
Ken menatap pilu cincin yang melingkar di jari manisnya. Dia tidak meminta untuk hilang ingatan seperti ini. Berharap orang lain mengerti akan dirinya sulit sekali, yang bisa Ken lakukan memengerti perasaan orang lain.
Jangankan izin untuk membawa Elvina ke Kairo, izin untuk tinggal bersama istrinya saja sulit. Sedang dia harus segera menyelesaikan kuliahnya. Tidak ada pilihankah untuk hidupnya ini, Ken memutar-mutar cincin di jari manisnya.
"Kalau dengan bercerita bisa melegakan, kenapa tidak dicoba?" Raga menepuk kedua bahu Ken.
"Masih di sini?" Ken menatap lelaki yang ikut duduk di sampingnya. Raga sengaja datang menghadiri pernikahannya dari Jogja.
"Iya, bagaimana keadaan Nana?"
"Sedikit lebih baik, mungkin." Jawab Ken ragu, dia tidak tau apakah istrinya itu benar-benar baik atau hanya pura-pura baik.
"Sudah ketemu psikiater?"
Ken menggeleng, "belum sempat, rencananya begitu. Dua minggu ini sibuk mengurus pernikahan." Dia memang sudah berniat pergi berobat tapi waktunya belum tepat.
"Kalau sekali lagi gue nyakitin El, Om Erland bakal ngambil dia dari gue Ga. Gue takut kehilangan El lagi." Lirih Ken dengan wajah yang tertunduk, dia benar-benar takut kehilangan Elvina.
"Om Er gak bisa rebut Nana dari kamu Ken. Seorang istri itu milik suaminya. Om Er hanya menggertakmu, dia ingin kamu tidak menyakiti keponakannya lagi."
"Gue takut gak bisa memperlakukan El dengan baik saat gak bisa ngendaliin diri Ga."
"Kamu bisa, sekarang cari dokter yang bisa membantumu. Jangan takutkan yang belum terjadi. Nana butuh kamu dan kamu butuh Nana. Kalian saling membutuhkan." Nasehat Raga, dia berbesar hati melepaskan Elvina. Walau dia sakit melihat gadis itu diperlakukan Ken dengan kasar. Tapi dia tidak bisa menyalahkan Ken, Raga mengerti kegundahan lelaki itu.
"Mereka gak ada yang mau mengerti gue Ga, mereka gak mau ngerti kalau gue juga sakit begini."
"Tapi Nana mau mengerti kamu Ken, dia mau membantu kamu buat sembuh. Apa Nana menyalahkan kamu?" Tanya Raga pelan, dia menatap lekat wajah lelaki yang terlihat sendu itu.
Ken menggeleng lemah, "dia gak mau dijauhkan dari gue, Ga."
"Ya udah kalau gitu kamu berjuang untuk sembuh. Dia aja mau bertahan di sampingmu, terlepas bagaimana perlakuanmu padanya."
Ken menarik napas lega, "terimakasih Ga."
"Aku gak ngapa-ngapain." Ujar Raga sambil tersenyum, lalu meninggalkan lelaki itu. Dia tidak sengaja bertemu Erland tadi, dan mendapat kabar Elvina masuk rumah sakit. Makanya Raga sekarang ada di sini, hanya ingin memastikan gadisnya itu baik-baik saja.
Ken kembali ke ruang rawat Elvina setelah hatinya lebih baik. Mama mertuanya sedang menemani sang istri.
"Sudah makan, Sayang?" Tanya Ken lembut berdiri di samping mertuanya.
"Nana gak mau makan kalau kamu gak nyuapin katanya." Ken tersenyum kecil mendengar ucapan Kila. Setelahnya perempuan paruh baya itu beralih dari sana.
"Ayo, aku suapi makannya." Ujar Ken mengambil sarapan di atas nakas.
"Sudah lebih tenang?" Elvina menyisir rambut suaminya dengan jemari.
"Sudah, tadi ketemu Raga di taman." Jawab Ken sembari menyuapi istrinya.
"Ngapain dia di sini?"
"Lupa nanya, eh. Dia langsung pergi gitu aja tadi gak bilang mau kemana." Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tadi itu beneran Raga kan. Apa dia salah orang. Atau Ken sedang berhalusinasi.
"Kenapa?" Tanya Elvina bingung, suaminya seperti orang linglung.
"Tadi beneran Raga atau bukan ya?" Katanya tidak yakin.
"Udah gak usah dipikirin, nanti bikin kepala kamu sakit." Elvina kembali mengusap kepala suaminya.
"Nyaman kalau di elus gitu." Katanya lugu, Elvina tersenyum. Suaminya seperti anak kecil. "Kamu makan juga," ujarnya pada Ken.
"Gak mau nyuapin aku?" Tanya Ken, Elvina terkekeh geli, mengambil sendok lalu menyuapi suaminya. "Makasih," katanya.
Perempuan itu mengernyitkan alis, ada apa dengan suaminya yang berubah menjadi manis seperti ini. Kalau dulu sebelum Ken amnesia bersikap manis dia sudah tidak heran lagi.
***
hai-hai makasih yang udah mampir di sini. Kalian udah baca story sebelah AJARI AKU MENCINTAIMU
kalau belum, mampir yuk ๐