EL & KEN

EL & KEN
63



Ken masuk ke kamar Elvina setelah minta izin pada Kila. Gadis itu sedang sibuk memasukkan pakaian ke koper.


"Mau kabur kemana El?" Tanya Ken dengan suara lembut dan senyuman manis. Elvina menoleh ke arah pintu dan terpekik kaget. Orang yang sangat dia rindukan ada di hadapannya sekarang.


"Ken kamu sembarang masuk kamarku." Omel Elvina lalu menyambar jilbab instan. "Kalau aku lagi gak pake baju gimana." Kesalnya, Ken terkekeh geli lalu mendekati gadis itu. Dia duduk di ujung tempat tidur.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku?"


"Aku tidak sedang ujian, Ken. Jadi tidak perlu menjawab pertanyaanmu." Jawab Elvina ketus lalu menutup kopernya, gadis itu duduk di sofa.


"Aku bawakan hadiah spesial untukmu." Ken mendekati gadis itu lalu mengeluarkan kotak bludru berwarna biru dari saku jaketnya.


"Aku tidak butuh itu Ken." Elvina melirik Ken yang mengeluarkan cincin berlian dari kotak bludru itu.


"Coba lihat dulu, ini hadiah seperti kalung yang kuberikan itu." Bujuk Ken menunjukkan cincin yang terukir nama kecil EL-KEN di sana. "Aku pasangkan ya." Lelaki itu meraih jemari Elvina lalu memasangkan di jari manisnya. "Pas dan cantik seperti orangnya," komentarnya.


Elvina bergeming, tak berniat menarik jemarinya juga. Jantungnya sudah bekerja lebih cepat dari sebelumnya.


"Maaf aku meninggalkanmu, maaf aku tidak memperjuangkanmu El. Maaf aku terlalu sering menyakitimu." Ken menggenggam jemari-jemari lentik itu dan menciumnya lembut. Elvina seperti tersengat aliran listrik namun enggan menarik tangannya. Izinkan dia merasakan genggaman lelaki itu terakhir kali sebelum pergi. Allah, maafkan Elvina yang kotor ini.


"Maaf aku tidak selalu ada di sinimu. Aku rindu kamu El. Aku akan tetap bertahan di sini seberapa seringpun kamu menolakku. Aku akan tetap mencarimu walau kamu ingin pergi dariku." Setetes cairan bening membasahi punggung tangan Elvina. Lelaki itu menangis, Elvina nenghela napas panjang. Lalu menarik tangannya yang masih dalam genggaman Ken.


"Jangan menangis, Ken." Elvina mengangkup kedua pipi Ken, menyeka air mata yang terjatuh. "Kamu jelek kalau menangis." Ucapnya dengan tersenyum.


Elvina menggeleng pelan. "Maaf aku tidak bisa Ken, kamu harus tetap menikah dengan Aish." Jika ingin egois, Elvina akan menerima Ken. Tapi bagaimana dengan kakaknya, dia tidak bisa menyakiti Aish.


"Aku mencintaimu El." Ken menahan tangan Elvina di pipinya. "Aku sangat mencintaimu."


"Aish juga mencintaimu, Ken." Sahut Elvina dengan tersenyum lalu menarik tangannya. Dia tidak boleh lemah dan baper di depan Ken.


"Aku tidak mencintai Aish, aku menginginkanmu." Tegas Ken sekali lagi.


"Aish akan menjadi istri yang baik untukmu. Dia akan membuatmu jatuh cinta padanya." Lagi-lagi Elvina menyunggingkan senyumannya, mengabaikan luka yang membuat dadanya sesak.


"Aku tidak akan menikah dengan Aish. Aku akan tetap memperjuangkanmu. Seribu kali kamu menolak untuk menerimaku, aku tetap akan bertahan."


Elvina mendesah berat, Ken sama keras kepala dengannya.


"Terserah kamu Ken, kamu mau menikah atau tidak itu bukan hak aku untuk memaksamu. Tapi aku tidak akan menikah denganmu." Tegas Elvina lalu menyunggingkan senyumannya.


"Sekeras itukah hatimu El, tidak bisakah kamu melihat cinta yang kuberikan untukmu." Ucap Ken sendu, Elvina bisa melihat cinta itu. Meskipun memiliki perasaan yang sama tapi dia tetap tidak bisa menikah dengan Ken, itu akan menyakiti Aish.


Sekali lagi Elvina menghela napas panjang untuk meredakan sesak di dadanya.


"Terimakasih sudah mencintaiku, Ken. Terimakasih sudah menyayangiku." Lirih Elvina dengan menunduk, dia sudah berusaha keras untuk tidak menumpahkan tangisnya sekarang. "Kamu pulang istirahat ya, pasti lelah setelah perjalan jauh." Gadis itu kembali mengangkat wajahnya setelah bisa menata hati dengan baik.