur lima belas menit lumayankan.


Suasana ruangan sunyi saat Elvina membuka mata. Dia melirik jam di tangannya lalu terpekik keras. Meeting sudah berjalan setengah jam yang lalu. Ya Allah, pasti kena omel Ken dia kali ini. Kenapa juga Kak Adnan dan Sabil tidak membangunkannya.


Dengan memasang tampang tanpa dosa Elvina ikut bergabung di ruang meeting. Mengabaikan tatapan tajam Ken padanya. Habislah dia setelah ini.