EL & KEN

EL & KEN
18



Elvina tersenyum mengejek, Ken memujinya cantik, sungguh sangat aneh. Tidak mungkin sekarang Ken menyukainya 'kan. Karena terpesona melihatnya tertidur malam itu. Sungguh sangat mustahil.


"Jangan sok kegantengan deh." Elvina memutar bola mata kesal, mengalihkan pandangannya pada Adnan.


"Nana, sudah jangan hiraukan Ken, makanlah yang banyak." Adnan memperhatikan Elvina yang sesekali melirik pada Ken.


"Aku sudah kenyang." Ujar Elvina, dia terlanjur hilang mood karena Ken.


"Sini aku suapin."


Adnan menghentikan makannya, mengambil piring Elvina dan menyuapi gadis itu. Ken masih tidak berkedip menatap Elvina. Kakaknya bisa gercep begitu, sengaja memancingnya agar cemburu.


"Ken makanlah yang benar, jangan terus menatap Nana seperti mau memangsanya begitu." Tegur Adnan, Ken melotot pada kakak tersayangnya itu. Sialan dia kepegok.


Sabil yang setiap hari mengamati keributan tiga orang itu hanya tertawa. Berasa menonton drama cinta segitiga.


"Kenapa kamu mentertawakanku Sabil? Karena Kak Adnan terus membela perempuan ini." Ujar Ken tidak terima dipojokkan begini, menghancurkan harga dirinya saja.


"Apa kamu cemburu Ken?" Sabil malah melontarkan pertanyaan yang tidak diinginkan Ken.


"Dia sangat cemburu Sabil, karena Nana lebih menyayangiku." Goda Adnan, wajah ken sudah cemberut masam.


Lagi-lagi Ken dibuat Adnan tidak bisa berkutik. Kakaknya itu sungguh sangat kejam.


"Jangan terlalu benci, nanti jadi cinta Ken." Sabil menambahkan penegasannya membuat Ken semakin kikuk.


Sebelum hari ini juga Ken sudah mencintai Elvina, Sabil saja yang tidak tau. Bertahun-tahun Ken menikmati cinta dalam diamnya.


"Tidak perlu bingung Na, Ken itu sangat perhatian padamu hanya tidak menunjukkannya saja." Ujar Adnan yang mengerti dengan kebingungan gadisnya.


Sekali lagi Adnan berhasil membuat Ken tak berkutik di depan Elvina. Lelaki itu tersenyum miring melihat adiknya kesal. Dia ingin membuat Ken mengakhiri semua dramanya.


"Sudah kak, kenyang." Elvina sudah kehilangan nafsu makannya setelah mendengar ucapan Adnan.


Apa benar Ken selalu memperhatikannya, tapi kenapa Ken selama ini selalu berkata kasar padanya. Apa jangan-jangan orang yang berbisik malam itu Ken. Tidak, itu tidak mungkin. Ken tidak mungkin bilang mencintainya.


"Belum, habiskan dulu. Biasanya papa menyuapimu kan?" Bujuk Adnan, Elvina mengangguk meneruskan makannya.


Ken iri melihat kakaknya bisa sedekat itu dengan Elvina. Gadisnya itu sangat manja. Ken juga ingin memperhatikan Elvina dari dekat. Sesekali Ken masih melirik Elvina.


"Apa tadi malam mimpi papa lagi?" tanya Adnan, dia sampai malam duduk di depan kamar untuk memastikan Elvina baik-baik saja.


"Tidak Kak, hanya suara orang yang mengaku pemilik boneka itu terus terngiang dikepalaku."


"Coba tanya Ken, siapa tau dia yang memberikan boneka itu." Ujar Sabil asal nyeplos, dia sangat bahagia melihat wajah Ken yang memerah.


"Bicara jangan asal Sabil." Ken gelagapan, takut rahasianya terbongkar hari ini.


"Kak, apa dia mendekatiku malam itu?" Elvina menatap Adnan dan mengarahkan telunjuknya pada Ken.


Jantung Ken berdetak kencang mendengar pertanyaan Elvina. Belum siap jika rahasianya terbongkar hari ini.


Adnan tertawa melihat reaksi wajah Ken yang panik. Ken, Ken kenapa tidak bisa menyembunyikan wajahmu yang begitu lemah itu.